630. [Air] Kota Besar Itu Seharusnya Tidak Jahat

Penulis : TAUFIK MADYA ADITAMA
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Kota besar seharusnya tidak seperti ini. Orang-orang miskin makan sampah, kemudian berak di kali. Lalu semua orang minum rebusan airnya. Akhirnya, setiap kali musim hujan, jalanan berubah jadi kolam renang. Tai-tai pun berenang-renang di antara rumah-rumah.

Orang-orang kaya juga sama saja. Katanya mereka sudah minum air yang lezat. Padahal mereka tidak tahu saja kalau mereka sedang diracun pelan-pelan. Klorin kok dibilang lezat. Mematikan, iya. Konsumsi klorin berlebihan dapat menyebabkan kanker, kerusakan hati dan ginjal, sampai kelahiran bayi cacat.

Mungkin, itu pula kenapa orang-orang di kota besar cenderung apatis. Orang yang lama hidup di lingkungan yang keras, hatinya pun akan mengeras. Maka, sanitasi mungkin merupakan akar dari semua masalah di kota besar.

Sanitasi oh sanitasi. Namamu saja yang bagus. Tapi nasibmu kasihan. Terabaikan. Apalagi jika melawan isu-isu yang katanya tak kalah penting seperti: perceraian selebritis, hingga carut marut politik yang membuat masyarakat semakin pesimis terhadap negerinya.

“Ah lebay lu bangsat”.
Tidak apa-apa. Saya tidak tersinggung. Karena saya menyinggung. Karena sebagai konsumen, sudah saatnya kita lebih kritis mendukung perbaikan sistem perairan di kota besar tempat tinggal kita.

Belajar dari Belanda
Karena berbagai konstruksi sosial, sejarah kita dengan Belanda mungkin tidaklah selalu menggiurkan. Namun soal air, banyak hal yang bisa kita pelajari dari negeri oranje. Kenapa? Karena mereka memiliki tingkat kebocoran air yang termasuk paling kecil di seluruh dunia.

Hanya 6% dari total 116,000 km pipa air disana. Kenapa heboh? Karena angka 116,000 km itu berarti pulau Jawa, dari pucuk Barat ke pucuk Timur, bolak-balik 116 kali.

Efisiensi. Itulah yang tidak kita miliki. Sementara instansi kita yang seharusnya mengelola sumber daya yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak itu perlu dicuci dulu ke akar-akarnya, Belanda justru sudah memiliki landskap yang ciamik. Mereka lebih dulu sadar tentang pentingnya air dan sanitasi. Sampai-sampai mereka punya 2 kementrian yang berbagi tanggungjawab untuk membuat aturan di sektor ini. VROM, semacam kementrian perumahan dan perencanaan, yang bertanggungjawab mengurusi suplai air dan kesehatan umum, dan satu lagi Kementrian Transportasi, Pekerjaan Umum dan Manajemen Air bertanggungjawab di manajemen sumber daya air dan sungai Rhine dan Meuse. Mereka tidak bekerja sendiri. 27 dewan perairan membantu pengelolaan air limbah, dengan 12 provinsi dan 431 kota yang bertanggungjawab untuk mengelola selokan mereka sendiri. Mereka juga disokong oleh ratusan NGO dan asosiasi pebisnis.

Landskap yang jelas itu tidak muncul begitu saja. Belanda juga punya sejarah panjang. Pada 1945, sektor perairan mereka terfragmentasi menjadi lebih dari 200 perusahaan. Tentu saja sangat sulit mengaturnya. Hingga 1990, Belanda berupaya mengerucutkan perusahaan ini ke dalam perusahaan-perusahaan swasta yang besar. Misalnya dengan aturan dan pajak mengenai transisi dari air tanah ke permukaan. Perusahaan-perusahaan itulah yang kemudian di tahun 1997 melakukan benchmarking. Mereka secara sukarela saling membandingkan diri satu sama lain, meliputi kualitas air, layanan, hingga keuangan. Kondisi positif inilah yang meningkatkan efisiensi dan transparansi. Benchmarking meliputi kualitas air, layanan, keuangan dan efisiensi. Program benchmarking di sektor perairan ini merupakan program benchmarking pertama kali di dunia.

Belanda memiliki kontrol distribusi yang jelas di tingkat-tingkat grass root. Suplai air disediakan dalam kualitas yang sangat baik dan harga yang masuk akal. Jaringan air dalam kondisi sangat baik sehingga mereka tidak perlu menggunakan klorin. Air mencapai konsumen tanpa rasa dan bau. Padahal, mereka menggunakan air permukaan. Yang katanya penuh dengan kuman dan bakteri. Saking getolnya terhadap penggunaan air permukaan, Belanda bahkan menekan penggunaan air tanah dengan menerapkan pajak tambahan. Mereka menggunakan air permukaan dari sungai Rhine dan Meuse.

Key point: Jadi, Apa yang bisa kita lakukan?

Bumi adalah planet biru. 70% permukaan bumi ditutupi air. Namun cuma 0,003% darinya saja yang dapat benar-benar dimanfaatkan. 97% adalah air laut dan 3% adalah air tawar. Tapi di 3% itu, 87% ada di kutub atau sangat dalam di bawah tanah. Maka mari kita gunakan air dengan penuh penghargaan. Sebagai grass root, mari kita jadi lebih aware lagi terhadap penggunaan air di sekitar kita.

Ayo lebih kritis. Apalagi ketika kualitas air yang kita dapatkan tidak setara dengan harga yang kita bayarkan. Jangan memaklumkan. Karena seharusnya, kota besar itu tidak seperti ini. Kota besar itu seharusnya ramah.

Sekian, terimakasih, dan semoga menang.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Water_supply_and_sanitation_in_the_Netherlands