699. Tauhid di Negeri Kincir

Penulis : Kgs Said
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Abad Pertengahan merupakan masa paling kelam dalam periode sejarah Eropa. Sampai akhirnya era ini dijuluki sebagai The Dark Age (Abad Kegelapan). Abad Pertengahan dimulai sejak abad II Masehi, yaitu sejak Konstantin Agung masuk Kristen dan menyatakannya sebagai agama resmi Imperium Romawi. Kaum Kristen hanya menang secara lahiriah saja karena bangsa Romawi banyak merugikan ajaran Kristen ketika paham paganisme terserap ke dalam ajaran Kristen dan tingkah laku pemeluknya. Sementara itu, pihak yang paling banyak memberikan andil dalam penyelewengan agama ini adalah Kaisar Konstantin sendiri yang mengaku sebagai penegak panji-panji agama Kristen.

Renaissance, salah satu yang memicu pergerakan dan perkembangan dalam kebangkitan daerah Eropa pada zaman itu. Kaum humanis adalah pelopor untuk menciptakan sebuah era ilmu besar di Renaissance. Mereka didasarkan pada keyakinan bahwa karya sastra, ilmiah, dan filosofi Yunani kuno dan Roma memberikan panduan terbaik untuk belajar dan hidup. Setelah itu, humanisme menjadi salah satu metode yang dikembangkan oleh masyarakat sebagai bentuk baru pendidikan. Studi humanistik memberikan pendidikan yang fundamental dan memberikan dampak dalam membawa persatuan intelektual di Eropa.

Belanda (Nederlands) atau juga yang lebih dikenal dengan Negeri kincir angin memang memiliki daya tarik tersendiri khususnya bagi turis asing ataupun para imigran dari luar negeri. Keterbukaan dan keramahan penduduknya, banyaknya perguruan tinggi yang berkualitas, terompah kayu atau disebut juga kelompen, kincir angin, bunga tulip, sepeda, warna oranye, keju bahkan tanggul sudah menjadi ciri tersendiri bagi negeri cantik molek ini. Karena itulah negeri Belanda termasuk kedalam daftar negara terpadat didunia. Hubungan antara bangsa Indonesia dengan Belanda saat ini cukup baik memang tak dapat dipungkiri bahwa sejarah politik masa lalu yang kelam tak dapat dilupakan begitu saja. Masa lalu tetaplah menjadi bagian dari sejarah negara kita tercinta.
Seiring dengan berkembangnya peradaban dunia & makin modernnya teknologi, hubungan antara kedua negara semakin mudah. Hubungan bilateral dan kebersamaan antar bangsa menjadi hal terpenting dalam era milenium ini. Ditambah lagi banyaknya pria berkebangsaan Belanda yang menikahi wanita Indonesia membuat siapapun yang datang ke Belanda tak lagi merasa asing. Warga Belanda sudah tebiasa menikmati beraneka ragam kuliner nusantara karena bahan bahannya pun kini mudah didapatkan di toko Asia / supermarket terdekat. Restoran Indonesia dan banyaknya komunitas Indonesia di Belanda juga sudah tersebar dimana mana. Bisa dibilang warga asli Belanda sudah terbiasa & menerima pendatang asal Indonesia dengan tangan terbuka. Sifat bebas liberal penduduknya membuat Belanda layak mendapat sebutan ‘masyarakat internasional’ yg mengutamakan kebebasan berpendapat juga berekspresi.

Hal yang cukup menarik yang perlu dicermati dari negara Belanda adalah kaum Muslimnya. Ibarat sebuah air yang memberikan kesejukan pada alam, masyarakat muslim di negara Belanda tengah menikmati kehidupan yang sangat dinamis. Selain ditunjang semakin banyaknya jumlah pemeluk Islam di sana, juga karena pemerintah Belanda memberikan kebebasan beragama. Kegiatan spiritual Islam pun bertumbuh kembang. Tak terkecuali roda organisasi keagamaan yang ada. Sebagian besar organisasi Islam di Belanda didirikan berdasarkan garis etnis kaumnya. Maka, dari sekian banyak, organisasi muslim Turki-lah yang paling berkembang. Misalnya adalah Turks-Islamtische Culturele Federatie (TIFC) atau federasi kebudayaan Islam Turki yang berdiri tahun 1979, telah dapat menaungi sekitar 78 asosiasi dan organisasi pada tahun 80-an.

Selain itu TIFC juga erat menjalin hubungan dengan Diyanet yang mengirim sejumlah imam masjid untuk bekerja di Belanda. Adapun komunitas muslim Maroko yang mendirikan organisasi muslim Maroko diantaranya yakni, Amicales des ouvries et commercants (kekawanan buruh dan pedagang), komite para pekerja Maroko di Belanda (Organisaties in Nederland) dan Unie van Marokkaanese Moslim (persatuan organisasi muslim Maroko di Belanda). Diketahui bahwa ada sejumlah kecil pengikut tarekat Darqawiyah dan Alawiyah pada komunitas Maroko. Di samping itu, gerakan Tablig yang berpusat di Perancis pun aktif menjalankan syiar dakwah di masjid-masjid komunitas Maroko.

Dibuktikan pula oleh Universitas Di Belanda, Groningen University yang memfasilitasi tempat bagi mahasiswa muslim untuk menunaikan shalat. Manajemen Universitas ini menegaskan menghormati semua agama. Bahkan Universitas ini secara khusus menetapkan waktu bagi mahasiswa muslim untuk melaksanakan shalat Jum’at, mencontoh kegiatan keseharian muslim yang berjalan di negara-negara Islam.
Komunitas Muslim di Belanda menyadari bahwa Belanda adalah ” Negeri Sejuta Muslim”. Di mana jumlah umat Islam di sana terus bertambah dan penganutnya terkenal taat dengan ajaran agamanya secara baik dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya.

Berdasarkan catatan statistik penduduk pemerintah Belanda terungkap, bahwa Islam berada pada posisi paling atas dalam daftar urutan jumlah pemeluk agama-agama yang ada di negara itu. Agama-agama seperti Kristen (Katolik dan Protestan), Yahudi, dan agama-agama lain yang terdaftar, berada pada urutan kemudian.

Data statistik itu dipublikasikan dalam harian Dutch Metro, edisi 29 Juli 2002, yang menyebutkan bahwa 13% dari penduduk ibukota Amsterdam adalah Muslim. Setelah itu penganut Katolik yang jumlahnya tidak lebih dari 10%, disusul penganut Gereja Protestan Reformasi yang hanya tercatat 5%. Sementara jumlah penganut Yahudi hanya 1%. Sisanya, para pemeluk kelompok agama-agama lain, yang total jumlahnya 12%.

Koran Belanda dengan oplag 3 juta eksemplar dan disebarkan secara cuma-cuma itu melaporkan, bahwa jumlah warga Muslim pada awal abad ke-20 belum begitu berarti. Hanya ada satu orang Muslim yang tercatat dalam Kantor Catatan Sipil di Amsterdam. Namun demikian, pada awal abad ke 21, jumlah kaum Muslimin merupakan komunitas agama terbesar. Berdasarkan catatan resmi pemerintah Belanda, jumlah kaum Muslimin seluruhnya 80.000 orang dari perkiraan kasar rakyat Amsterdam yang berjumlah 600.000 jiwa.

Ada sejumlah elemen yang mendorong percepatan jumlah kaum Muslimin di negeri Kincir Angin itu. Di kalangan elit warga ibukota Belanda, ternyata 59% nya tidak meyakini satu pun agama. Sebab mereka dihadapkan pada fakta bahwa efek dari gereja-gereja pada masyarakat Belanda umumnya mengalami kemunduran yang cukup signifikan, khususnya di Amsterdam. Hal itulah yang mendorong banyak gereja dan yayasan-yayasan agama umat Nasrani tutup atau menjual aset-aset mereka, lantaran kian merosotnya jumlah jama’ah mereka.

Melihat fenomena itu, Jamal Al-Shatti, anggota dewan dari Pusat Dialog Lintas Budaya Kuwait, mengatakan dialog tentang Islam memainkan peranan penting. Sebab, ada semacam ekspolarasi informasi tentang Islam. Dari eksplorasi itu, pesan Islam dengan mudah dapat diterima. Diperkirakan satu juta Muslim tinggal di Belanda yang memiliki penduduk sekitar 17 juta. Kebanyakan dari mereka berasal dari Maroko, Turki, Suriname dan negara-negara lain tinggal di negeri ini.

Referensi :
Andreansyah. 2011. Zaman Kebangkitan Eropa Yang Penuh Kontroversi.
Dakwatuna. 2008. Belanda Kiblat Islam di Eropa.
Senyumislam. 2012. Islam Agama Nomor Satu Terbesar di Belanda.
Sophie. 2011. Islam di Belanda.
Viviana. 2013. Mengenal Belanda.

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda

http://id.wikipedia.org/wiki/Imperium_Belanda

http://www.tempo.co/read/news/2015/01/14/117634776/Pesan-Wali-Kota-Rotterdam-untuk-Muslim-Belanda

http://tubpustaka.blogspot.com/2012/05/bangkitnya-peradaban-eropa.html