651. DOING MORE WITH LESS

Penulis : META MULYANI
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Pertumbuhan penduduk di dunia semakin lama semakin meningkat, permasalahannya adalah ketersediaan lahan pertanian untuk menghasilkan makanan semakin berkurang. Berdasarkan neraca pangan dunia tahun 2025 yang dikeluarkan oleh World Bank diperkirakan akan terjadi ketidak seimbangan pangan dunia atau disebut krisis pangan dunia. Krisis pangan ini terjadi akibat konsumsi pangan melebihi ketersediaan produksi pangan. Menurut World Bank pada tahun 2025 diperkirakan permintaan pangan di dunia sebesar 3046,5 sedangkan produksinya hanya 2977,7, keseimbangannya pada tahun 2025 adalah -68,8.

Oleh karena itu, negara-negara di dunia sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengatasi krisis pangan. Salah satu di antar negara-negara tersebut adalah Belanda. Belanda bukanlah negara yang memiliki lahan pertanian yang luas, untuk itulah Belanda berusaha mengembangkan pengetahuan dan keahlian untuk menghasilkan inovasi terbaru di bidang pertanian. Bahkan saat ini Belanda adalah negara eksportir pangan terbesar ke dua di dunia.

Rahasia kesuksesan pengelolan lahan pertanian di Belanda menurut Dr. Aalt Dijkhuizen, President of the Dutch Top Sector Agri & Food, yang pertama adalah doing more with less yang artinya adalah meningkatkan efisiensi produksi pangan dengan mengurangi jumlah lahan dan sumber daya yang dibutuhkan per kilogram makanan serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Yang ke dua adalah penimgkatan nilai tambah pengembangan produk. Maksudnya adalah pengembangan makanan yang diperkaya dengan nutrisi dan penggunaan teknologi untuk mengurangi kadar garam, gula, dan lemak dalam makanan. Akan tetapi menurut Dr. Aalt Dijkhuizen yang paling penting dalam keberhasilan sektor pertanian pangan Belanda adalah kerjasama antara pemerintah, bisnis, universitas dan lembaga penelitian.

Belanda bukan hanya semata-mata menjual saja tetapi juga bagaimana menjadi ahli dalam bidang pertanian dan makanan. Belanda sadar bahwa konsumen juga memperhatikan bagaimana produksi makanan tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Apalagi Belanda merupakan negara yang sebagian wilayahnya berada di bawah laut. Dulu inovasinya hanyalah tanah reklamasi diubah menjadi monokultur daerah-daerah pengairan atau “polders” untuk menggembalakan ternak. Kini Belanda semakin maju dengan inovasinya. Kini komunitas petani Belanda mengembangkan “sustainable intensive agriculture”. Beberapa inovasi di bidang pertanian yang dihasilkan adalah mesin untuk membersihakan kotoran hewan peternakan sehingga emisi amonia bis dikurangi. Selain itu Belanda juga mengembangkan mesin-mesin terbaru misalnya kamera melayang yang memeberitahu dosis pepetisida yang dibutuhkan setiap tomat sehingga mengurangi penggunaan peptisida sebanyak 85%. Beberapa rumah kaca di belanda juga memiliki panel surya dan lebih banyak memproduksi energi daripada penggunaannya dengan demikian emisi karbondioksida dikurangi dan kelebihan panasnya didaur ulang dan disimpan untuk musim dingin untuk menghangatkan air tanah atau dijadikan sumber energi rumahan.

Rumah kaca memang memiliki peranan yang penting dalam pengembangan pertanian di Belanda. di Belanda dilakukan intesifikasi lahan pertanian dengan dengan sistem kluster terpadu. Dengan sistem ini ratusan rumah kaca berteknologi tinggi diintegrasikan dengan pelabuhan Rotterdam dan bandara Schipol serta pelelangan hasil produksi yang didukung oleh sistem IT dan logistik yang kuat. Dengan demikian para pembeli dengan mudah mengaksesnya.

Keunggulan pertanian di Belanda juga karena para petani Belanda membeli bibit terbaik dari Afrika dan dikembangkan dalam rumah kaca yang mereka miliki untuk kemudian hasilnya dijual ke negara yang membutuhkan.

Dalam keterbatasan jumlah lahan yang dimilikinya justru mendesak Belanda untuk menjadi ahli di bidang pertanian. Keberhasilan di bidang pertanian ini juga ditopang dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh kementerian pertanian dan pangan. Apalagi dengan adanya kerjasama antara pemerintah, swasta, dan universitas serta peneliti menjadikan keterbatasan bukan suatu penghalang lagi tapi menjadi suatu dorongan bagi Belanda untuk terus berinovasi.

Bagaimana dengan Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang luas ? Sudah seharusnya pemerintah mendorong kerjasama dengan swasta dan juga memberikan bantuan kepada para peneliti untuk menemukan lebih banyak lagi inovasi di bidang pertanian.

Referensi :
Wafa, Indra.”Gambaran Umum Pangan Dunia”, dalam Paskomnas http://www.paskomnas.com/id/berita/Gambaran-Umum-Pangan-Dunia.php diakses 27 April 2015.
“Leading the Way in Food Production and Innovation”, dalam http://unitedkingdom.nlembassy.org/doing-business/business-news-alert-articles/agri-food/leading-the-way-in-food-production-and-innovation.html diakses 27 April 2015.
Ahmad, Ridwansyah Yusuf.2013. “Pada Kita Belajar Tani dan Pangan” dalam http://m.detik.com/news/read/2013/11/17/173444/2415273/103/1/pada-belanda-kita-belajar-tani-dan-pangan diakses 27 April 2015.
“Polder and Wiser”, dalam The Economist http://www.economist.com/news/business/21613356-dutch-farmers-add-sustainability-their-enviable-productivity-polder-and-wiser diakses 27 April 2015.