702. Ambulance Drone : Sebuah Harapan dan Jawaban dari Belanda Tentang Pentingnya Penanganan Medis Secepat Mungkin di Masa Depan

Penulis : Mochamad Fazar
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Drone adalah sebuah robot terbang yang termasuk ke dalam kategori Unmanned Aerial Vehicles (UAV) dan juga merupakan tipe kendaraan yang bisa berjalan tanpa awak. Amazon, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di dunia melakukan inovasi baru dengan cara mengirimkan barang melalui drone. Saat ini di Indonesia drone juga sangat populer sebagai alat bantu untuk melakukan kegiatan fotografi agar fotografer dapat mendapatkan gambar secara utuh dari udara. Ketika dunia terkagum-kagum dengan inovasi drone yang dimunculkan oleh Amazon dan para pengguna Instagram terpukau dengan hasil foto yang diambil melalui bantuan drone , Belanda datang membawa drone ke satu level yang baru dan berbeda. Seorang mahasiswa dari Delft University of Technology atau TU Delft menciptakan sebuah drone yang berfungsi untuk melakukan pertolongan medis pada pasien yang terkena serangan jantung, drone ini bernama Ambulance Drone.

image001
(sumber : http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2811851/The-ambulance-drone-save-life-Flying-defibrillator-reach-speeds-60mph.html)

Saat ini meskipun ambulance drone masih berbentuk sebuah prototype tetapi respon yang diberikan oleh masyarakat Eropa terhadap ambulance drone sangat positif. Ambulance drone ini bisa membawa beban seberat 4 kilogram. Dalam kasus ini ambulance drone akan membawaAutomated External Defibrillator (AED) yang merupakan sebuah perangkat elektronik portabel yang dapat memberikan terapi kejut listrik sehingga membantu pasien untuk mendapatkan kembali ritme detak jantungnya.

Sekitar 800.000 orang di Eropa menderita gagal jantung dan hanya sekitar 8 persen dari mereka yang terselamatkan. Alasan utama dari kegagalan ini adalah lamanya waktu yang dibutuhkan oleh pasien untuk mendapatkan pertolongan pertama. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 menit untuk terjadinya kematian otak, sementara rata-rata waktu yang dibutuhkan unit layanan darurat untuk sampai ke tempat lokasi kejadian adalah 10 menit. Ambulance drone mencoba untuk mengatasi masalah kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk memberikan pertolongan pertama terhadap pasien gawat darurat. Melalui jalur udara ambulance drone relatif tidak akan menemui hambatan seperti kemacetan seperti yang sering dialami oleh mobil ambulans biasa. Selain itu ambulance drone ini dilengkapi fitur kamera dimana operator ambulance drone akan membimbing penghubung secara langsung untuk menggunakan AED. Penggunaan AED ini relatif mudah dipahami bahkan orang awam sekalipun.

image002
(sumber : http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2811851/The-ambulance-drone-save-life-Flying-defibrillator-reach-speeds-60mph.html)

Alec Momont, mahasiswa TU Delft sekaligus penemu dari ambulance drone ini menginginkan drone ini bisa menjadi “flying medical toolbox“. Sebuah toolbox dimana ambulance drone memungkinkan untuk tidak hanya digunakan untuk menangani penderita gagal jantung saja tetapi bisa juga digunakan untuk membawa oxygen mask untuk korban yang terjebak dalam kebakaran atau juga untuk membawa
insulin untuk penderita diabetes.

Saat ini ambulance drone masih terkendala dengan perizinan yang berkaitan dengan penggunaan drone. Selain itu drone ini juga masih dalam tahap perbaikan terus menerus, tetapi Mormont yakin bahwa dalam 5 tahun ke depan Belanda akan mempunyai jaringan operasional unit gawat darurat dengan drone.

Referensi :

http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2811851/The-ambulance-drone-save-life-Flying-defibrillator-reach-speeds-60mph.html

http://circ.ahajournals.org/content/95/6/1677.full

http://www.icao.int/Meetings/UAS/Documents/Circular%20328_en.pdf