600. PENANGANAN BANJIR ROB DI ROTTERDAM BELANDA

Penulis : Agus ardi sukertha
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Deretan daftar tentang kerusakan lingkungan seakan tiada henti merangkak, hingga angka sudah sangat sulit untuk diingat. Berbagai dampak negative semakin dirasa manusia, mulai dari gatal, sesak nafas, hingga banjir yang selalu menghadang ketika musim hujan serta kekeringan ketika kemarau tiba. Bahkan akhir-akhir ini menjadi berita hangat di berbagai media yaitu mencairnya es Kutub Utara akibat global warmning yang berimbas kepada semakin panasnya bumi ini.

Fenomena land subsidence(penurunan tanah) dan kenaikan muka air laut terjadi di kawasan Rotterdam Belanda kondisi tersebut dapat diketahui saat tidak terjadi hujan di beberapa wilayah pantai tergenang air laut pada saat air laut pasang. Masyarakat sering menyebut dengan rob. Semakin serius dan meningkat dari waktu ke waktu yaitu kerusakan infrastruktur,lingkungan kemacetan lalu lintas,banyak lahan tidak bisa lagi digunakan dan gangguan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

Pemanasan global diindikasikan merupakan penyebab kenaikan muka air laut ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga menghangat sehingga volumenya akan membesar dan menaikan tinggi permukaan laut (Arnould Molenaar,2008).

Perubahaan tinggi muka laut mempengaruhi kehidupan di daerah pantai dan dapat menenggelamkan beberapa daratan melalui muara, jaringan sungai dan drainase Penyebab lain terjadi banjir air pasang di Kota Semarang adalah penurunan tanah (land subsidence). Berdasarkan pengukuran dan analisis didapat penurunan tanah di daerah sekitar Pelabuhan Tanjung Emas rata-rata 6,5 cm per tahun (Wahyudi, 2003).

Kota Rotterdam merupakan kota terbesar di Belanda setelah Amsterdam, dengan surface (luas): 33.700 ha, inhabitants (jumlah penduduk): 730.000, municipalities (wilayah administrasi): 15, companies (perusahaan): 18.000, deepest point below sea level (elevasi darat terendah dari muka laut): -7 m NAP. Wilayah ini ada di tepi Sungai Rhine yang merupakan sungai besar lintas negara dimana hulunya melintas negara Swiss dan Jerman.

Elevasi muka tanah di Rotterdam jauh ada di bawah muka air laut (Sungai Rhine). Muka air Sungai Rhine dikendalikan +2,2 SWL (Sea Water Level). Sedangkan elevasi darat ditunjukkan dalam gambar 4. Berdasar gambar tersebut elevasi darat terendah mencapai -7 m SWL, sehingga selisih muka air laut dan darat 9,2 m. Air yang ada dalam polder area tidak dapat mengalir secara gravitasi, bahkan pada saat kondisi air laut surut. Untuk itu metode pembuangan air digunakan pompa saat ini. Pada masa lalu metode untuk membuang air dari darat ke sungai/laut menggunakan kincir angin (Helmer et al., 2009).

image001

image002
gambar: station pompa yang mengendalikan 2 Elevansi Catchment area yang berbeda (Arnould Molenaar)

Sistem Polder adalah suatu cara penanganan banjir dengan bangunan fisik, yang meliputi sistem drainase, kolam retensi, tanggul yang mengelilingi kawasan, serta pompa dan/pintu air, sebagai satu kesatuan pengelolaan tata air tak terpisahkan (Pusair, 2007). Pembangunan sistem polder tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan perlu direncanakan dan dilaksanakan secara terpadu, disesuaikan dengan rencana tata ruang wilayah dan tata air secara makro. Kombinasi kapasitas pompa dan kolam retensi harus mampu mengendalikan muka air pada suatu kawasan polder dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap sistem drainase secara makro. Kelengkapan sarana fisik untuk sistem polder antara lain: tanggul untuk isolasi dengan air laut, saluran air, kolam retensi (tampungan) dan pompa (Rosdianti, 2009).

Kelembagaan Pengelolaan
Kelembagaan pengelolaan air di Belanda memiliki kedudukan yang tinggi. Badan pengelola air (water board) memiliki kedudukan yang setara dengan municipality (Walikota) gambar mempresentasikan strata kedudukan dari pemerintah Kerajaaan Belanda, provinsi kota dan water board. Ketua dari badan tersebut diangkat oleh kerajaan sama dengan walikota

Badan pengelola air sudah ada sejak abad 13 dan dikenal organisasi demokratis tertua di belanda pada Tahun 1850 jumlah distrik ada 3500, tahun 1950 berkurang menjadi 2500 dan sekarang disederhanakan menjadi 27 distrik badan pengelola. Organisasi ini tujuan utamanya adalah Together fighting against the water(berjuang bersama melawan air) strutktur tugas dari badan pengelola air di Rotterdam adalah operasional dan pemeliharaan, peraturan perundangan dan penegakan hukum, pengawasan, menguji, persiapan menghadapi perubahan iklim dan perencanaan tata ruang serta pembayaran pajak air.

image005
Gambar Strata badan pengelola air di Kerajaan Belanda

Banjir Rob terjadi karena fenomena kenaikan muka air laut dan penurunan tanah di Rotterdam Belanda yang menggunakan model penaganan dipilih adalah sistem polder untuk mengisolasi aliran air laut dan mengendalikan elevansi air dengan pompa,saluran kolam,tanggul dan bendung atau pintu gerak,selain penangananya secara teknis juga sangat penting adalah kelembagaan pengelolaan utamanya pada tahap operasional dan pemeliharaan untuk itu Belanda sangat sukses dalam pengelolaan air dan patut dicontoh oleh Indonesia

Ucapan terimakasih kepada teman-teman saya yang memberikan semangat sehingga artikel ini dapat selesai besar harapan saya bisa berangkat ke Belanda ingin lebih mengenal lebih dekat tentang Belanda,Negeri yang terkenal dengan Kincir angin dan sukses dalam pengelolaan air laut salam hangat dari penulis.

Daftar Pustaka
Anne L Breton et Eric Beaudet. 2008. L’utilisation Des Terreaux En Horticulture Et La Rehabilitation Des Tourbieres. L’echo des Tourbieres, No 15.
Arnoud Molenaar. 2008. Rotterdam Waterplan Transition In Urban Water Management. Rotterdam: Public Works, Water Management Dept., March.
Rosdianti, Isma. 2009. ”Banjir dan Penerapan Sistem Polder.” (online) http:// www.bencanaalam.wordpress.com