629. Solusi Tanggap Kurangi Partikel di Udara

Penulis : Halida Rizkina
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

“Water and air, the two essential fluids on which all life depends,
have become global garbage cans.”
― Jacques-Yves Cousteau

Orang dewasa rata-rata menghirup udara sebanyak 11.000 liter per harinya (howstuffworks.com, 2015). Udara yang sama dapat mengandung lebih dari 90% partikel udara berukuran 100 nanometer atau lebih kecil (PM10). Ukuran kecil partikel ini memungkinannya melewati jalan pernafasan menuju bagian dalam paru-paru untuk menimbulkan kerusakan. Masalah akan semakin parah ketika racun atau bahan kimia pemicu kanker menempel pada partikel ini. Partikel udara terkecil bahkan dapat menembus paru-paru dan masuk ke pembuluh darah. Efek menghirup udara tidak bersih yang penuh dengan PM10 dapat mengakibatkan kesulitan bernafas, pengurangan fungsi paru-paru, pelemahan sistem imun, pneumonia, asma, dan emfisema (National Geological Society of America, 2015).

PM10 dapat dihasilkan dari faktor alami dan buatan manusia. Garam laut dan debu pasir adalah contoh partikel udara yang dihasilkan alam. Namun manusia terbukti berperan besar dalam menghasilkan partikel udara ini. Kebakaran hutan, asap industri, asap mesin, asap masakan, asap rokok, karbon mesin fotokopi dan printer adalah sebagian kecil contoh distribusi manusia terhadap PM10 di udara. Lalu lintas kendaraan menjadi sumber terbesar PM10, dimana dengan kandungan sulfat, besi, dan hidrokarbon yang dihasilkan mesin kendaraan, partikel karbon terbentuk (Philips, 2015).
Untuk membuat udara lebih bersih, Uni Eropa telah menetapkan standar konsentrasi partikel di udara yang harus ditepati per 1 Januari 2015. Batas PM10 di udara Eropa adalah 50 mikrogram (µg)/m3 per harinya (European Commission, 2015). Salah satu negara anggota Uni Eropa, Belanda, mempunyai contoh nyata sinergi antara pemerintah, industri, dan institusi ilmu pengetahuan untuk mencari cara membuar udara menjadi lebih bersih (Innovatie Progamma Luchtkwaliteit, 2010).

Innovatie Progamma Luchtkwaliteit (IPL) adalah salah satu manifestasi dari sinergi tersebut. Diskursus tentang kualitas udara ditingkatkan secara drastis dalam institusi ini. Percobaan fisik skala besar diadakan dengan sponsor pemerintah dan industri. Percobaan ini juga diawasi, dievaluasi dan diterjemahkan oleh ahli dan ilmuwan internasional (Innovatie Progamma Luchtkwaliteit, 2010).

image002

Melalui Air Quality Innovation Programme, IPL menemukan inovasi untuk mengontrol kualitas udara dengan cara menyiram jalan dengan solusi kalsium klorida (sejenis garam). Solusi garam ini menyerap air, sehingga permukaan jalan tetap lembab selama paling tidak 24 jam. Jalanan yang lembab akan menyerap partikel udara, dan pada akhirnya udara akan lebih bersih. Pada tahun 2006, percobaan dilakukan dengan cara semudah menyiram jalanan di tengah kota Nijmegen dengan solusi ini. Solusi ini terbukti ampuh menekan konsentrasi PM10 di udara. Percobaan tersebut membuktikan konsentrasi PM10 di udara berkurang sebesar 15%. Data ini dicatat dalam bentuk siklus selama dua tahun oleh Barrier Test Site, stasiun eksperimen yang didirikan disepanjang jalan tol yang dijadikan percobaan. Percobaan kembali dilakukan di Malden pada tahun 2009 dengan menggunakan kendaraan khusus untuk menyiram jalanan, seperti cara yang sama untuk menyiram air pada musim salju untuk mencairkan es di jalan (Innovatie Progamma Luchtkwaliteit, 2010).

Keberhasilan percobaan ini menjadi sangat penting mengingat betapa mudahnya hal ini untuk dilakukan. Selama ini, usaha untuk mencapai udara yang lebih bersih, terutama di Indonesia, dipandang sebagai hal yang sulit untuk dicapai. Solusi pengurangan penggunaan kendaraan pribadi belum menunjukkan kemajuan berarti. Hingga tahun 2010 tercatat jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sudah mencapai 6,5 juta unit, di mana 6,4 juta unit atau 98,6 persen merupakan kendaraan pribadi dan 88.477 unit atau sekitar 1,4 persen adalah angkutan umum. Angka ini masih bertumbuh sebesar 11 persen setiap tahunnya (Urban Transport Information Center, 2010). Ruang terbuka hijau, solusi lain untuk mengurangi partikel udara, di Jakarta mengalami hambatan yang sama. Pemprov DKI menargetkan pencapaian target pembukaan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 13,94 hektar per tahun. Data menunjukkan penambahan RTH rata-rata 4 hektar per tahun (Damanik, 2009) Padahal, dalam skala global, kadar partikel debu (particulate matter) yang terkandung dalam udara Jakarta adalah yang tertinggi nomor 9 dengan 104 mikrogram per meter kubik dari 111 kota dunia yang disurvei oleh Bank Dunia pada tahun 2004 (Marayoga, 2010).

Dengan fakta yang ada, solusi tanggap dan efisien seperti penyemprotan solusi garam ke jalan merupakan solusi yang tepat untuk diterapkan tak hanya di Belanda. Kota metropolitan di negara berkembang seperti Jakarta dapat menggunakan ide tersebut dengan beberapa alasan. Penyemprotan solusi garam tidak menganggu lalu lintas kota yang padat dan macet. Biaya untuk pengadaan truk penyemprot dan pengolahan solusi garam juga lebih murah ketimbang membangun RTH dan segala urusan pembebasan tanahn yang mengikutinya. Di atas alasan-alasan tersebut, solusi ini tentu menjadi solusi tanggap yang menghasilkan sesuatu yang nyata untuk udara lebih bersih yang dapat dilakukan saat pengurangan kendaraan pribadi dan pembangunan RTH mengalami hambatan.

Kesimpulannya, penyemprotan jalan dengan solusi garam adalah inovasi unik dan efektif untuk mencapai udara bersih. Inovasi yang dihasilkan oleh IPL ini juga menunjukkan bagaimana sinergi yang aktif antara pemerintah, industri, dan institusi ilmu pengetahuan dapat menghasilkan solusi nyata untuk lingkungan yang lebih bersih. Sinergi antar ketiga pihak tersebut dibutuhkan untuk melewati segala masalah politik dan bisnis dan fokus terhadap lingkungan. Indonesia, sebagai negara berkembang yang masih menghasilkan banyak emisi partikel udara patut mencontoh sinergi ini.

Referensi :
Damanik, Caroline. 2009. “Target Ruang Hijau Jakarta Tercapai 680 Tahun Lagi ?”, diakses di http://properti.kompas.com/read/2009/08/27/1213470/Target.Ruang.Hijau.Jakarta.Tercapai.680.Tahun.Lagi. pada tanggal 27 April 2015.
European Comission, 2009. “Air pollution: Commission starts legal action against 10 Member States over airborne particles” diakses di http://europa.eu/rapid/press-release_IP-09-174_en.htm pada tanggal 27 April 2015.
How Stuff Works, 2015. “How much oxygen does a person consume in a day?”. diakses di http://health.howstuffworks.com/human-body/systems/respiratory/question98.htm pada tanggal 27 April 2015.
Innovatie Progamma Luchtkwaliteit, 2010. “Dutch Air Quality Control Programme Concluded” diakses di http://laqm.defra.gov.uk/documents/Dutch_Air_Quality_Innovation_Programme.pdf pada tanggal 27 April 2015.
Marayoga, Troeno. 2010. “Polusi Udara di Jakarta” , diakses di http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&dn=20100304125156 pada tanggal 27 April 2015.
National Geological Society of America, 2015. “Airborne Dust Particles” diakses di http://serc.carleton.edu/NAGTWorkshops/health/case_studies/airborne_dust_p.html pada tanggal 27 April 2015.
Philips, 2015. “What are airborne ultra-fine and nano particles?”, diakses di http://www.aerasense.com/index.php?pageID=6 pada tanggal 27 April 2015.
Urban Transport Information Centre, 2010. “Transportasi Kota Jakarta Mengkhawatirkan” diakses di http://bstp.hubdat.dephub.go.id/index.php?mod=detilSorotan&idMenuKiri=345&idSorotan=54 pada tanggal 27 April 2015.

Referensi Gambar :
Sprayed-road truck, n.d foto. Diakses pada tanggal 27 April 2015,