638. Belanda : Bangsa yang Tidak Pernah Mundur

Penulis : Muhammad Nur Andika Hermawan
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Bangsa yang Beradaptasi

Berdasarkan etimologi Belanda atau Netherland secara literal memiliki arti “Tanah Rendah” hal tersebut dilatarbelakangi bahwa secara geografis hanya sekitar 50 persen tanah Belanda yang berada satu meter diatas laut. Lebih jauh bahkan beberapa kawasan di Belanda baik nama kota, atau tempat bersejarah di Belanda identik dengan etimologi “dam” pada akhir kata, katakanlah Amsterdam, dan Rotterdam. Penambahan “dam” bukanlah sesuatu yang tanpa alasan, dua kota tersebut memang datang secara fungsionalis yang mengingatkan bahwa kota-kota tersebut memang dibangun dan dijaga oleh “dam” atau tanggul. Bahkan ada mitos bahwa Holland yang merujuk kepada Belanda seutuhnya merupakan kata yang diadaptasi dari hollow land atau tanah yang rendah. Kondisi alam yang tidak bersahabat telah memberikan dampak evolutif yang menakjubkan bagi bangsa Belanda, yaitu menjadi bangsa yang kuat, cerdas, dan yang penting menjadi bangsa yang bisa beradaptasi. Berbicara tentang adaptasi kita mungkin pernah membaca sepenggal kutipan yang merujuk pada pemahaman Charles Darwin tentang makna evolusi seperti kata-kata demikian

“Bukanlah spesies yang paling cerdas yang akan bertahan hidup, bukan yang paling kuat yang akan bertahan hidup, tetapi spesies yang dapat beradaptasi, yang dapat menyesuaikan diri dengan alam yang akan selamat.” (Megginson)

Belanda adalah contoh bangsa yang dengan tepat untuk menggambarkan bagaimana mereka berjuang membangun peradaban dengan cara itu selama hampir 1.000 tahun untuk dapat hidup bersama laut. Tidak pernah mundur karena pasrah akan kehendak alam yang menenggelamkan pesisir-pesisir Belanda.

Bangsa yang Belajar Melalui Sejarah
Meskipun Belanda merupakan salah satu negara dengan sistem pengendalian air terbaik didunia, hal tersebut tidak lantas membuat Belanda terbebas dari seluruh ancaman. Pada Januari 1953 salah satu tanggul di Zeeland Selatan mengalami kerusakan yang parah hingga menewaskan 1.836 korban jiwa. Belanda mengalami pukulan luar biasa yang bahkan mengubah negara itu. Setelah peristiwa itu Belanda dengan segera meluncurkan program pembangunan tanggul ambisius yang berlangsung selama empat puluh tahun yang menelan dana sekitar enam puluh triliun rupiah. Saat ini tanggul-tanggul tersebut mampu melindungi jutaan warga belanda di pesisir dari Zeeland hingga Rotterdam. Setelah terjadinya salah satu peristiwa terburuk tersebut, Pada 1997 Snoodmuseum atau Musem Banjir didirikan diantara tanggul tersebut, tentu saja untuk mengenang dan mengingatkan manusia tentang ketidakpastian alam.

Bangsa yang Melihat Masa Depan
Dengan kondiri geografis yang tidak begitu menguntungkan memaksa Belanda untuk melihat jauh kedepan. Bencana tahun 1953 mungkin adalah salah satu faktor yang memicu Belanda untuk mengembangkan salah satu struktur pengendalian air tercanggih di dunia. Belanda adalah negara yang membangun tanggul penghalang laut yang tidak pernah dibangun ditempat lain di dunia ini. Dalam membangun tanggul penghalang laut Belanda membangunnya untuk menghadapi badai sekali dalam 10.000 tahun, menggunakan standar terketat di dunia, standar tersebut menjadikan Belanda seratus kali lipat jauh lebih maju dari Amerika Serikat dalam melakukan mekanisme perlindungan terhadap badai.

Tidak hanya itu Belanda menciptakan kondisi kawasan yang baik dengan menyatukan kondisi alam dan sistem tanggul yang dibangun, sehingga masyarakat tidak merasakan kekhawatiran apapun meskipun pada dasarnya dataran yang mereka tinggali dikelilingi oleh tanggul-tanggul. Belanda juga sukses mengolaborasikan sistem tanggul mereka dengan kincir angin, melalui cara itu Belanda sangat pantas disebut sebagai Negara yang bersahabat dengan alam. Sebagai contoh dapat dilihat di gambar berikut.

image002

Tidak hanya tentang tanggul, Belanda mulai sadar untuk mengembangkan mekanisme bagaimana menciptakan komunitas atau masyarakat diatas laut, sehingga hal tersebut dapat mereduksi penggunaan lahan dan tidak merubah fungsi laut. Dengan begitu kondisi alam dan sistem pengendalian air Belanda dapat terintegrasi dengan kondisi alam.

Pada prasasti peringatan yang terdapat di penghalang timur Zeeland terdapat kalimat yang berbunyi “Hier gaan over het tij, de maan, de wind, en wij” yang memiliki terjemahan “Disini air pasang diatur oleh bulan, angin, dan kami”. Arti yang dapat dipetik dari prasasti tersebut adalah tentang kepercayaan diri generasi Belanda, bukan tentang menguasai dunia tetapi beradaptasi dengan dunia. Dengan kata lain Belanda mampu melihat peluang dilautan yang pada umumnya tidak ditemukan oleh orang lain.

Tidak hanya tentang pembangunan yang kita pahami secara konvensional, Belanda juga memberikan kita contoh yang jelas bagaimana membangun suatu negara dengan menggunakan pendekatan ekologis. Salah satu proyek dari Pemerintah Belanda adalah menjebol tanggol di pulau Tiengemeten untuk menciptakan kondisi alam yang alami di kawasan tersebut.

Bangsa yang Memberikan Teladan
Berdasarkan pemaparan terebut sejatinya Belanda telah memberikan pelajaran berharga tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga pada dunia tentang kegigihan mereka yang tidak pernah mengalah terhadap laut, melainkan hidup bersama mereka. Belanda mengajarkan kepada kita agar tidak pernah mundur, terlebih mundur karena terdesak kenaikan permukaan laut akibat ulah kita sendiri. Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk berubah, kita hanya perlu menyediakan tempat dimana anak dan cucu kita untuk bertahan hidup agar mereka dapat memikirkan generasi setelah mereka.

Sumber :
National Geographic. (2013). Luap Laut. Jakarta: National Geographic.
“Netherlands Guide – Interesting facts about the Netherlands”. Eupedia. 19 April 1994. Retrieved 26 April 2015.
Oxford English Dictionary, “Holland, n.1,” etymology. 26 April 2015.