678. Tanggul di Atas Kepala Orang Belanda

Penulis : Vincentius Tangguh Atyanto Nugroho
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Bagi saya, negeri Belanda adalah bunga tulip warna-warni dan gambar perempuan pada kertas kaleng susu kental manis. Tapi menurut orang-orang tua di Jogja, Belanda adalah ingatan takzim akan Universitas Leiden, almamater Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lain lagi menurut pelajaran geografi. Yang paling saya ingat dari guru geografi SMA adalah tanah negeri Belanda yang lebih rendah dari laut dan tanggul-tanggul penahan air. Bagi banyak orang, Belanda adalah kincir angin. Benda ini lebih mencitrakan Belanda daripada tanggul meskipun keduanya adalah konstruksi buatan manusia yang erat kaitannya dengan urusan air dan banjir.

Bentuk kincir angin memang jauh lebih menarik daripada tanggul. Bentuknya yang khas membuatnya kerap menjadi ikon Negeri Belanda. Sementara, tanggul hanyalah susunan memanjang yang membosankan, yang bisa berupa bukit pasir, tanah yang tinggi, atau beton (Slomp hal. 40). Kehadiran tanggul memang bukanlah hal yang istimewa.Tentu saja, karena lebih dari setengah bagian negeri Belanda rentan terhadap resiko kebanjiran. Bahkan, 26% dari daratan mereka berada di bawah permukaan laut (Huizinga hal. 2). Wajar, kan, kalau mereka pasang tanggul di sana-sini.
Benarkah memang begitu? Mari kita perhatikan foto di bawah. Ini adalah pemandangan saat musibah banjir menghantam sebagian Belanda pada dekade 1990an.

image002
(Foto oleh Bart van Eyck, https://beeldbank.rws.nl, Rijkswaterstaat)

Pertama, Anda cermati bagian foto sebelah kiri. Sebuah pemandangan yang dingin dan sunyi. Hanya ada bentangan air seluas pandangan mata. Air membanjir nyaris meluap ke jalan. Apa yang Anda lihat sebagai jalan tak lain adalah bagian atas tanggul yang lebar dan beraspal. Tanggul inilah satu-satunya perlindungan agar air di sisi kiri tidak menelan segala sesuatu yang berada di sisi kanan.

Apa yang ada di sisi kanan jalan? Sebuah pemandangan pedesaan yang indah. Ada hamparan tanah pertanian, ternak yang merumput di kehijauan, bangunan beraneka warna, traktor, dan deretan mobil yang terparkir rapi. Bahkan jika foto diperbesar, akan terlihat pesepeda dan pejalan kaki. Bandingkan tinggi permukaan pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Tampak jelas bahwa permukaan tanah yang kering pada sisi kanan lebih rendah dari permukaan air pada sisi kiri jalan.

Ada yang luar biasa dalam foto tersebut. Ada kekuatan air yang dahsyat dan mematikan di sisi kiri, dan ada manusia yang lemah dan tak berdaya di hadapan kekuatan alam yang sangat besar di sisi kanan.

Upaya manusia menetap di sisi kanan jalan dan melangsungkan kehidupan mereka, sangat berlawanan dengan dahsyatnya maut yang mengintip dari sisi kiri. Foto di atas memberikan gambaran besar mengenai upaya manusia untuk bertahan hidup. Lebih khusus lagi, foto ini menggambarkan kegigihan Bangsa Belanda mendiami dan mengolah negeri mereka.

Usaha untuk mengolah tanah negeri Belanda yang berawa-rawa agar menjadi lebih produktif adalah kisah perjuangan yang panjang. Lebih dari 1000 tahun yang lalu orang mulai menguruk rawa dan menjadikannya lahan pertanian (Slomp hal. 7). Namun, upaya pengurukan telah dimulai jauh sebelumnya. Bahkan Koopmans dan Huussen (hal. xxi) menyebutkan bahwa sudah sejak 300 tahun sebelum Masehi orang membuat terps atau gundukan tanah dan tinggal di atasnya sebagai akibat dari naiknya permukaan laut.

Kebutuhan untuk mengolah tanah rawa menjadi lahan pertanian dan ancaman air pasang telah menempa masyarakat lokal untuk bergotong-royong dan mendirikan sebuah badan bernama waterschappen atau hoogheemraadschappen (Slomp hal. 7). Badan ini beranggotakan perwakilan berbagai unsur masyarakat untuk bersama-sama menata persoalan air di wilayah setempat. Badan ini sifatnya demokratis. Artinya, siapapun yang memiliki kepentingan dengan persoalan air boleh ikut menentukan keputusan dan membayar iuran sesuai besarnya kepentingan mereka. Secara umum, badan ini bertanggung-jawab atas perlindungan terhadap banjir, pengelolaan saluran air, pengawasan kualitas air, serta pengelolaan air limbah (Reinhard & Folmer hal. 156). Badan resmi pengelola air yang pertama kali didirikan adalah Rijnland pada tahun 1248, atau sekitar 8 abad yang lalu (Zeeberg hal. 15).

Selama berabad-abad masyarakat Belanda mengalami berbagai bencana banjir dan mereka belajar untuk saling menolong. Gotong-royong membuat tanggul darurat bukanlah hal yang asing buat mereka.

image004
(Foto oleh Henri Cormont, https://beeldbank.rws.nl, Rijkswaterstaat)

Selama berabad-abad pula masyarakat Belanda terbiasa dengan kehadiran tanggul dan pompa air. Saking terbiasanya, kritik Jong & Hobma (hal. 3), mereka sudah merasa aman dan lupa akan potensi bencana. Namun hal tersebut berubah ketika bencana besar tahun 1953 menerjang.

Akibat gempuran ombak air pasang, pada malam 31 Januari 1953 tanggul di propinsi Zeeland jebol dan Belanda menderita bencana parah. Sebanyak 1.835 orang meninggal dan 72.000 orang kehilangan tempat tinggal. Banjir menggenangi area seluas 200.000 hektar (Oostrom hal. 94). Agar musibah serupa tidak terulang lagi, pemerintah membentuk komite yang terdiri dari para ahli, dan lahirlah Deltacommissie. Inilah babak penting dalam sejarah penanganan masalah air di Belanda. Pemerintah secara resmi mengadopsi metode-metode ilmiah dalam penanganan persoalan air (Slomp hal. 15). Cara-cara baru diperkenalkan dan model perhitungan mutakhir diterapkan, seperti perhitungan pasang surut, perubahan iklim, dan pertumbuhan perekonomian wilayah (Most hal. 2). Tak luput pula adalah pengenalan standar baru keamanan. Sebagai contoh, standar untuk tanggul di seputaran daerah rawan banjir yang padat penduduknya, seperti Amsterdam atau Rotterdam, adalah 1/10.000 tahun. Artinya, kemungkinan terjadinya banjir adalah sekali dalam 10.000 tahun! (Kind hal. 103-104). Proyek yang digulirkan oleh Deltacommissie, yaitu Deltawerken, berjalan panjang, lebih dari 30 tahun. Proyek tersebut mengakomodasi banyak perkembangan yang terjadi. Salah satunya adalah persoalan lingkungan hidup. Proyek tersebut tidak hanya menjadi pengalaman berharga bagi masyarakat Belanda, namun juga menjadi ajang pembelajaran bagi warga dunia dalam hal penanganan masalah air.

Terdapat kesamaan mencolok antara pengalaman bangsa Belanda dan Indonesia. Masyarakat kedua bangsa adalah sekumpulan pejuang. Mereka gigih mempertahankan apa yang telah mereka miliki, yaitu tanah yang mereka cintai. Tak pernah surut pula mereka memperjuangkan agar tanah mereka bisa memberikan kehidupan yang lebih baik. Mereka pula masyarakat yang mengedepankan gotong royong. Di kala bangsa mereka sedang dalam kesulitan, tanpa ragu mereka menyingsingkan lengan baju demi sesama.

Kesediaan masyarakat negeri Belanda untuk meninggalkan kebiasaan lama dan menerima perubahan adalah hal yang patut kita jadikan perenungan. Pengalaman bangsa Belanda menunjukkan bahwa proses perubahan bisa terasa pahit dan memerlukan waktu, juga biaya. Namun, proses itu membuahkan keuntungan yang berjangka panjang dan memberi lebih banyak manfaat ke lebih banyak pihak pula.
(Vincentius Tangguh Atyanto Nugroho)

Referensi
Reinhard, Stijn, and Henk Folmer, eds. Water Policy in the Netherlands. Washington: RFF Press Book, 2009.
Zeeberg, Jaapjan, ed. Flood Control in the Netherlands: a strategy for dike reinforcement and climate adaptation. Amsterdam: Haasbeek, 2009
Oostrom, Frits van. The Netherlands in a Nutshell: highlights from Dutch history and culture. Amsterdam: Amsterdam UP, 2008.
Koopmans, Joop W., and Arend H. Huussen Jr. Historical dictionary of the Netherlands. 2nd ed. Lanham, Maryland: Scarecrow Press, Inc., 2007
d’Angremond, Kees. “From Disaster to Delta Project: The Storm Flood of 1953”. Terra et Aqua (90/ March 2003): 3-11. 20 April 2015 .
Kind, J.M. “Economically efficient flood protection standards for the Netherlands”. Flood Risk Management (7/2014): 103–117. 20 April 2015 .
Jong, Pieter and Fred Hobma. “Rights and responsibilities in Dutch land-use planning aimed at flood protection and prevention of waterlogging”. Paper pada the Sixth International Conference of the International Academic Association on Planning, Law and Property Rights, School of the Built Environment, University of Ulster, Belfast, United Kingdom, 7-10 Februari 2012.
Huizinga, Frederik. “The economics of flood prevention, A Dutch perspective”. 20 Juni 2012. 20 April 2015 .
Slomp, Robert. “Flood Risk and Water Management in the Netherlands”. 2012. 20 April 2015 .
Most, H. van der, I. Tánczos, K.M. de Bruijn, D. Wagenaar. “New, Risk-based Standards for Flood Protection in the Netherlands”. Paper pada the Sixth International Conference on Flood Management, Sao Paolo, Brazil, September 2014.