674. Berkat Belanda, Indonesia Mengenal Alat Transportasi yang Satu Ini !

Penulis : Erlienda Novitasari
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Belanda merupakan salah satu negara bagian dari benua Eropa yang pernah menorehkan cerita di lembar sejarah Indonesia. Keberadaannya pun tidak memungkiri akan meninggalkan pengaruh bagi rakyat pribumi. Salah satunya dalam bidang transportasi.

Alat transportasi merupakan salah satu kebutuhan vital suatu negara. Dengan sistem transportasi yang baik, sebuah negara akan memiliki kemampuan mobilitas yang tinggi untuk memajukan bangsanya. Kehadiran Belanda di Indonesia selama 350 tahun membawa dampak yang baik dalam bidang transportasi di Indonesia, khususnya sarana dan prasarana transportasi kereta api. Lantas, bagaimana Belanda mengenalkan kereta api pada Indonesia ?

Awal sejarah kereta api di Indonesia dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J. Baron Sloet van den Beele tahun 1864, di Desa Kemijen, Semarang. Lahirnya kereta api sekaligus juga menandai awal industrialisasi di Indonesia. Pembangunan diprakarsai oleh “Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij” (NIS) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm.

Pada tahun 1825-1830 terjadi perang Diponegoro yang mengakibatkan Belanda mengalami kebangkrutan ekonomi. Hal ini melatarbelakangi penerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) oleh Belanda. Sistem ini mewajibkan penduduk lokal menanam tanaman untuk pasar Eropa. Tanaman tersebut meliputi nila, tebu, tembakau, kopi, kapas. Saat itulah, kereta api dibangun dengan fungsi utama sebagai alat angkut (lori) tebu dan hasil perkebunan lainnya sampai tiga tahun pertama. Pada awalnya, kereta api dibangun untuk memperlancar mobilitas mereka di Indonesia. Tetapi, secara tidak langsung hal ini membuat suatu kemajuan untuk pembangunan Indonesia. Di tahun 1870, NIS membangun jalan kereta api antara Samarang-Tanggung. Pembangunan ini menarik perhatian para investor untuk mengembangkan transportasi kereta api di Indonesia. Meski demikian, pada kenyataannya, investasi jalan kereta adalah investasi yang sangat mahal harganya. Hal ini menyebabkan para investor enggan menanamkan modalnya pada pembangunan kereta api ini. Sangat jelas ini menyebabkan pembangunannya amenjadi berjalan lambat.

Pada tahun 1876, Pemerintah Kolonial Belanda membangun berbagai jaringan kereta api, dengan muara pada pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya. Pembangun ini lagi-lagi dilakukan semata-mata untuk mempermudah mobilitas pengiriman hasil bumi di Indonesia. Jalur kereta ini selesai dikerjakan pada tahun 1894. Jalur ini menghubungkan Surabaya-Batavia melalui Maos, Yogyakarta dan Solo.

Di tahun 1888, delapan jalur utama kereta telah beroperasi di Jawa dengan sambungan kereta api yang menghubungkan kelima belas kota besarnya. Jalur tersebut meliputi beberapa destinasi, diantaranya seperti berikut:
• Jalur Semarang – Kedung Jati, diresmikan pada tahun 1871.
• Jalur Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor), dibuka pada tahun 1873.
• Jalur Surabaya-Pasuruan, dibuka pada tahun 1878.
• Jalur Bogor-Bandung, diresmikan pada tahun 1884.
• Jalur Surabaya-Batavia, dibuka pada tahun 1894.
(Wikipedia, 2015)

Dalam pembangunan jalan kereta api, berbagai golongan tenaga kerja terlibat. Mulai dari orang pribumi, Cina dan orang Eropa. Orang pribumi dan Cina kebanyakan mereka bekerja sebagai kuli. Sedangkan orang Eropa sebagai kepala cabang, mandor pekerja, pemborong dan teknisi.

Tiga tahun setelah mulai beroperasi di Indonesia, kereta api mulai digunakan untuk mengangkut penumpang. Pada masa itu, jaringan rel dibangun dengan cepat. Hal ini mengakibatkan pada tahun 1939, panjang rel telah mencapai 6.811 km. Pada tahun yang sama, jaringan kereta api telah melebar ke Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan, sehingga kereta api berkembang menjadi tulang punggung utama dalam sistem transportasi darat untuk mengangkut penumpang dan barang.

image002
Peta penyebaran jalur kereta api di Indonesia pada tahun 1888 dan 1925 (http://baanspoor.blogspot.com, 2014)

Sejak dioperasikan tahun 1864 hingga kemerdekaan 1945, pengelola kereta api di Indonesia dikendalikan oleh Staat Spoorwegen (SS), Verenigde Spoorwegenbedrifj (VS) dan Deli Spoorwegen Mastschappij (DSM). Ketiga pihak tersebut berhasil menghantar kereta api sebagai salah satu alat transportasi yang dapat menjangkau banyak tempat dan kota dan menjadikan kereta api sebagai tulang punggung perekonomian yang mengandalkan ekspor hasil perkebunan waktu itu.

image004
Stasiun Bogor tempo dulu yang dibuka pada tahun 1881 (Wikipedia, 2009)

Masyarakat pribumi memiliki reaksi positif atas pembangunan kereta api ini, terutama rakyat kecil. Dengan menggunakan kereta api, mereka menilai bahwa mobilitas mereka semakin tinggi dan menjadi lebih ekonomis.

Inovasi pembangunan kereta api di Indonesia yang diawali pemerintahan Belanda ini dapat kita rasakan manfaatnya sampai saat ini. Animo masyarakat untuk menggunakan alat transportasi yang satu ini dapat dikatakan tinggi. Apalagi dengan semakin dekatnya waktu libur panjang untuk menunaikan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman. Terima kasih Belanda, berkatmu aku mengenalnya.

Referensi
http://baanspoor.blogspot.com/2014/02/jalan-rel-kereta-baanspoor-di-indonesia.html, Diakses pada tanggal 27 April 2015.
http://rendysatriyo.blogspot.com/2013/05/perkembangan-perkeretaapian-di-jawa.html, Diakses pada tanggal 27 April 2015.
Wikipedia. 2009. Stasiun Bogor. http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_perron_van_station_Buitenzorg_TMnr_60013722.jpg, Diakses pada tanggal 27 April 2015.
Wikipedia. 2015. Sejarah Perkeretaapian di Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perkeretaapian_di_Indonesia, Diakses pada tanggal 27 April 2015.