661. HIDUP BERSAMA AIR

Penulis : CHAERUL SABARA
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda merupakan salah satu Negara yang memiliki wilayah terletak di bawah permukaan laut, sekitar 60 % wilayah Negeri Belanda ketinggian permukaannya terletak di bawah permukaan laut, dengan kondisi topografi seperti ini maka tidaklah mengherankan jika Belanda rentan dengan bahaya yang ditimbulkan oleh air.

Meningkatnya suhu permukaan Bumi yang diakibatkan oleh pemanasan global dalam kurun waktu satu abad terakhir telah mengubah cuaca dan iklim diberbagai wilayah Bumi, terutama di daerah Kutub Utara yang memicu meningkatnya tinggi permukaan air laut, dimana kenaikan sebesar 100 cm akan menyebabkan sekitar 6% wilayah Belanda akan tenggelam. Disamping itu dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka akan bertambah pula kebutuhan akan lahan baik untuk pemukiman maupun untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur, hal inilah yang mendorong pemerintah maupun masyarakat negeri Belanda untuk melakukan upaya-upaya agar dapat memanfaatkan semaksimal mungkin kondisi alam mereka dengan melakukan inovasi-inovasi serta terobosan-terobosan guna bekerjasama untuk air.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah perencanaan khusus bagi rumah apung yang merupakan salah satu cara adaptasi pemerintah Belanda terhadap dampak kenaikan permukaan laut dan curah hujan yang meningkat akibat perubahan iklim. Bagi Negeri Belanda, perubahan kecil pada fluktuasi permukaan air membawa dampak dan masalah yang serius bagi sebahagian besar wilayahnya.

Menurut pakar Komisi Delta pemerintahan Belanda, permukaan air laut akan naik di Belanda hingga 1,3 meter dalam satu abad ke depan, dan mencapai 4 meter dalam 200 tahun mendatang. Sepertiga wilayah Belanda terletak sejajar dengan permukaan air laut, atau dibawahnya. Lalu ada juga ancaman kenaikan tingkat permukaan sungai. Akibat perubahan iklim, sungai yang mengalir masuk ke Belanda lebih penuh dari sebelumnya, kata Pavel Kabat, pakar iklim Komisi Delta. “Masalah ini tidak bisa dipecahkan hanya dengan tanggul, kami harus mengubah strategi,” ungkap Kabat. “Kami tidak boleh melihat air sebagai bahaya, namun lebih sebagai peluang, sebagai tantangan.”

‘Leven met water’ atau hidup bersama air merupakan sebuah strategi baru dalam perencanaan teknik sipil di Belanda. Sebuah terobosan dan perubahan besar tengah terjadi, strategi yang dikembangkan tidak lagi melawan kenaikan air, tetapi justru berusaha dengan bekerja bersama kenaikan air. Rawa-rawa yang sebelumnya telah diberi tanggul kembali dibanjiri, kanal-kanal yang sudah tidak digunakan lagi kembali dimanfaatkan, serta membangun danau-danau penampungan. Di sejumlah lokasi, sungai-sungai digali lebih dalam, dan tanggul-tanggul dipindahkan jauh dari pinggiran sungai.

Membangun pemukiman modern di atas air, deretan rumah apung sengaja dibuat terapung hampir di setiap kota di Belanda. Ini bisa dilihat di sepanjang kanal yang terdapat di ‘negeri air’ ini. Saat ini terdapat sekitar 10.000 rumah perahu di negara ini.yang mana 2.500 diantaranya dibangun di sepanjang kanal-kanal kota Amsterdam. Meskipun rumah perahu atau rumah apung ini berbeda dari rumah biasa, namun di dalamnya rumah ini tampak seperti rumah pada umumnya. Hanya saja, hampir sebahagian besar dari rumah ini tergenang air. Rumah-rumah ini banyak terdapat di sepanjang distrik-distrik kanal besar di Amsterdam seperti di Prinsengracht dan Singelgracht. Diatas rumah apung inilah mereka bertempat tinggal dan beraktifitas. Dengan luas wilayah 41.526 kilometer persegi dan 60% wilayahnya terletak lebih rendah dari permukaan laut, namun Belanda mampu menampung penduduknya sehingga dapat tumbuh dan berkembang meskipun terapung di atas air.

Ada dua jenis rumah yang didirikan di atas air yaitu rumah yang berbentuk persegi panjang yang disebut dengan rumah apung. Rumah ini dibuat berdiri di atas fondasi yang sulit dan tidak dapat digerakkan. Dan jenis lainnya adalah perahu yang diubah dan dibuat menjadi rumah tempat tinggal yang ditambatkan di sisi kanal. Banyak diantaranya yang memiliki mesin dan dapat digunakan untuk berlayar.

Di dalam rumah perahu dan rumah apung ini sama seperti rumah biasa terdapat ruang tamu, kamar tidur, dapur, perpustakaan kecil, dan memiliki fasilitas air, listrik, dan gas. Bahkan setiap rumah perahu dan rumah apung memiliki alamat resmi dan kotak surat masing-masing. Menurut sejarah, rumah-rumah perahu menjamur di Amsterdam karena terbatasnya lahan untuk perumahan. Orang-orang yang tinggal di atas rumah perahu ini dijuluki “wateryuppies”.

Layaknya kapal yang berlabuh, setiap rumah diikat ke empat titik tambatan kapal, rumah apung sedikit bergoyang saat ada ombak,namun lama-kelamaan para penghuninya akan terbiasa . Fondasi bangunan diisi dengan campuran semen dan busa pemberat. Kemudian gelang-gelang yang tertempel pada palang-palang yang terbenam dalam laut memastikan agar rumah tidak terbawa arus. Rumah apung ini juga dapat bergerak naik turun, tergantung tingkat permukaan air.

Sungguh merupakan suatu kenikmatan tersendiri dengan bertempat tinggal di Rumah perahu atau rumah apung ini, hari-hari akan terasa sebagai liburan permanen menikmati suasana di atas perahu, sungguh sebuah Solusi bijak dan cerdas dengan hidup secara harmonis dan beradaptasi dengan kondisi yang ada.

image001
By Alf van Beem [CC0], via Wikimedia Commons

image002
By (Ceinturion) [Public domain], via Wikimedia Commons

Referensi : http://www.dw.de/rumah-apung-cara-belanda-atasi-perubahan-iklim/a-17533962
http://www.dw.de/cuaca-buruk-baik-untuk -iklim/a-17454045