664. Inovasi itu bernama optimisme

Penulis : Nyimas Gandasari
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Abad bapak saya dimulai dengan warna cokelat dan hitam, dengan bau kayu dan ter, dengan keringat, besi, dan tanah. Namun di balik itu bersinar suatu optimisme yang tinggi, suatu keyakinan akan kemajuan, teknik dan manusia baru yang akan datang.—Geert Mak dalam “Abad Bapak Saya”

Sulit membayangkan bahwa deskripsi yang saya pilih menjadi lead tulisan di atas adalah deskripsi negeri Belanda berabad-abad yang lalu. Bagaimana tidak, Belanda hari ini adalah negara maju dengan pendapatan per kapita terbesar ke-14 sedunia. Pertanyaannya kemudian, how come?

Menarik sekali membaca Belanda yang ditulis oleh seorang Dutch; Geert Mak—ini pada masa-masa kelamnya—di tengah himpitan perang tentu saja. Bukan untuk mencemooh, namun untuk mempelajari bagaimana negeri ini bangkit di masa-masa paling hitam dan bertarung menaklukan segala keterbatasan yang ada serta berdamai bersamanya. Prosesi “berdamai” dengan segala keterbatasan disertai dengan upaya pembaharuan dan perbaikan inilah yang saya maknai sebagai inovasi.

Pada tahun 1953, ketika perang-perang di dunia mulai berangsur reda, seluruh penjuru negeri berbenah. Berbenah dari seluruh dampak yang mengerikan dari sisa-sisa kolonialisme dan keganasan perang. Tak terkecuali Belanda. Di saat masa “recovery” dan memulai pembangunan di dalam negerinya, bencana besar menyapa Belanda di bulan Februari 1953. Badai yang melanda seluruh Laut Utara menewaskan hampir 2000 orang dan membanjiri ribuan kilometer persegi tanah di negeri kincir angin ini.

Sebelum bencana tersebut datang, bangsa Belanda telah lama harus berdamai dengan alam mereka yang unik. Sejak lama bangsa ini menyadari bahwa lahan tempat tinggal mereka sebagian besar berada di dataran rendah—sangat rendah bahkan. Maka, telah lama pula mereka membangun polder; sebuah dataran rendah yang dikelilingi oleh sistem tanggul terpadu dengan sistem drainase dan pengumpulan serta pemompaan air buangan dari kanal ke muara laut. Polder menjadi sebuah keniscayaan bagi bangsa Belanda yang sebagian besar lahannya adalah daerah rawa.

Di bagian Abad Bapak Saya yang lain, Geert Mak bahkan menyebutkan bahwa polder-polder ini sebenarnya amatlah subur. Setidaknya, begitulah menurut apa yang didengarnya dari sang kakek. Sehingga, sangat marahlah sang kakek ketika di tahun 1953, polder-polder di Rotterdam ini dikotori oleh de blubber—lumpur, yang dapat mengubah padanng rumput yang hijau menjadi kelabu. Kekhawatiran kakek Mak mungkin tidak hanya soal itu, kekhawatiran yang lainnya berwujud ketidakpastian daya tahan polder itu sendiri. Adakah ia kuat untuk menahan beban-beban manusia yang ada di atasnya lengkap dengan laju pertumbuhan dan perkembangannya?

Kekhawatiran tersebut bukan tidak mungkin dipikirkan pula oleh orang-orang Belanda pada masa itu. Namun, kekhawatiran lanjutan tersebut segera dibalut lagi dengan optimisme yang baru. Analisa saya ini bukan tanpa alasan. Lihatlah bagaimana Belanda terus memperbaharui dan memberikan added value pada hal-hal yang telah diupayakanya. Termasuk pada polder system yang telah lama dibangunnya. Di masa 1960-an, Mak menyebutkan di Zeeland, Belanda mulai membangun proyek Delta Work. Proyek ini sesungguhnya tak semata sebagai “reaksi” atas bencana yang meluluhlantakkan Belanda di Februari 1953 silam agar tidak terulang kembali, namun juga memberikan proteksi yang menunjang sistem polder yang tersebar hampir di sekujur Belanda.

Delta Work merupakan proyek yang dibangun selama kurang lebih 30 tahun untuk menghalau banjir yang sangat berpotensi menggenangi tempat tinggal mereka. Pembangunan Delta yang amat lama ini menyebabkan Delta Work dibangun dengan perencanaan yang matang untuk sebuah pertahanan yang kompleks dan terpadu terdiri dari rangkaian bendungan dan tanggul untuk melindungi wilayah pesisir dari laut. Mulut sungai utama ditutup dan garis pantai disingkat oleh sekitar 500 km. Akibatnya air di belakang bendungan berubah menjadi danau air tawar.

Sistem polder dan proyek Delta ini menjadi inovasi dari negeri Belanda paling mengundang inspirasi bagi negeri-negeri lainnya. Terbukti, salah satu negara yang terinspirasi dengan pertahanan paling solid Delta Work ini adalah Jepang. Pada masa pemerintahan Meiji, negeri matahari terbit ini sampai harus meminta bantuan Belanda, melalui insinyur C.J. van Doorn, untuk membantu mendesain pembangunan kanal irigasi Fukusima Prefektur yang juga ditujukan salah satunya untuk menghalau banjir di pegunungan Jepang kala itu.

Polder system dan Delta Work bukan satu-satunya inovasi yang dilahirkan oleh Belanda. Di segala elemen, Belanda senantiasa menghasilkan inovasi yang tidak semata bermanfaat bagi dirinya, namun juga bagi umat manusia secara umum. Barangkali, inovasi bagi bangsa Belanda adalah detak jantung itu sendiri, dimana mereka akan terus berbuat-berpikir-berharap-berbuat lagi, begitu seterusnya. Karena sejatinya, di tengah ketidakpastian alam yang mereka tinggali, inovasi adalah semisal wujud lain bernama optimisme menaklukkan dan hidup selaras dengan alamnya.

Referensi :
Mak, Geert. 2009. Abad Bapak Saya. Jakarta: PT. Suara Harapan Bangsa
http://www.holland.com/global/tourism/article/the-beemster-polder.htm diakses 24 April 2015
http://static.nai.nl/polders/e/index.html diakses 24 April 2015
http://www.unmuseum.org/7wonders/zunderzee.htm diakses 24 April 2015
http://www.geocaching.com/geocache/GC4JVGW_dutch-fuji-ilha?guid=bc59d735-a0c2-47bc-bf89-f93ac4bedf67 diakses 24 April 2015