680. Kanal Amsterdam (FINALIST)

Penulis : Praiseldy Langi-Sasongko
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Setiap bulan Agustus, ribuan warga Belanda dan wisatawan internasional berkumpul di Amsterdam untuk merayakan Grachtenfestival atau Festival Kanal. Festival ini berlangsung selama sepuluh hari dan diisi oleh serangkaian konser yang diadakan di kanal dan daerah sekitarnya. Pada malam terakhir, di Prisengracht, di mana tradisi ini dimulai, semua orang menyanyikan lagu “Aan de Amsterdamse Grachten” atau “Di Kanal Amsterdam.”

“Di kanal Amsterdam, saya telah serahkan hati saya untuk selamanya,” ribuan orang menyanyikan lagu ini sambil berdiri di seputar jembatan dan jalan-jalan sekitarnya, sementara ratusan lainnya duduk di perahu sambil menikmati goyangan air yang tenang. Saat mereka menyanyikan lagu ini dengan sungguh-sungguh sebagai ekspresi kegembiraan mereka oleh karena adanya kanal dan keistimeaan air itu sendiri, cahaya yang indah dapat terlihat dengan jelas terpantul di atas permukaan air.

Air. Sejak keberadaannya, Belanda-seperti Indonesia-telah berjuang untuk eksis sebagai negeri yang dikelilingi oleh air. Ini adalah negara kecil yang dikelilingi oleh Laut Utara, dengan tiga sungai utama yang mengalir di dalamnya, sementara sepertiga dari wilayah negeri ini terletak hampir 7 meter di bawah permukaan laut. Nama “Netherlands” itu sendiri berarti “dataran rendah” atau “tanah di bawah.” Oleh karena kedudukan negara Belanda yang seperti itu, maka dari segi Geografi dan topografi, negeri ini rentan terhadap bencana; baik itu badai laut maupun banjir. Namun negara kecil ini telah bertahan dan bahkan berkembang di tengah-tengah hambatan sperti ini. Bagaimanakah caranya? Bertahun-tahun lamanya Belanda telah melakukan serangkaian inovasi yang patut di teladani, dan inovasi-inovasi itu dimulai dengan kanal.

image002
(http://en.wikipedia.org/wiki/File:Jansoni.jpg)

Pada tahun 1287, banjir terbesar dalam catatan sejarah telah mengubah Holland Utara menjadi semenanjung yang disebut Zuiderzee. Di atas semenanjung inilah kota Amsterdam di dirikan.
Di awal tahun 1600 di tengah-tengah masa-keemasan Belanda, Amsterdam yang awal mulanya hanyalah sebuah desa nelayan kecil di tepi sungai Amstel, telah berubah menjadi kota terkenal di dunia untuk perdagangan internasional, toleransi berpikir, dan rumah bagi para pengungsi. Setelah terjadi ledakan penduduk dari 50.000 ke sekitar 220.000, perencanaan tata kota yang komprehensif telah dibangun untuk mengatasi kebutuhan penduduk yang meningkat dan melindungi penduduk dari pencemaran air. Perencanaan yang mempunyai fungsi ganda seperti untuk perumahan, pengelolaan air, dan transportasi, telah juga menghasilkan rencana jangka panjang yang meliputi pengeringan rawa-rawa untuk penambahan luas tanah perkotaan dengan menggunakan sistem kanalisasi air. Mereka membangun tiga kanal utama, berbentuk setengah lingkaran, sebagai koneksi dengan kanal yang sudah ada, yaitu Singelgracht. Tiga kanal yang baru itu, Herengracht, Keizergracht, dan Prisengracht, disediakan untuk pengembangan perumahan dan komersial, sedangkan Singelgracht bertujuan untuk perlindungan dan tempat pembuangan luapan air dari kanal lain. Empat kanal ini membuat konsentris “sabuk” pengaman di sekitar kota, yang dihubungkan dengan sistem kanal-kanal kecil lain yang berfungsi untuk mempermudah sistim transportasi, konstruksi, dan pengendalian banjir.

image004
(http://www.canalsamsterdam.com/canals-and-history/)

image006
(http://99streetsda.99streets.netdna-cdn.com/i/aa/amsterdam_canals.jpg)

Pada tahun 1700-an, batas kota Amsterdam telah melebar lima kali lipat. Amsterdam telah belajar bagaimana hidup di bawah permukaan air. Sampai hari ini, kanal-kanal tersebut masih berfungsi seperti yang di rencanakan semula. Kanal-kanal ini juga telah dinobatkan sebagai tempat yang dilindungi oleh UNESCO, tempat indah dan terkenal di dunia.

Sejalan dengan waktu, pemerintah Belanda terus membangun tanggul-tanggul pengaman didalam dan sekitar wilayah negara Belanda. Akan tetapi, Belanda mengalami banjir besar pada tahun 1916, karena ombak yang tinggi di Laut Utara masuk sampai ke Zuiderzee yang membuat kota-kota di utara dilanda banjir; sedangkan kota-kota di bagian selatan, termasuk Amsterdam, terancam bahaya. Insinyur Cornelis Lely mempunyai gagasan innovatif: membangun tanggul sepanjang 32 kilometer (bernama Afsluitdijk) di mana Zeiderzee menjadi Laut Utara, untuk membagi Laut Utara dengan Zeiderzee dan menciptakan empat polder baru (tanah reklamasi dari laut).

image008
(http://en.wikipedia.org/wiki/Zuiderzee_Works#/media/File:Zuiderzeeworks.png)

Sistem hidrolik yang bersifat massif telah menjadi upaya nasional yang luar biasa sejak tahun 1927-1932. Sistem ini mengandung risiko karena menggunakan teknik hidrolik dan bahan-bahan baru yang berbeda. Akan tetapi sistem ini berjalan dengan sukses karena berhasil mencegah luapan laut Zuiderzee, yang berganti nama danau IJsselmer. Proyek ini disebut “Zuiderzee Works” dan berhubungan dengan Deltaworks, yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Modern oleh American Society of Civil Engineers.

image009
(http://www.viator.com/tours/Amsterdam/North-Holland-Day-Trip-from-Amsterdam-Including-Enclosing-Dike/d525-2550DIKE)

Pada permulaan abad ke-21, Belanda melakukan inovasi baru. Dari pada memperbaharui system lama atau gagasan yang sudah ada untuk menjaga wilayah negara dari air, seorang arsitek bernama Koen Althuis, tidak lagi membendung air, tapi membangun rumah-rumah dan kota yang bisa terapung di atas air. Konsep ini bernama “CityApp.” Inovasi baru ini diterapkan dengan membagun seluruh kota yang di sebut “The Westlands,” dekat dengan kota Hague. Dia juga membangun lingkungan baru bernama IJburg di Amsterdam, yang di bentuk dengan menggunakan beton yang dapat terapung di atas air. Koen Althuis telah memimpin proyek serupa di Eropa, Republik Emirate Arab, dan Cina. Dalam waktu dekat, ide ini dapat menjadi trend internasional yang baru.

image011
(http://www.viahouse.com/2011/01/watervilla-de-omval-of-amstel-river-floating-house-modern-houseboat-from-amsterdam/watervilla-de-omval-of-amstel-river-floating-house-modern-houseboat-from-amsterdam/)

Sepanjang abad, innovasi bangsa Belanda telah menginspirasi dunia untuk menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh air. Di tengah dampak internasional yang ada, yang paling penting adalah negeri Belanda itu sendiri; dimana kota-kotanya menjadi bukti dari semua innovasi yang sudah dilakukan dan membawa pembaca kembali ke tempat dimana semuanya dimulai, seperti lirik dalam lagu ini:

“Saya telah melakukan perjalanan jauh dan telah melihat dunia di usia muda
Dan saya tidak pernah bosan bepergian setelah
Tetapi di suatu tempat ada keinginan yang kuat dalam diri saya
Untuk pantai Belanda dan kota di Amstel dan IJ

Ke kanal Amsterdam”

Saat orang menyanyikan lagu ini setiap bulan Augustus, mereka sesungguhnya mendeklarasikan bahwa sangat mungkin untuk dapat sukses mengatasi segala masalah berhubungan dengan air, dan inovasi yang lama dapat menjadi dasar untuk inovasi yang baru.
Kanal-kanal tua kota Amsterdam mengingatkan bahwa kita bisa berkembang walaupun ditengah tantangan yang sulit.

image013
(http://www.nash-amsterdam.nl/static/media/uploads/grachtenfestival14.jpg )

Referensi:

http://www.hollandtrade.com/sector-information/water/?bstnum=4887

https://view.publitas.com/madeinholland_en/mih-water-2013/page/2-3

http://www.government.nl/documents-and-publications/leaflets/2014/03/01/water-innovations-in-the-netherlands.html

http://whc.unesco.org/en/list/1349

http://www.codart.nl/exhibitions/details/2892/

http://www.viator.com/tours/Amsterdam/North-Holland-Day-Trip-from-Amsterdam-Including-Enclosing-Dike/d525-2550DIKE

http://www.united-academics.org/magazine/sections/images/gallery-wonders-of-the-modern-world-in-the-netherlands/

http://www.waterstudio.nl/vision

http://www.singalongdutchsongs.nl/liedjes/aandeamsterdamsegrachten.html