628. The Sea Water Heating Plant Pertama di Dunia

Penulis : Rini Dwicahyanti
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

“Warga menginginkan energi terbarukan
untuk pemanas rumah mereka, namun
bagaimana menyediakan hal tersebut
kepada warga yang berpenghasilan rendah?
tentunya hal ini menjadi masalah tersendiri”
- Paul Stoelinga,
Senior Consultant At Dutch Enviromental Engineering Firm

image002
Kawasan Duindorp di Kota Den Haag, Belanda
(sumber : www.klimabuendnis.org)

Duindorp. Sebuah subdistrik dari Kawasan Scheveningen di Kota Den Haag yang berada di sepanjang pesisir Laut Utara, terdiri dari rumah-rumah keluarga yang dahulu berprofesi sebagai nelayan. Dibangun antara tahun 1915 sampai dengan 1931, sebelumnya Duindorp merupakan kawasan industri perikanan yang berkembang pesat, namun lambat laun mengalami kemunduran dan masalah sosial perkotaan. Melihat kawasan Duindorp yang memprihatinkan, maka Pemerintah Kota Den Haag berinisiatif untuk merekonstruksi kawasan ini menjadi pemukiman modern yang diperuntukan bagi kalangan menengah ke bawah. Sebanyak 1100 rumah yang dibangun sebelum Perang Dunia I direkonstruksi menjadi 750 rumah bergaya modern.

Dibantu oleh Vestia Housing Corporation bekerjasama dengan Konsultan Deerns Engineering, area ini dibangun dengan menerapkan inovasi konsep district heating yang memanfaatkan panas air laut sebagai sumber energi alternatif untuk pemanas air dan pemanas ruangan di rumah. Konsep The Sea Water Heating Plant atau pembangkit tenaga panas air laut yang berada di Pelabuhan Scheveningen ini dapat digunakan tidak hanya selama musim panas berlangsung, tetapi juga saat musim dingin tiba. Pemilihan sumber energi terbarukan dengan pemanfaatan panas air laut ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan sejarah warga Duindorp sendiri yang dahulu sangat bergantung pada laut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

image004
Pembukaan Sea Water Heating Plant
oleh Menteri Perumahan, Perencanaan Ruang dan Lingkungan Belanda
(sumber : http://homepages.lboro.ac.uk)

Sistem kerja dari teknologi pemanfaatan panas air laut ini terbilang simpel. Air laut dialirkan melalui katup intake yang berada di Pelabuhan Scheveningen kemudian masuk melalui fasilias lima tahap proses penyaringan. Penyaringan ini dilakukan untuk mencegah makhluk hidup laut dan benda-benda laut lainnya masuk kedalam fasilitas proses serta untuk mencegah terjadinya korosi karena kadar garam terlarut yang tinggi. Setelah melalui proses penyaringan maka air diproses melalui heat exchanger atau pompa panas untuk selanjutnya dialirkan melalui pipa distribusi bawah tanah ke jaringan lokal area pemukiman.

Ketika musim panas dengan suhu air laut lebih dari 11ºC, air laut dialirkan sebanyak 25.000 sampai 50.000 galon per jam dari intake menuju fasilitas penyaringan. Setelah itu, air laut yang telah disaring dialirkan menuju heat exchanger, dengan menarik sejumlah energi panas air laut untuk memanaskan air bersih sampai dengan suhu 11ºC kemudian air dialirkan melalui pipa sepanjang lima mil ke area pemukiman. Di setiap rumah telah pasang pompa panas dengan kapasitas 5 kWh untuk menaikan suhu air dan pemanas ruangan yang diinginkan.

Ketika musim dingin dengan suhu ait di Laut Utara rendah, yakni sekitar 4ºC maka air laut dialirkan dengan debit 190.000 galon per jam dari intake menuju fasilitas penyaringan. Debit yang cukup besar ini dibutuhkan untuk memperoleh energi panas air laut yang lebih banyak karena suhu air laut yang tersedia sangat rendah. Dengan menggunakan energi listrik, pompa panas pusat digunakan untuk memindahkan energi panas dari air laut yang telah tersaring ke ruang yang lebih hangat. Pompa panas ammonia yang digunakan memiliki output 2,7 MW dan mampu menaikan suhu sampai dengan 11ºC. Pompa panas berskala kecil di setiap rumah digunakan untuk menaikan suhu sesuai dengan kebutuhan, biasanya 45ºC untuk pemanas ruangan dan 55°C sampai 65°C untuk pemanas air melalui underfloor heating.

image006
Sistem Kerja Pembangkit Tenaga Panas Air Laut
(sumber : www.ucl.ac.uk)

Secara umum dengan beban biaya yang sama kinerja proses Sea Water Heating Plant ini 50% lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pemanas konvensional yang berefisiensi tinggi. Efisiensi dari segi pembiayaan menurut presentasi dari Deerns dapat terlihat dari sumber yang menghasilkan 15 kWh energi panas dari hanya 1 kWh energi listrik sehingga mengurangi koefisien kinerja pompa panas rumah sebesar 5%. Total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas ini sebesar € 7.500.000 dan warga dikenakan tarif tetap sebesar € 70 per bulan selama sepuluh tahun mendatang, biaya ini menurut Peter Barendse van Ceres dari Vestia Housing Corporation tidak akan lebih kecil dibandingkan dengan biaya penggunaan bahan bakar gas karena mereka harus menutupi biaya investasi, namun penerapan sistem ini dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 50% dibandingkan dengan penggunaan gas alam sebagai sumber energi.

Konsep unik dari pemanfaatan energi panas air laut yang diterapkan pemerintah Kota Den Haag ini merupakan Sea Water Heating Plant pertama yang ada di dunia dan telah berhasil mendapatkan penghargaan pada tahun 2009 sebagai Climate Star dari Climate Alliance atas komitmen terhadap perlindungan iklim yang diikuti oleh 1400 kota di Eropa. Hal ini juga sebagai bentuk langkah nyata komitmen pemerintah Belanda guna mengurangi penggunaan energi dari bahan bakar fosil dan pengembangan energi terbarukan yang saat ini menjadi fokus pembangunan di negara mereka.

Referensi :

http://www.denhaag.nl/en/residents/to/Seawater-to-heat-houses-in-Duindorp.htm

http://homepages.lboro.ac.uk/~cvkc2/CLUES_SWH%20workshop_HHeijkers.pdf

http://www.klimabuendnis.org/fileadmin/inhalte/dokumente/2010/ClimateStar_ProjectDescription_en.pdf

http://thinkprogress.org/climate/2014/07/24/3462774/town-heat-from-ocean/

www.ucl.ac.uk/clues/files/hague

http://theenergycollective.com/silviomarcacci/414981/holland-pioneering-sustainable-district-heating-innovations