646. Underground City : Cara Belanda Menolak Keterbatasan

Penulis : YASSINDY ALFITRI HARDI
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Ternyata tidak hanya musik yang memiliki aliran underground, kota juga dapat berkembang dengan konsep tersebut. Secara makna, underground dalam musik dimengerti sebagai aliran lagu yang keberadaan nya cenderung berbeda dari musik komersil pada umumnya. Lalu bagaimana dengan konsep underground city sendiri? Sedikit mirip dengan pengertian di atas, konsep kota bawah tanah memiliki perbedaan dengan konsep pembangunan kota konvensional yang cenderung berkembang secara horizontal. Ide dari underground city adalah untuk memperluas lahan kota dengan memanfaatkan ruang bawah tanah atau vertikal.

Berdasarkan sejarahnya, konsep ruang bawah tanah (underground space) mulai berkembang di negara-negara maju khususnya Eropa pada abad ke-20. Ide ini awalnya digunakan sebagai solusi dalam pengelolaan infrastruktur seperti jalur transportasi. Tujuannya tentu saja untuk memberikan keleluasaan akses bagi penduduk kota dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa terganggu atau terhambat dengan aktivitas lainnya. Sehingga diharapkan infrastruktur dan jaringan transportasi dapat berfungsi secara optimal. Keuntungan utama dari konsep ini yaitu menghilangkan keterbatasan fisik suatu negara dalam hal ketersediaan ruang horizontal atau lahan permukaan.

Dilihat dari luas wilayahnya, Belanda dapat dikategorikan sebagai negara dengan ketersediaan lahan permukaan yang terbatas. Luas wilayah negara Belanda sekitar 41.160 km2 dengan kepadatan penduduk berkisar antara 365 orang per km2. Sedangkan jika dikaji dari lokasi nya, sebagian besar wilayah Belanda berada pada ketinggian di bawah permukaan laut. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, apakah efektif menerapkan inovasi underground space? Tidak kah beresiko membangun dan menggali lebih dalam lagi? Namun negara Belanda justru menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kesuksesan mereka dalam mengadaptasi konsep underground space dan menghasilkan ruang kota dengan karakteristik berbeda. Bentuk keberhasilan negara Belanda tersebut dapat dilihat dengan berdirinya stasiun Wilhelminaplein di kota Amsterdam.

Awalnya stasiun Metro Wilhelminaplein merupakan jaringan metro yang hanya terdiri dari 2 tunel. Untuk menyediakan akses yang lebih baik, maka pemerintah Belanda melakukan renovasi dengan menjadikan Wilhelminaplein sebagai stasiun sekaligus jaringan metro melalui penyediaan area yang lebih luas. Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Durmisevic (1999) awalnya tunel stasiun memiliki lebar 10 m dan tinggi 6.5m, melalui proses renovasi pemerintah Belanda ingin menghasilkan stasiun bawah tanah yang dapat terhubung dengan aktivitas di permukaan. Rencana renovasi stasiun Wilhelminaplein ditentukan dengan perluasan lebar menjadi 17m sampai 28 m dan total panjang stasiun mencapai 130m.

image002
Sumber : http://fbe-studiocollaboration.unsw.wikispaces.net
Desain Stasiun Wilhelminaplein Sebelum dan Setelah Renovasi

Inovasi pemerintah Belanda dalam menerapkan konsep underground space terbayar dengan beroperasinya stasiun Wilhelminaplein ditahun 1997. Selain menawarkan kelancaran akses, stasiun Wilhelminaplein juga dibangun dengan keunikan desain berupa atap yang menyambung langsung ke area permukaan, sehingga memberikan efek psikologis berupa rasa aman dan nyaman bagi pengguna stasiun serta menghindarkan mereka dari perasaan “terkurung” di ruang bawah tanah. Hingga saat ini stasiun Wilhelminaplein masih terus dipergunakan dan menjadi ciri tersendiri bagi kota Amsterdam.

image005

image004

image003
Stasiun Wilhelminaplein Setelah Renovasi
Sumber :
a) http://www.caticon.nl/caticon.nl/index.php/en/second-menu
b) http://mimoa.eu/projects/Netherlands/Rotterdam/Wilhelminaplein%20Subway%20Station
c) http://www.e-architect.co.uk/architects/zwarts-jansma

Upaya negara Belanda tentunya tidak cukup berhenti sampai disana. Untuk menjaga keberlanjutan keberadaan ruang vertikal, maka pemerintah Belanda melalui Kementerian Perumahan, Penataan Ruang dan Lingkungan atau dikenal sebagai Ministerie van Volkshuisvesting, Ruimtelijke Ordening en Milieu, memperkenalkan model analisis untuk perencanaan “underground space”. Konsep utama dari model ini adalah mengidentifikasi tiga lapisan ruang, lapisan pertama dikategorikan untuk fungsi perumahan dan kantor, lapisan kedua untuk jaringan infrastruktur, sedangkan lapisan ketiga untuk pemanfaatan energi seperti penyimpanan air tanah. Melalui model analisis tersebut, diharapkan perencanaan pada tiap layer dapat saling terintegrasi sehingga mampu menghasilkan kota yang tertata baik di permukaan ataupun bawah tanah. Sehingga bukan tidak mungkin suatu saat negara Belanda akan sukses menghasilkan terobosan lain seperti kota vertikal yang fungsi-fungsi lahan nya terpisah menjadi beberapa ruang di bawah tanah.

Usaha negara Belanda untuk melakukan inovasi pada ruang kota menjadi bukti kegigihan negeri ini untuk melawan keterbatasan. Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan energi serta infrastruktur mendorong negara ini untuk terus menemukan solusi hingga akhirnya dapat dikenal baik dari segi ekologi maupun ekonomi. Apa yang dilakukan negara Belanda tentunya dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara lain bahwa melawan keterbatasan dan beradaptasi dengan perubahan adalah cara ampuh untuk menjaga kebertahanan.
“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change.” -Charles Darwin, 1809-1882-

image007

Sumber Referensi :

http://www.caticon.nl/caticon.nl/index.php/en/second-menu

http://mimoa.eu/projects/Netherlands/Rotterdam/Wilhelminaplein%20Subway%20Station

http://www.e-architect.co.uk/architects/zwarts-jansma

http://fbe-studiocollaboration.unsw.wikispaces.net/file/view/Future+of+underground+space-+S.+Durmisevic.pdf

http://www.ita-aites.org/en/future-events/download/95_8ec09f9ae05f422bbbfd9348dc834401