669. Belanda Dan Cara Cerdiknya Menanggapi Isu Sustainable Development

Penulis : Diah Sulung Syafitri
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Hari ini, dunia sedang disibukkan dengan isu sustainable development, sebuah konsep pembangunan yang bertumpu pada pelestarian lingkungan. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan Berkelanjutan Johannesburg Afrika Selatan, setiap negara dihimbau untuk mengembangkan dan menyebarkan teknologi energi alternatif dengan tujuan meningkatkan pangsa energi terbarukan dakam kombinasi sumber energi (energi mix), meningkatkan efisiensi energi, dan kebergantungan yang lebih besar pada teknologi energi yang maju. Gaung isu sustainable development menguat seiring dengan semakin timpangnya grafik pembangunan ekonomi dunia dengan kualitas lingkungan dimana makhluk hidup sekarang tinggal.

Belanda menyikapi isu tersebut dengan bijak. Predikat sebagai 10 besar negara maju di dunia – yang berarti salah satu penyumbang polusi udara terbesar juga didunia-, membuatnya menciptakan inovasi-inovasi guna turut berpartisipasi aktif menyokong agenda sustainable development tersebut.

Adalah Amsterdam, kota terpadat di Belanda yang membutuhkan 600 truk untuk mengangkut 25% (kurang lebih 440 ton) dari total sampah dan limbah yang dihasilkan seluruh warga Belanda per harinya. Dulunya, sampah dan limbah ini hanya diangkut oleh truk sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kemudian dibakar. Pembakaran sampah dan limbah ini lah yang menjadi persoalan utama pemerintah Belanda kala itu. Selain menimbulkan polusi udara berskala massif serta membahayakan kesehatan warga negaranya, panas yang dihasilkan juga akan hilang begitu saja bersamaan dengan lenyapnya sampah dan limbah tersebut.

Maka, Belanda berpikir keras untuk menciptakan suatu teknologi yang bisa mengubah energi panas (api) dari sisa pembakaran sampah dan limbah menjadi suatu energi listrik terbarukan untuk kebutuhan rumah tangga. Belanda bekerja sangat keras untuk menemukan suatu teknik yang bisa melakukan pembakaran sampah dan limbah tanpa efek samping yang dapat menimbulkan polusi udara dan membahayakan kesehatan.

Lalu, ditemukan lah teknologi bernama Insinerasi (dalam kamus bahasa Inggris incineration). Secara keseluruhan, sampah dan limbah yang dibakar dengan teknologi ini akan mengasilkan output abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Melalui teknologi ini juga, gas yang dihasilkan bisa dibersihkan terlebih dahulu dari polutan sebelum dilepas (dibuang) ke atmosfer. Sedangkan, besarnya panas yang dihasilkan akan secara langsung memutar turbin generator, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik. Dari 1 ton sampah dan limbah yang terkumpul pada TPA, hanya ½ kilogram saja yang akan bisa diproses. Mengapa?

Pemerintah Belanda begitu peduli pada kelestarian lingkungan dan kesehatan warga negaranya. Hanya sampah dan limbah yang tidak beracun lah yang boleh dibakar. Sedangkan, sampah dan limbah yang mengandung gas beracun, harus dipisah dan tidak boleh dibakar. Namun, fakta yang akan kita dapat begitu mencengangkan. ½ kilogram sampah dan limbah yang telah dibakar dengan teknologi insinerasi mampu mensuplai 50.000 pemanas rumah tangga dengan kekuatan 91 kw. Energi listrik yang dihasilkan bisa mencapai 900 kw per jamnya, lebih dari cukup untuk menerangi lampu-lampu di jalanan kota Amsterdam, serta menghasilkan 17.740 ton besi dan 2,6 ton metal.

image002
Metode pembakaran sampah dan limbah ala Belanda yang mampu mengubah energi panas (api) menjadi listrik (Gb. 1)

Bisa jadi, keprihatinan Belanda terhadap isu sustainable development melebihi negara-negara maju lainnya. Keprihatinan ini lah yang membuatnya tak pernah cukup puas menciptakan satu teknologi untuk pengembangan energi alternatif terbarukan. Belanda selalu berhasil mengubah sesuatu yang dianggap momok menjadi sumber energi alternatif terbarukan. Yang pertama sampah. Yang berikutnya adalah panas matahari.

Bagi sebagian besar ahli, suhu matahari yang semakin tinggi dianggap sebagai sesuatu yang “bahaya” terhadap keberlangsungan hidup umat manusia di bumi. Namun, bagi ahli energi Belanda, Om Camille Van Gesel dan Om Kim Van Der Leew, hal tersebut justru menjadi trigger untuk berinovasi lagi; mengubah panas menjadi listrik. Sebuah chip surya diciptakan untuk mendorong efisiensi sel surya dengan cara diletakkan begitu saja dibawah terik sinar matahari. Chip surya tersebut akan menangkap energi panas (api) matahari dan menyimpannya kedalam baterai. Panas matahari adalah sumber api (panas) terbaik. Karenanya, chip surya ini mampu difungsikan pula sebagai power bank.

image004
Chip Surya yang mampu mengubah energi panas matahari (api) menjadi energi listrik terbarukan.(Gb. 2)

Bahkan, teknologi yang satu ini menjadi problem solving bagi negara-negara berkembang yang mendapat intesitas sinar matahari tinggi (negara-negara gurun utamanya), namun kebutuhan energi listriknya belum memadai. Kenya dan banyak negara di Afrika telah menikmati hasil inovasi ahli energi Belanda ini.

Belanda teguh memegang prinsip sustainable development yang menjadi komitmen global, tanpa harus mengorbankan aspek perekonomian mereka yang sedang tumbuh pesat. Belanda teguh memegang prinsip sustainable development, tanpa harus mengorbankan kualitas lingkungan ataupun kesehatan warga negaranya akibat polusi udara yang dihasilkan industri-industri besar mereka. Belanda kerahkan segala daya untuk menghasilkan inovasi energi alternatif terbarukan yang tidak hanya menjadi kebanggaan bagi negaranya, melainkan kebaikan bagi seluruh umat manusia di bumi. (diah)

Sumber:
1. Supriadi, S.H., M. Hum dalam buku Hukum Lingkungan Di Indonesia, bagian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan Berkelanjutan Johannesburg Afrika Selatan, hlm: 89.
2. www.brainly.co.id/tugas/1656920
3. http://www.digitaltrends.com/cool-tech/kickstarter-in-depth-qa-wakawaka-solar-led-light/
4. http://inhabitat.com/waka-waka-lights-portable-solar-lamp-uses-the-suns-energy-to-charges-cell-phones/