668. Air, dari Masalah menjadi Berkah

Penulis : Reza Kesatria Aribiulakhirsyah Rusandi
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda, begitu kita menyebutnya. Negara yang kolonialismenya dulu bertahan paling lama di Indonesia ini ternyata memiliki cerita yang akan membuat kita memandang Belanda bukan lagi sebagai negara penjajah yang kejam, tapi sebagai negara dengan determinasi tinggi yang bisa menginspirasi negara-negara lain yang sedang mengalami hambatan dalam berkembang.

Sejarah dan Geografi
18.000 tahun silam, dibagian utara Eropa terdapat dataran rendah luas yang ditinggali secara nomaden oleh manusia. Seiring waktu, terjadi peningkatan suhu bumi yang menyebabkan naiknya ketinggian air laut dan menenggelamkan dataran tersebut. Ribuan tahun berjalan, daratan yang telah menjadi lautan tersebut kemudian dikenal sebagai Laut Utara, sementara daratan yang masih tersisa di kenal dengan nama Netherlands [1,2].

Netherlands dalam bahasa Belanda berarti daratan yang rendah. Sejarah geografisnya membuat negara ini identik dengan perairan. Pada sebelah utara sampai barat daya, Belanda berbatasan dengan Laut Utara. Dataran tertingginya hanya 321 meter di atas permukaan laut. Setengah dari wilayahnya berada kurang dari satu meter di atas permukaan laut, seperlima dari seluruh wilayahnya bahkan berada di bawah permukaan laut [3,4]. Sungai dan danau menjadi gambaran khas. Sungai Rhine, Meuse, dan Scheldt adalah tiga yang utama dan membentuk delta yang merupakan bagian besar dari daratan Belanda [5,6].

image002
Gambar 1. Delta Rhine–Meuse–Scheldt, daratan yang terbentuk dari pengendapan pasir dan tanah yang terbawa oleh aliran sungai Rhine, Meuse dan Scheldt dan menjadi bagian besar dari area daratan Belanda.
Sumber:http://www.energisingdeltas.com/wp-content/uploads/Deltas-TheNetherlands.jpg

“Tuhan Menciptakan Dunia, namun Belanda menciptakan Netherlands” – Rene Descarter
Daratan Belanda yang rendah berisiko terhadap banjir yang menyebabkan pengikisan dan penyempitan luas daratan. Daerah utara terancam banjir dari pasang air laut, sementara daerah lainnya, terutama daerah delta terancam banjir dari pasang air sungai. Banjir-banjir besar dimasa lalu yang merenggut nyawa dan mengikis luasnya daratan mendorong Belanda untuk berinovasi dalam menjalani hidup berdampingan dengan air [5].
Inovasi dari Zaman ke Zaman
1. Terp
Sekitar tahun 500-an SM, para penduduk di Provinsi Friesland menghindari banjir dengan menumpuk tanah dan lumpur untuk membuat dataran artifisial yang tingginya mencapai lima belas meter lalu membangun rumah di atasnya. Dataran ini dikenal dengan nama ”terp” dalam Bahasa Frisian lama, yang berarti kampung [2,7]. Terp kedua dibangun antara tahun 200 – 50 SM. Pada pertengahan abad ke-3 pasang air laut yang hebat menyebakan terp banyak ditinggalkan, dan kembali dihuni pada tahun 400 masehi. Terp ketiga dibangun dari tahun 700 masehi dan berakhir saat ditemukannya tehnik pembuatan tanggul [7].

image004
Gambar 2. Terp, bukit buatan yang berguna sebagai tempat bertahan dari banjir.
Sumber: http://www.dutchwatersector.com/uploads/cache/cmkgtt3k1b.jpg

2. Tanggul
Setelah tahun 1000 masehi, populasi meningkat dan terp berkembang menjadi pedesaan. Tahun 1170, laut kembali menyapu daratan, membuat penduduk tergerak untuk menghubungkan terp-terp terpisah yang akhirnya menjadi tanggul pertama yang berdiri pada tahun 1200-an [1,8,9,10]. Mekanisme dan materi pembuatan tanggul terus berkembang. Mulai dari memanfaatkan lapisan sedimen sisa air pasang, menggunakan rumput laut sebagai lapisan pelindung gelombang, hingga menggunakan pasir murni dengan lapisan tebal anti air dari tanah liat untuk mencegah erosi, dan menggunakan bebatuan sebagai lapisan pelengkap, lalu diperindah dengan rumput hijau serta kawanan domba yang berperan dalam mempertahankan kepadatan tanah [8].

image005
Gambar 3. Tanggul, yang dibangun di Sungai Nederrijn (salah satu anak sungai Rhine) pada tahun 1995.
Sumber: http://ak.picdn.net/shutterstock/videos/6972616/preview/stock-footage-sheep-graze-on-sea-dike-pan-wadden-sea-near-paesens-moddergat-the-netherlands.jpg

3. Pengembangan Area Rawa dan Sistem Polder
Polder adalah sebidang tanah rendah hasil reklamasi sungai atau laut yang dikelilingi oleh tanggul sebagai pelindung. Terdapat lebih dari tiga ribu polder di Belanda [11, 12]. Sejak awal dibangun, polder terus berkembang, rawa dan gambut dikeringkan dengan menggali sistem drainase untuk mengalirkan airnya ke sungai atau laut agar area tersebut cocok untuk pertanian. Pada masa ini, sektor agrikultur mengalami kemajuan. Air yang awalnya adalah masalah, berhasil dirubah menjadi pendukung besar pertanian. Namun, drainase menyebabkan gambut berhenti berkembang. Oksidasi terjadi karena tanah langsung terpajan udara, ketinggian lahan menurun, lahan kembali menjadi basah dan tidak baik untuk pertanian sehingga harus dijadikan area peternakan. Lahan pertanian baru dibuka dengan melakukan drainase lahan gambut baru, namun setelah ketinggiannya juga menurun dan kadar airnya meningkat, lahan tersebut pun difungsikan untuk peternakan. Lahan gambut baru kembali dicari untuk dijadikan lahan pertanian, begitu seterusnya sampai tidak ada lagi lahan tersisa. Lahan terus menurun bahkan menjadi lebih rendah dari permukaan sungai atau laut, drainase tidak lagi efektif untuk mengalirkan air, tanah bahkan sudah tidak cocok untuk peternakan, risiko terjadinya banjir area polder karena arus balik air pun meningkat [8, 12, 13].

Inovasi Tiada Henti
Tidak goyah, Belanda membangun bendungan-bendungan pada mulut sungai dan laut untuk mencegah arus balik. Pada abad ke-15 kincir angin mulai dibangun untuk memompa air dari polder di area lebih rendah ke kanal-kanal penghubung sungai dan laut di area yang lebih tinggi. Sekitar seribu seratus kincir angin tersebar di seluruh Belanda dan menjadi objek wisata. Sistem polder terus berkembang seiring zaman diikuti dengan perkembangan industri pertanian dan peternakan [13].

image007
Gambar 4. Gambaran sederhana cara kerja polder.
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-bKZABL4sUyw/T0zROThON0I/AAAAAAAAADs/qGDxFw7iDoA/s1600/cara+kerja.jpg

4. Proyek Delta
Sejak proses pembangunan dan perkembangan belasan ribu tahun lalu, ratusan banjir sungai dan puluhan banjir laut pernah menghancurkan infrastruktur serta menggoyahkan sektor negara terutama perekonomian [14]. Salah satu banjir terbesar adalah banjir Laut Utara tahun 1953 yang merenggut 1800 nyawa dan menenggelamkan 135.000 hektar lahan. Pemerintah membentuk Komite Delta untuk melakukan penanggulangan terjadinya bencana serupa. Komite Delta memulai misi yang saat itu skalanya tidak terukur, sebuah proyek raksasa yang dikenal dengan proyek Delta[15].

image009
Gambar 5. Skema Penyebaran Proyek Delta. Garis biru menggambarkan proyek delta yang dibangun.
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/33/Deltawerken_na.png/350px-Deltawerken_na.png

Prinsip dasarnya memperpendek garis pantai, proyek ini membangun rangkaian bendungan, pintu air, tanggul dan barier badai gelombang di sekitar delta Rhine-Meuse-Scheldt. Selain sebagai pelindung banjir, proyek delta bermanfaat besar dalam; peningkatan mutu perairan pertanian dan manajemen air, mempermudah lalu lintas air, dan perkembangan perekonomian dan rekreasi [16].

image011
Gambar 6. Barier badai gelombang di Oosterschelde.
Sumber: http://www.holland.com/upload_mm/c/f/9/3270_fullimage_deltawerken%20neeltje%20jans%20oosterscheldekering.jpg_560x350.jpg

Masalah menjadi Berkah
Pertahanan Militer
Sebelum ditemukannya perangkat perang udara, banjir buatan setinggi 30 cm bisa menghambat tentara musuh, dan menyamarkan jebakan bawah air. Cara ini berhasil dalam Perang Belanda Anglo Ketiga tahun 1672 [8].

Pertanian dan Peternakan
Inovasi manajemen perairan Belanda yang hebat menjadikan tanahnya sangat subur sehingga pertanian dan peternakan adalah pilihan utama. Hasil pertanian dan peternakan seperti sayur-sayuran, sereal, bunga, susu dan keju menempati peringkat dunia. Secara finansial, Belanda memegang peringkat kedua dunia setelah Amerika sebagai eksportir hasil agrikultur.[17].

image013
Gambar 7 Hamparan perkebunan tulip yang indah menjadi gambaran alam yang khas di negeri Belanda
Sumber: http://www.thetraveladventure.co.uk/cache_img/142/resource|2316&ft1343746071&netherlands.jpg

Transportasi dan Rekreasi
Belanda memiliki sungai, jembatan, bendungan, kanal, barier badai dan kincir angin yang keindahannya mengundang wisatawan. Dalam industri perairan lainnya, Belanda berperan penting dalam industri penangkapan ikan, pengiriman kontainer dan transportasi air, dengan Pelabuhan Rotterdam menjadi salah satu yang terbesar di dunia [18].

image015
Gambar 8 . Belanda juga memiliki beberapa musium air, olahraga air serta perlombaannya yang juga tak kalah menarik.
Sumber: http://www.holland.com/upload_mm/9/6/2/905_fullimage_surfen%20zandvoort.jpg_560x350.jpg

Hambatan dan masalah besar tidak membuat Belanda menyerah. Determinasi dalam ber-manuver untuk hidup berdampingan dengan air-yang semula adalah masalah besar-telah menjadikan air sendiri sebagai berkah. Hal ini adalah inspirasi untuk negara-negara lain untuk terus berkembang dan maju.

Daftar Referensi
1. Bijlsma, L., 2011. Water Management in Netherland, Rijkswaterstaat, Ministry of Infrastructure and the Environment, Deen Hag
2. Anonim, A Brief History of Netherlands, https://hollandmvp.files.wordpress.com/2013/01/a-brief-history-of-the-netherland.pdf didownload pada tanggal 21 April 2015
3. Anonim, Short history of Netherlands, http://www.amsterdam.info/netherlands/history/ diakses pada tanggal 21 April 2015.
4. Eupedia, Interesting Facts about Netherlands, www.eupedia.com/netherlands/trivia.shtml diakses pada tanggal 21 April 2015
5. Tol, R. S. J., Langena, A., 2000. A Concise History of Dutch River Floods, Climatic Change (Vol 46) 357-369, Kluwer Academic Publishers, Netherlands
6. Wikipedia, 2015. List of Rivers of The Netherlands, http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_rivers_of_the_Netherlands diakses pada tanggal 22 April 2015.
7. Wikipedia, 2015. Artificial Dwelling Hill, http://en.wikipedia.org/wiki/Artificial_dwelling_hill diakses pada tanggal 22 April 2015
8. Wikipedia, 2015. Flood Control in The Netherlands, http://en.wikipedia.org/wiki/Flood_control_in_the_Netherlands, diakses pada tanggal 23 April 2015
9. Ecomare., Sea Dikes, http://www.ecomare.nl/en/encyclopedia/man-and-the-environment/water-management/coastal-protection/sea-dikes/, diakses pada tanggal 24 April 2015
10. Rosenberg, M., Polders and Dikes of the Netherlands , The Reclamation of Land in the Netherlands Through Dikes and Polders, http://geography.about.com/od/specificplacesofinterest/a/dykes.htm, diakses pada tanggal 24 April 2015
11. Dictionary.com, http://dictionary.reference.com/browse/polder, diakses pada tanggal 27 April 2015
12. Green, J., 2010. The Netherlands’ Evolving Relationship with Water http://dirt.asla.org/2010/09/10/the-netherlands-changing-relationship-with-water/
13. Schoubroeck F.V., Kool, H., The remarkable history of polder systems in The Netherlands, Presented in “Agricultural Heritage Systems of 21st Century by Swaminathan Research Foundation”, 2010
14. Wikipedia, 2015. Floods in The Netherlands, http://en.wikipedia.org/wiki/Floods_in_the_Netherlands diakses pada tanggal 27 April 2015
15. Angremond, K. D., 2003. From Disaster to Delta Project: The Storm Floof od 1953, Terra-et-Aqua, No 90
16. Deltawerken, 2009, Water, Nature, People, Technology, Deltawerken Online, California
17. United Nation, 2008. Agriculture and Sustainable Development in The Netherlands, National Information-Netherlands, Department of Economic and Social Affairs.
18. Anonim, Water, http://www.holland.com/global/tourism/article/water.htm diakses pada tanggal 27 April 2015