597. Tumbuh Bersama Angin

Penulis : Danasmoro Brahmantyo
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Indonesia sebagai negeri dengan populasi penduduk terbesar ke-5 di dunia memiliki potensi besar dalam penyedia energi dunia; baik energi yang berasal dari fosil ataupun Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun, tahukah kamu kalau energi yang berasal dari fosil seperti minyak bumi, gas alam serta batubara usianya tidak lama lagi. Menurut data yang disampaikan Kementerian Riset dan Teknologi pada artikel elektronik di tahun 2013, diperkirakan sumber cadangan minyak bumi di Indonesia akan habis dalam waktu 20 tahun ke depan. Sementara sumber energi yang berasal dari gas bumi diperkirakan akan bertahan sampai dengan 40 tahun lagi.

Energi dibutuhkan manusia untuk kehidupan sehari-hari, dimulai dari kebutuhan menyiapkan sarapan di pagi hari, berpindah dari tempat tinggal ke lokasi bekerja dengan menggunakan alat transportasi sampai melakukan pekerjaan menggunakan perangkat elektronik. Menurut data, pemakaian energi rata-rata di Indonesia diperuntukkan untuk sektor transportasi sebesar 40,6%, sektor industri sebesar 44,2%, sektor komersial sebesar 3,7%, dan sektor rumah tangga sebesar 11,4%. Energi berubah bentuk dan selalu memberikan manfaat bagi penggunanya; namun tak jarang energi tersebut digunakan tidak tepat guna padahal cadangan energi yang berasal dari fosil semakin menipis sementara ketergantungan penyedia energi kita terhadap energi yang berasal dari fosil tersebut masih sangat besar. Sudah saatnya Indonesia memacu inovasi dan bauran penyediaan energi nasional menggunakan EBT yang jauh lebih ramah lingkungan dan memberikan jaminan masa depan yang lebih baik.

image002
Princess Amalia Wind Farm di Laut Utara Belanda
(Gambar diambil dari wikipedia.com)

Membaca artikel tentang krisis energi dan usaha penyediaan energi alternatif, dorongan inovasi dan juga clean technology membawa saya kepada beberapa cerita adik saya yang sedang melanjutkan studi di negeri seribu kincir angin, Belanda. Sebagai salah satu negeri paling inovatif di kawasan Eropa, Netherlands atau dikenal sebagai Holland, telah memberikan berbagai best practice dalam teknologi sebagai respon terhadap kondisi geografis dan potensi alamnya. Beragam inovasi yang dihadirkan kerajaan berpenduduk sekitar 17 juta jiwa ini memberikan manfaat bagi secara langsung bagi rakyatnya dan juga menjadi inspirasi bagi dunia.

Kincir angin sebagai salah satu inovasi kebanggaan Belanda adalah bangunan yang identik dengan negeri yang memiliki 12 provinsi ini. Berawal dari pemanfaatannya dalam urusan pertanian, kincir angin menjelma menjadi sebuah inovasi penting dalam penyediaan EBT. Ribuan kincir angin raksasa di berbagai wilayah negeri empat musim ini telah menggerakkan turbin-turbin yang menghasilkan energi listrik ribuan megawatt yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan energi negara dengan GDP sekitar USD 818.249.000.000 ini.

Melalui lebih dari seribu kincir angin di berbagai ladang angin (wind farm), turbin angin di darat (onshore), mampu menghasilkan tenaga listrik sekitar 2.000 megawatt pada tahun 2009. Sementara itu, turbin angin lepas pantai (offshore) mampu menghasilkan tenaga listrik sekitar 250 megawatt. Kabarnya Belanda mentargetkan untuk menghasilkan energi listrik sebesar 6000 megawatt di tahun 2020 melalui kinerja kincir angin lepas pantainya (offshore). Yang menarik adalah, pemerintah mulai mengurangi subsidinya dalam mendukung kinerja pembangkit listrik tenaga angin; dan membuka peluang kepada sektor privat/swasta untuk mengerjakan proyek tersebut.

Saat ini pemerintah Belanda bekerjasama dengan berbagai sektor khususnya akademik mencoba menghadirkan inovasi dari kincir angin yang dikenal oleh generasi kita saat ini. Konsorsium inovasi penyedia EBT tersebut menghadirkan sebuah terobosan clean technology yang dikenal dengan EWICON (Electrostatic WInd Energy CONverter) alias teknologi konversi tenaga angin menjadi energi listrik. EWICON dikembangkan oleh konsorsium diantaranya adalah perguruan tinggi ternama di Belanda seperti Delft dan Wageningen University. Teknologi generasi baru yang dikembangkan oleh Johan Smit dari Delft University of Technology dan Dhiradi Djairam dari Wageningen University ini berbentuk sebuah konstruksi turbin angin dengan kerangka tabung baja yang mengubah energi angin menjadi listrik tanpa bagian yang bergerak mekanis seperti baling-baling atau kincir, selain itu EWICON juga beroperasi tanpa suara, dan bahkan tanpa bayangan.

image004
The Dutch Windwheel di Rotterdam
(Gambar diambil dari dutchwindwheel.com)

Saat ini konsorsium pengembang teknologi generasi baru tersebut berencana menghadirkan The Dutch Windwheel, sebuah konsep mahakarya yang merupakan perpaduan berbagai unsur teknologi, desain, lingkungan bahkan ekonomi. The Dutch Windwheel akan menjadi landmark/icon dari kota Rotterdam. Bayangkan sebuah smart building yang tidak hanya menghadirkan arsitektur megah dan menawan, namun juga memberikan kemandirian penyediaan energi dengan optimasi pemanfaatan sumber daya yang ada di ekosistemnya. Landmark kebanggaan negeri Belanda ini berupa konstruksi bangunan berbentuk cincin raksasa yang mampu mengkonversi energi dari berbagai sumber baik yang ditangkap dari alam bebas atau dihasilkan oleh bangunan itu sendiri. Tak hanya energi angin, The Dutch Windwheel di kota Rotterdam tersebut direncanakan akan memanfaatkan tenaga surya dengan mengintegrasikan panel PVT (Photovoltaic Thermal Hybrid Solar), tenaga biogas yang berasal dari pengolahan sampah organik hotel dan apartemen serta melakukan ‘panen’ air hujan untuk memenuhi kebutuhan airnya.

image006

image008
Teknologi Generasi Baru dalam The Dutch Windwheel
(Gambar diambil dari dutchwindwheel.com)

Bangunan terintegrasi ini menghadirkan atraksi yang menginspirasi. The Dutch Windwheel hadir dengan arsitektur futuristis, dilengkapi 72 kamar apartemen, 160 kamar hotel, puluhan restoran, serta berbagai anjungan dengan pemandangan menawan baik dari puncak maupun pemandangan dalam air (underwater).

Kembali ke negeri kita tercinta, Indonesia. Negeri jutaan pulau dengan ribuan kilometer pantai yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia kaya akan sumber daya, penuh potensi EBT yang sayangnya masih belum ditangani secara serius. Sebagai mitra strategis Republik Indonesia, inspirasi konversi energi angin dari Belanda semestinya bisa segera dieksekusi oleh pemerintah dalam tataran makro. Sebagai seorang tenaga pendidik di perguruan tinggi vokasi, saya selalu bersemangat untuk ikut jadi bagian dari inovasi-inovasi yang mengubah Indonesia!

Saat ini potensi angin di Indonesia mampu menghadirkan energi alternatif yang dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Energi listrik yang dihadirkan oleh turbin-turbin yang digerakkan oleh angin terbukti dapat diandalkan. Bayangkan saja, angin yang menjalankan turbin selalu gratis dan tidak terkena dampak harga bahan bakar fosil yang fluktuatif. Tenaga ini juga tidak butuh untuk ditambang, digali atau dipindahkan ke pembangkit listrik. Seiring meningkatnya harga bahan bakar fosil, nilai tenaga angin juga meningkat dan biaya keseluruhan pembangkit akan menurun. Selain itu, untuk membangun sebuah ladang angin ternyata dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu saja. Angin sebagai sumber daya melimpah di negeri kita dapat menjadi solusi percepatan pembangunan di berbagai wilayah di nusantara. Inovasi untuk kehidupan yang lebih baik.

Sumber:
1. ristek.go.id;
2. greenpeace.org;
3. wikipedia.com;
4. holland.com;
5. statline.cbs.nl;
6. bbc.co.uk;
7. dutchwindwheel.com;
8. zmescience.com.