624. KUNCI PENGEMBANGAN DUNIA SEPAKBOLA DI BELANDA

Penulis : Zainal Irwan
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Johan Cruyff, Marco Van Basten, Ruud Gullit, Robin Van Persie, Arjen Robben adalah sederet nama yang merupakan hasil pembinaan talenta muda Belanda. Dunia sepakbola sudah mengakui bahwa Belanda merupakan sentral pembinaan talenta muda sepakbola. Pembinaan yang dilakukan oleh Belanda tidak hanya melahirkan pemain andalan tim nasional Belanda, tetapi juga sukses menghasilkan pemain-pemain terbaik di dunia . Romario, Ronaldo, Zlatan Ibrahimovic serta Luis Suarez adalah sederet pemain papan atas dunia yang merupakan hasil dari pembinaan talenta muda di negara kincir angin tersebut.

Dengan banyaknya pemain yang sukses dihasilkan dari sistem pembinaan sejak dini , muncul sebuah pertanyaan , yaitu kenapa klub sepakbola dari Belanda sudah tidak ada yang bisa menjadi juara di kancah sepakbola Eropa seperti “Champions League” . Terakhir klub Belanda meraih juara di liga tertinggi kancah Eropa ini adalah pada tahun 1995, dimana Ajax Amsterdam mengalahkan AC Milan melalui gol dari Patrick Kluivert, seorang remaja berumur 19 tahun yang merupakan produk pembinaan dari klub “Ajacied” tersebut. Faktor permodalan finansial klub secara besar-besaran oleh para pemilik klub-klub besar adalah salah satu faktor utama klub Belanda sudah tidak mampu bersaing di papan atas klub di Eropa . Fenomena permodalan yang terjadi pada klub-klub di dunia dalam 10 tahun terakhir ini, meyakinkan organisasi tertinggi sepakbola FIFA untuk menetapkan sebuah regulasi “Financial Fair Play” demi mencegah terjadinya kesenjangan sangat jauh antara klub yang memiliki permodalan finansial besar dengan yang kecil.

Meski tidak kuat dalam aspek finansial, daya tarik dari sistem pembinaan talenta muda pada klub-klub Belanda menjadi daya tarik yang tidak dimiliki klub-klub di luar Belanda. “Johan Cruyff Revolution”, diungkap oleh Ronald De Boer dalam wawancaranya bersama Skysports. Sistem yang diambil dari nama pemain legendaris di Belanda ini, dimana klub melihat anak sebagai seorang pemain secara utuh, dan dibentuk menjadi pemain besar.Ronald De Boer mencontohkan, pemain usia 12 tahun Inggris dalam pertandingan, sangat terlihat bahwa dalam benak pemain tersebut hanya bagaimana dirinya dapat memenangkan pertandingan. Berbeda dengan sistem pembinaan di Belanda dimana para pemain usia muda Belanda lebih ditekankan dan difokuskan bagaimana mengembangkan dirinya, bukan semata-mata fokus kepada hasil pertandingan saja. Para pelatih dengan tegas menanamkan sikap sabar dan tenang dalam benak pemain untuk memaksimalkan pengembangan bakat mereka.

Sistem pembinaan ini turut dibantu oleh pemerintah Belanda , bukan hanya kepada klub profesional tetapi juga klub amatir

Di Kota besar maupun kota kecil, sangat mudah ditemui klub amatir namun dikelola secara profesional dengan bantuan pemerintah lokal mulai dari kualitas lapangan, ruang ganti pemain, sistem medis. Semua ini dilakukan karena keyakinan bahwa suatu saat akan muncul pemain berbakat yang dapat membantu kemajuan sepakbola negara Belanda .Penerapan sistem pengelolaan ini menaruh minat klub-klub profesional menyebar para pencari bakatnya ke seluruh pelosok Belanda . Asosiasi sepakbola Belanda KNVB juga mewajibkan klub yang berstatus profesional melakukan pertandingan resmi dengan klub amatir untuk memberikan kesempatan para pemain amatir menunjukkan bakatnya dan dengan harapan dan keyakinan bahwa bakat-bakat terpendam akan ditemukan oleh klub profesional

image002
Lapangan amatir dikelola secara profesional
(Sumber foto : www.flicker.com)

Bahkan Jong Ajax, Jong PSV, Jong Twente yang bermaterikan pemain-pemain muda turut berpartisipasi pada kompetisi Eerste Divisie yang merupakan kompetisi profesional dan hanya berada 1 posisi dibawah liga teratas Belanda yaitu Eredivisie. Tentunya untuk mengasah talenta muda dan memberikan rasa bagaimana bertanding pada level profesional.

Sistem pengembangan bakat muda dilakukan secara sangat ketat. Pemain yang sukses terpilih masuk akademi klub profesional ,selain diberikan kesempatan mengasah kemampuan sepakbola, klub juga akan menanggung seluruh biaya pendidikan pemain-pemainnya. Setiap harinya klub menyediakan bus khusus yang mengantar dan menjemput pemain di sekolah. Fasilitas-fasilitas yang diperoleh tidak membuat pemain dapat mudah berpuas diri. Setiap tahunnya klub akan mengadakan evaluasi. Evaluasi ini untuk menentukan apakah klub melanjutkan pembinaannya atau tidak. Penilaiannya bukan hanya dari faktor skill dalam sepakbola, tetapi juga bagaimana faktor diluar sepakbola baik sekolah maupun dalam kehidupan sosialnya.Pemain dilarang melakukan kegiatan sepakbola jika pada hari tersebut bersamaan dengan adanya ujian sekolah. Richairo Zivkovic, talenta muda Ajax Amsterdam ketika masih memperkuat FC Groningen, dirinya tidak diturunkan dalam pertandingan resmi karena kebijakan tersebut

image004
Richairo Zivkovic saat masih perkuat FC Groningen
( Sumber foto : www.goal.com)

Apabila hasil evaluasi seorang pemain cemerlang dalam sepakbola namun dinilai negatif dalam sekolah atau kehidupan sosialnya, pemain akan tetap dikeluarkan dari akademi klub tersebut. Cedric Van Der Wiel adalah salah satu pemain yang sempat merasakan pahitnya evaluasi tersebut. Ketika masih berusia 14 tahun, meskipun skillnya menakjubkan para pelatih akademi Ajax Amsterdam tempat dirinya menjalani program , tapi pengaruh negatif dari luar lapangan sempat membuat dirinya dipecat. Beruntung tiga tahun kemudian dirinya direkrut kembali oleh Ajax Amsterdam dan kini menjadi salah satu andalan klub raksasa Prancis, Paris St Germain.

Sistem pembinaan muda secara profesional sejak dini menjadi nilai jual tersendiri klub-klub di Belanda. Wesley Sneijder bisa dijadikan contoh. Pemain yang sudah bergabung dengan Ajax Amsterdam sejak usia 7 tahun. Setelah melalui sistem pembinaan di Belanda, pada usia 23 tahun Ajax Amsterdam berhasil mendapatkan 27 Juta Euro dari penjualan Wesley Snijder ke klub raksasa Spanyol, Real Madrid. Sistem pembinaan di Belanda ini sudah menghasilkan lebih dari 100 pemain dan setiap tahunnya klub besar dari mancanegara akan membeli pemain dari klub-klub Belanda. Sistem ini jugalah yang membuat klub dari luar Belanda sering menitipkan pemain pada klub Belanda untuk dibina dan menjadi pemain andalan di masa depan. Dapat dibayangkan berapa banyak profit yang bisa diperoleh hanya dari sistem pembinaan di Belanda ini

image006
Wesley Snijder bersama Ajax Amsterdam sejak umur 7 tahun
(Sumber foto :www.worldcupchampionship.blogspot.com)

Ini hanyalah sebagian kecil fakta yang berhasil dilakukan Belanda dalam mengasah dan mencetak pemain muda sepakbola melalui keyakinan, kesabaran dan ketenangan serta pengembangan mental dan moral yang kuat. Program pembinaan yang dijalankan dengan sabar, penuh ketenangan namun tegas juga menuai hasil untuk tim nasional Belanda yang dalam dua perhelatan Piala Dunia terakhir dengan menempati posisi “runner up” atau ke dua pada tahun 2010 dan posisi ke tiga pada tahun 2014 kemarin.
Tidak heran negara sekecil Belanda tidak pernah kehabisan ambisi menghasilkan pemain besar baik untuk negaranya sendiri maupun negara lain dan terus bersaing dipapan atas sepakbola dunia. Kalau Belanda mampu, mengapa Indonesia yang notabene 10 kali lipat jumlah penduduknya tidak bisa? Itu adalah pertanyaan yang mungkin sangat mudah dijawab tapi sangat sulit dilakukan

Referensi :

http://www.nytimes.com/2010/06/06/magazine/06Soccer-t.html?_r=0

http://www.theguardian.com/football/2011/apr/28/fa-england-holland-grassroots-football

http://www1.skysports.com/football/news/11065/9419928/ronald-de-boer-reveals-secrets-of-hollands-youth-system