633. Benthemplein, Alun-Alun Air Multi Manfaat

Penulis : Nurwita Kumala Dewi
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Pernah mendengar suatu tempat bernama ‘Alun-Alun Air’?

Ya. Alun-Alun Air.

Sementara pada tahun yang sama, 2013, warga Palembang masih diselimuti rasa syukur dengan hadirnya the real public space, warga Rotterdam, nun jauh di negeri Belanda, telah saling berkolaborasi untuk menciptakan suatu ruang publik multifungsi.

Bukan sekedar tempat selfie, nongkrong sore, jajan, olahraga, dan serbi kegiatan hiburan lain, ruang publik kebanggaan warga Rotty ini juga berfungsi untuk menjaga stabilitas air di permukaan Rotterdam. Singkatnya, menjadikan kota ini tahan iklim, alias tidak ikut-ikutan banjir ketika hujan deras melanda, dan tidak bikin kepanasan ketika summer tiba.

Kennis is macht. Negeri yang menjadi buruan puluhan ribu pelajar internasional ini mampu menemukan celah positif dari kehadiran hujan deras, yang notabene telah menjadi salah satu musuh besar banyak kota padat bangunan di seluruh dunia, untuk menciptakan sarana yang justru meningkatkan kualitas interaksi masyarakatnya.

Pada awalnya, area Benthemsquare hanya berupa pavement standar berwarna abu-abu . “Tempat yang membosankan,” mungkin begitu yang ada dalam benak para warga lokal. Dayung bersambut, keinginan warga untuk menjadikan area tersebut menyenangkan, dipertemukan oleh rencana pemerintah kota dan badan pengurus air distrik untuk mencari tempat yang cocok bagi alun-alun air pertama di dunia. Melalui tiga kali workshop De Urbanisten, arsitek perancang, bersama para warga lokal, tercapailah persetujuan untuk mentransformasi Benthemsquare menjadi ruang publik rekreasional yang hijau, selain fungsi utamanya sebagai penjaga stabilitas air dan udara Rotterdam.

Dan jadilah… Watersquare Benthemplein.

image002
Gambar 1 Watersquare Benthemplein ‘pemandangan penuh’ (copyright Palles + Azarfane). http://uncubemagazine.com

Secara resmi dibuka pada 4 Desember 2013, alun-alun air ini terdiri atas tiga bagian kolam untuk mengumpulkan air hujan dari atap bangunan maupun area-area di sekeliling. Air hujan terlebih dahulu di-filter, dan dialirkan melalui saluran terbuka yang terbuat dari stainless steel sebelum pada akhirnya berkumpul di area kolam.

image004
Gambar 2 Saluran terbuka stainless steel. http://uncubemagazine.com

image006
Gambar 3 Saluran terbuka stainless steel (2). http://stylepark.com

Apabila hujan tidak begitu deras dan lama, maka air hujan akan ditampung oleh kolam I dan kolam II yang tidak begitu dalam. Tetapi, apabila hujan menderas dan melama, maka kolam III mulai mengambil perannya. Alun-alun air ini mampu menampung air dari lingkungan sekitarnya hingga 1.7 juta liter!

image008
Gambar 4 Hasil hujan deras. Ketika air hujan menggenangi kolam III. http://urbanisten.nl

Setelah hujan berhenti, air didiamkan selama sekitar 48 jam, sebelum pada akhirnya diresapkan langsung ke dalam tanah atau dipompa ke kanal terdekat Noordsingel.

image010
Gambar 5 Ketika air hujan mulai dialihkan. (copyright Palles + Azarfane) http://stylepark.com

Mekanisme kerja Benthemplein ini dapat menjaga keseimbangan air di permukaan tanah. Pada musim panas, Benthemplein dapat membantu menjaga tanaman dan tumbuhan kota berada dalam kondisi yang baik sehigga membantu mengurangi efek udara panas alias jadi adem… Sementara pada saat hujan deras tiba, Benthemplein mampu mengurangi tekanan pada sistem pembuangan sehingga dapat menghindarkan kota dari bencana banjir!

Sekarang.. Nah, Bagaimana dengan ketika cuaca kering?

Disinilah peran alun-alun air ini sebagai public space unjuk gigi.
Kolam pertama dapat digunakan sebagai panggung dancing OK bagi para anak muda, duduk-duduk diskusi atau nongkrong, bisa pula tempat berjemur dikala hati sedang membutuhkan cahaya matahari. Eh!

image012
Gambar 6 Kolam I (copyright De Urbanisten – Jeroen Musch) http://urbanisten.nl

Berbeda bentuk, beda pula fungsinya. Kolam yang kedua ini, dapat digunakan sebagai arena skatebowl dan slanting wall.

image014
Gambar 7 Kolam II (copyright De Urbanisten) http://urbanisten.nl

Nah, ini dia kolam ketiga, yang juga merupakan kolam terbesar di komplek alun-alun air ini. Area ini dapat digunakan untuk olahraga bola dan basket, plus di bagian pinggir-pinggirnya, yang mirip tangga bisa diduduki, selain menjadi tempat duduk penonton, biasa pula dijadikan sebagai kelas outdoor bagi sekolah di sekeliling alun-alun ini.

image016
Gambar 8 Kolam III (copyright Jeroen Musch – De Urbanisten) http://urbanisten.nl

Dalam artikelnya yang berjudul Ruang Publik: Antara Harapan dan Kenyataan, Ir. James Siahaan, MA, menyatakan bahwa terdapat sejumlah masalah umum yang biasanya dijumpai sehingga menurunkan kualitas ruang publik, yaitu minimnya tempat duduk, minimnya tempat berkumpul, fitur yang disfungsional, dan dominasi ruang oleh kendaraan. Apabila masalah-masalah ini kemudian disandingkan dengan kondisi Benthemplein, penulis berani menyimpulkan bahwa ruang publik ini berkualitas!

Mengapa begitu? Mari kita tilik satu per satu.
- Minim tempat duduk?? Oh tidak. Lihatlah gambar-gambar di atas. Nyaris tidak ada yang berdiri, kecuali yang sedang bermain. Hehe.
- Minim tempat berkumpul?? Haloo.. lihat, bukankah manusia yang sedang berbincang dan beraksi gembira di arena alun-alun ini?
- Fitur yang disfungsional?? Biasanya terjadi ketika suatu hal dibangun tanpa fungsi apa-apa alias hanya untuk visual. Nah alun-alun ini? Setiap halnya mampu merangsang munculnya aktivitas-aktivitas, dari mulai duduk-duduk diskusi, hingga dancing, skatebowl, dan football!
- Dominasi ruang oleh kendaraan?? Hmm.. Coba pembaca telisik gambar-gambar di atas! Tidak ramai oleh kendaraan, bukan? Ada sih, sepeda, tapi perlu jalan beberapa langkah dari area utama alun-alun ini.
Apabila Ir. James Siahaan, MA, menyuarakan hal-hal yang menjadi masalah umum ruang publik, maka Stephen Carr (1992) mengidentifikasi sejumlah kebutuhan dasar yang dapat memenuhi kepuasan pengguna publik, yaitu:
- Kenyamanan dan relaksasi. Sisi psikologis pengunjung merupakan fitur utama dari segala macam konsep ruang yang berusaha diciptakan. Bagaimana bisa merasa puas, apabila pengunjung justru malah stress dan kepanasan. Penulis 99% yakin, Benthemplein mampu membuat pengunjung relaks dan nyaman, 1%-nya disimpan dulu karena belum pernah merasakannya secara langsung.
- Keterikatan pasif dan aktif, seperti pemandangan, pepohonan yang asri, serta pengaturan elemen-elemen, seperti tempat duduk, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan untuk berinteraksi sosial.
- Penemuan. Pengunjung, setiap mengunjungi ruang publik menginginkan adanya pengalaman dan pemandangan baru yang menyenangkan, bisa jadi seperti atraksi skatebowl, dancing, atau hal lain yang bisa dilakukan di Benthemplein.
Hmmm… Benar-benar luar biasa dan multi manfaat ya!
Para pengunjung benar-benar dimanjakan dengan kualitasnya yang mampu mengademkan pikiran dan meningkatkan kualitas interaksi warganya. Plus kemampuannya dalam menjaga keseimbangan air dan keademan udara di sekitar. Semoga suatu hari nanti, penulis dan pembaca bisa merasakan sensasi langsung area yang kini juga menjadi contoh internasional dalam mengatasi isu iklim dan air, ya. Aamiin.

Referensi:
Bad Weather Pool. Diposkan oleh Anneke Bokern pada 12 Februari 2014. http://www.stylepark.com/en/news/bad-weather-pool/347976
Cliff Moughtin. Urban Design: Street and Square. London (2001).
Flood Tactics: Water Square in Rotterdam by De Urbanisten. Diposkan pada 5 Juni 2014. http://www.uncubemagazine.com/blog/13323459
Ir. James Siahaan, MA. Ruang Publik: Antara Harapan dan Kenyataan.
Stephen Carr. Public Space. Cambridge University Press (1992)
Water Innovations in the Netherlands: A Brief Overview. Published by Rijkswaterstaat Ministry of Infrastructure and the Environment on March 2014. http://www.government.nl/files/documents-and-publications/leaflets/2014/03/01/water-innovations-in-the-netherlands/water-innovations-in-the-netherlands.pdf
Watersquare Benthemplein oleh De Urbanisten. http://www.urbanisten.nl/wp/?portfolio=waterplein-benthemplein
Your letters: Real public space in Palembang. Diposkan pada 3 Januari 2013. http://www.thejakartapost.com/news/2013/01/03/your-letters-real-public-space-palembang.html