693. Dua Inovasi Revolusioner Belanda untuk Meningkatkan dan Menilai Kualitas Tanah

Penulis : Agatha
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Sebagai salah satu negara yang berada di Benua Eropa, Belanda termasuk negara yang unik karena hampir seluruh bagia dari negara Belanda adalah dataran rendah. Belanda termasuk negara maju yang saat ini tengah dihuni oleh banyak orang yang berasal dari banyak negara di dunia, termasuk Warga Negara Indonesia. Negeri yang dipimpin oleh seorang raja ini sudah menjadi kiblat dalam berbagai bidang di dunia pendidikan. Negara dengan nama resmi Kingdom of the Netherlands ini juga memiliki banyak lahan pertanian yang luas. Maka dari itu, tidak heran apabila Belanda memiliki banyak universitas terbaik dunia yang berfokus pada bidang pertanian, teknologi pertanian, pangan, ataupun peternakan.

image003
Lahan pertanian di Belanda via www.wageningenur.nl

Dalam bidang pertanian, tanah merupakan elemen krusial yang dapat menentukan kualitas hasil tani. Tanah juga hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Beberapa peran tanah diantaranya sebagai tempat di mana tanaman pangan dan nonpangan dapat ditumbuhkan, tempat infiltrasi air hujan sehingga melindungi kita dari banjir, dan tentu saja habitat bagi seluruh makhluk hidup, tak terkecuali manusia.

Namun, tahukah kamu? Saat ini, tanah sedang terancam karena semakin luasnya daerah yang mengalami erosi, tanah yang terkontaminasi, dan bahkan tanah yang lama-kelamaan akan semakin habis karena menjamurnya daerah urban yang mengharuskan tanah kosong disulap menjadi infrastruktur dan perumahan yang bernilai tinggi. Hal inilah yang terjadi hampir di setiap negara, termasuk negara-negara di Benua Eropa. Lalu, apa yang akan terjadi apabila hal-hal tersebut berlangsung secara terus-menerus? Banjir hebat? Longsor? Menurunnya produksi pertanian? Seluruh dampak negatif tersebut sedang dicoba diminimalisasi dengan menjalankan sebuah program di Eropa: RECARE.

Apa itu RECARE?

image005
RECARE via https://i.vimeocdn.com/video/510100856_1280x720.jpg

RECARE merupakan sebuah program hasil kerjasama Komisi Eropa dengan Wageningen University (Belanda) dan mitranya pada November 2013 lalu. RECARE merupakan inisiatif bersama dari 27 lembaga dan organisasi di Eropa. Program ini terlaksana dengan menggunakan dana hibah sebanyak € 11.000.000 dari Komisi Eropa. Program tersebut berfokus pada pencegahan dan pemulihan degradasi tanah di Eropa. Pelaksana program ini adalah Wageningen University sebagai kontraktor utama dengan Alterra dan ISRIC (World Soil Information) sebagai mitranya.

Apa tujuan RECARE?

Tujuan lintas sektoral dari proyek RECARE adalah untuk meningkatkan pengetahuan terkait fungsi dan sistem pertanahan, serta interaksi tanah dengan aktivitas manusia di Eropa. “Ini adalah proyek yang sangat besar,” ucap pemimpin proyek, Coen Ritsema. “Proyek ini melibatkan Wageningen University dengan bagian Fisika Tanah dan Manajemen Lahan sebagai kontraktor utama, dan Alterra dan ISRIC sebagai mitra proyek penuh. Total anggaran proyek sebesar 11 juta euro… ”

RECARE memiliki tujuan untuk mengembangkan pencegahan yang efektif, perbaikan dan restorasi menggunakan pendekatan lintas disiplin yang inovatif, aktif mengintegrasikan dan meningkatkan pengetahuan pemangku kepentingan (stakeholder) dan ilmuwan dalam 17 studi kasus yang mencakup berbagai ancaman tanah di lingkungan bio-fisik dan sosial ekonomi yang berbeda di seluruh Eropa. Dalam konteks ini, proses degradasi tanah – seperti erosi air, salinisasi, pemadatan, penutupan permukaan tanah dengan material lain (sealing), banjir dan tanah longsor, hilangnya bahan organik, kontaminasi, dan hilangnya keanekaragaman hayati – akan menerima perhatian yang seharusnya.

Kebijakan nasional dan Uni Eropa yang sudah ada saat ini akan ditinjau dan dibandingkan untuk mengidentifikasi potensi ketidakcocokan dan kesinergian. Pesan kebijakan akan dirumuskan berdasarkan hasil studi kasus dan integrasinya di tingkat Eropa. RECARE menggunakan website dan komunikasi secara terpusat, sehingga dapat memastikan bahwa hasil program disebarkan ke berbagai pemangku kepentingan pada saat yang tepat dan dalam format yang tepat untuk menstimulasi perawatan baru untuk tanah Eropa.

Betapa luar biasanya program yang dikembangkan oleh salah satu universitas di Belanda ini! Ini adalah salah satu bukti bahwa Belanda dapat menstimulasi program-program revolusioner yang mungkin belum terpikirkan oleh negara lain untuk memperbaiki kondisi tanah di Benua Eropa. Namun, apakah Belanda mampu membantu memecahkan masalah yang ada di luar Benua Eropa? Ternyata, Belanda, yang lagi-lagi kali ini diwakilkan oleh Wageningen University, berkontribusi untuk mengembangkan sebuah peta sifat tanah.

Apa itu peta sifat tanah? Apakah sama dengan peta dunia?

image007
Peta sifat tanah di Afrika (Wageningen University dan Research Centre) via http://www.sciencedaily.com/releases/2013/04/130416085304.htm

Peta sifat tanah, yang tentu saja bukan peta biasa, merupakan peta yang berisikan berbagai sifat tanah di suatu daerah. Peta ini hanya dapat diunduh menggunakan internet. Peta yang dikembangkan oleh ISRIC dan Wageningen University ini berisi prediksi tujuh sifat tanah. ISRIC juga telah membuat perangkat lunak yang tersedia untuk institusi yang ingin menghasilkan peta sifat tanah mereka sendiri. Pengetahuan tentang sifat-sifat tanah seperti kandungan karbon organik, kandungan tanah liat, dan pH sangat penting untuk pertanian dan analisis perubahan iklim.

Negara mana yang membutuhkan peta sifat tanah?

Apa tanaman yang cocok 100 kilometer selatan dari Ouagadougou di Burkina Faso? Apakah pupuk yang optimal untuk wilayah pantai timur Kenya? Berapa banyak karbon dioksida disimpan di dalam hutan hujan Kongo? Hal ini sering sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara akurat tanpa informasi tentang sifat-sifat tanah seperti kandungan pasir-lumpur-tanah liat, densitas butiran tanah ataupun konten mineral.

Informasi tanah yang akurat sulit untuk didapatkan, khususnya di Benua Afrika. Hal inilah yang menyebabkan mengapa sifat tanah Afrika jarang dimasukkan dalam perencanaan pertanian dan penataan lingkungan. Bill and Melinda Gates Foundation mendanai sebuah program yang disebut African Soil Information Services (AfSIS) untuk memperbaiki situasi ini, antara lain dengan menciptakan peta sifat tanah digital terbaru pada resolusi tinggi. Produk AfSIS secara keseluruhan adalah database tanah terkini, metodologi, dan prosedur untuk pengawasan lahan.

Bagaimana perkembangan peta sifat tanah ini?

ISRIC sekarang bekerja sama dengan Wageningen University untuk membuat peta sifat tanah untuk seluruh dunia. Seluruh dunia! Tujuan utamanya adalah untuk memberdayakan petani sehingga mereka dapat menggunakan smartphone mereka untuk mengunduh data tanah terbaru, bersama dengan rekomendasi pemupukan yang sesuai.

Dengan hanya menggunakan satu klik mouse, peta ini dapat memberitahu penggunanya, misalnya bahwa Kamerun, Ghana, dan Kongo Barat memiliki sejumlah besar karbon organik dalam tanah lapisan
atasnya. Atau bahwa tanah di sepanjang perbatasan utara Afrika Selatan hanya memiliki sedikit karbon organik.

Telah terbukti, bahwa Belanda adalah negara yang patut diperhitungkan dalam penelitian dan inovasi, khususnya dalam elemen tanah. Inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh Belanda seharusnya dapat menjadi pemacu bagi negara-negara lain untuk melakukan inovasi lainnya, demi terciptanya bumi dan kehidupan yang lebih baik.

Referensi:
Anonim. 2015. “About Holland”. https://www.studyinholland.nl/about-holland diakses pada 26 April 2015.
Anonim. 2015. “The Netherlands”. http://www.amsterdam.info/netherlands/ diakses pada 26 April 2015.
European Environment Agency. 2011. “Urban Soil Sealing in Europe”. http://www.eea.europa.eu/articles/urban-soil-sealing-in-europe diakses pada 26 April 2015.
Wageningen University and Research Centre. “New generation soil property maps for Africa.” ScienceDaily. ScienceDaily, 16 April 2013. .
Wageningen University and Research Centre. “Preventing, remediating degradation of soils in Europe through land care.” ScienceDaily. ScienceDaily, 28 November 2013. .
Wageningen University and Research Centre. 2013. “Preventing and remediating degradation of soils in Europe through land care”. http://www.alphagalileo.org/ViewItem.aspx?ItemId=136891&CultureCode=en diakses pada 26 April 2015.
World Soil Information. 2015. “New generation soil property maps for Africa”. http://www.isric.org/content/new-generation-soil-property-maps-africa diakses pada 26 April 2015.