713. Poentjak Weg : Sebuah Warisan Peradaban

Penulis : Nur Zakaria
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Minggu, 26 April 2015. Setelah seharian beraktifitas di Kota Bogor (dulu – orang Belanda menyebutnya Buitenzorg – yang berarti “tanpa kesusahan”), saya bergegas menuju ke sebuah tempat yang bisa saya sebut sebagai rumah, di kawasan Puncak. Sore itu, lalu lintas tak terlalu padat. Tidak seperti weekend biasanya yang hampir selalu hiruk pikuk oleh kendaraan para wisatawan. Sambil berkendara, saya masih sempat melayangkan pandangan pada apa saja yang terserak di pinggir jalan, salah satunya baliho. Jelas terbaca oleh saya, tulisan “Lomba Menulis”. Tapi, hanya itu. Tulisan berikutnya tak sempat terbaca, karena lampu merah tetiba berganti menjadi hijau.

Meski hanya sepintas lalu, tulisan “Lomba Menulis” itu berhasil membuat saya penasaran. Jujur, menulis pernah menjadi passion saya sekira 10 tahun yang lalu. Dulu, niat saya menulis bukan untuk berbagi pengetahuan semata, tapi lebih karena ego anak kemarin sore. Saya hanya tak mau disebut sebagai orang bodoh. Itu saja.

Tahun berganti tahun – hampir saja – buku pertama saya menjadi karya yang terakhir. Karena sejak saat itu, jari-jari saya seolah terlalu kaku untuk bisa menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan. Hingga satu dasawarsa kemudian, passion itu muncul kembali. Taarrraaaa, lahirlah jabang bayi blog ini (poentjakweg.com) ke dunia maya, sekira 1,5 bulan yang lalu.

Malam menjelang tidur, iseng-iseng saya ketik “lomba menulis 2015” di Google search. Saya berharap akan menemukan lanjutan dari kata “Lomba Menulis” yang saya baca di baliho sore tadi. Enter. Transferring data from Google.com. Cling. Mata saya langsung tertuju pada Holland Writing Competition 2015 yang menyeruak di peringkat kedua hasil pencarian. Hmmm. Rasa penasaran pun mengalahkan rasa kantuk saya. Saya kuliti http://www.nesoindonesia.or.id/. Ah, cinta pada pandangan pertama membuat saya tertantang untuk mengikuti kompetisi ini.

Gubrakkk. Ternyata batas waktu penyerahan tulisan adalah 27 April 2015 pukul 23.59 WIB. Artinya, saya hanya punya waktu 24 jam untuk ikut dalam kompetisi ini. Saya dihadapkan pada dua pilihan maut : take it or leave it. Take it aja lah. It’s better to be nearly late than never.

Untungnya, kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) pada waktu kuliah membantu mental saya. Jurus andalan pun keluar. Inilah yang disebut dengan the power of “kepepet”.
Apa saja inovasi Belanda pada empat elemen kehidupan ?. Tema lomba menulis ini menjadi pertanyaan saya. Browsing pun berlanjut. Ternyata banyak sekali inovasi yang dilakukan oleh penduduk negeri ini. Sebut saja diantaranya :
- Gas To Liquid : bahan bakar ramah lingkungan dari Shell Technology Centre Amsterdam
- Sistem pendingin ruangan “Clair” karya Bram, Martijn, dan Anna yang menjadi juara pertama di Dutch Clean Tech Challenge 2015
- Green roofs ‘New Dutch’ tile karya Roel de Boer
- Paving block yang mampu menyerap polusi udara karya iluwan di Eindhoven University of Technology
- The Smog Free Project (vacuum cleaner raksasa) serta jalan raya glow in the dark karya Roosegaarde
- Vertical Village ala MVRDV (Maas, van Rijs, de Vries)
- Plant-MFC : listrik dari tumbuhan karya Marjolein Helder dari Teknologi Lingkungan, Wageningen University

Hanya itu ?. Tentu tidak. Saya hampir yakin akan menemukan dua kali lipat lebih banyak dari inovasi di atas jika masih ada perpanjangan waktu 24 jam lagi. Tapi, waktu terus melaju. Paragraf ini saya tulis pada Senin, 27 April 2015 pukul 21.00 atau 3 jam sebelum lomba ditutup.

Benar. Inovasi bisa berupa apa saja. Tapi, hanya inovasi yang “berdampak pada kehidupan orang banyak dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama” yang patut disebut sebagai Awesome Innovation. Tanpa meremehkan hasil inovasi di atas – menurut saya – inovasi yang paling sukses di Belanda, sejauh yang saya ketahui – ada tiga : budaya bersepeda, kincir angin dan polder. Saya yakin – hasil survei Ipsos Research University dan The World Happiness Report dari PBB yang menyatakan bahwa masyarakat Belanda memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi – sangat berkaitan dengan ketiga inovasi tersebut. Saya juga percaya, inovasi besar ini menjadi pondasi bagi puluhan, ratusan, bahkan ribuan inovasi kecil yang telah di-generate oleh negeri Belanda.

Bersepeda di Belanda bukan hanya tentang ramah lingkungan dan kesehatan. Tapi lebih pada budaya yang berpengaruh terhadap keberlangsungan sebuah peradaban.

Kincir angin telah menjadi ikon Belanda. Ribuan kincir angin sejak berabad silam berfungsi untuk mendorong air dari daratan ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas. Dalam perkembangannya, kincir angin kemudian menjadi sumber penggerak industry kertas, kayu dan pertanian.

Sistem polder terdiri dari tanggul, pompa, saluran air, kolam retensi, pengaturan lansekap lahan, dan instalasi air kotor terpisah. Polder memungkinkan Belanda terbebas dari banjir serta memiliki daratan yang lebih luas. Maklum, sebagian besar daratan di Belanda berada di bawah permukaan laut. Polder telah menjadi penopang keberlangsungan hidup penduduk Belanda.

Aha, tetiba saya teringat akan JAS MERAH BUTUT !. JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH, baik sejarah bagus maupun BUTUT. However, Belanda pernah menancapkan kuku imperialisme-nya di bumi nusantara. Saya tidak akan mengupas tentang penjajahan, karena di sini kita sedang berbicara tentang inovasi (ehm, dengan tema khusus yang hampir terlewat tidak saya bahas, yaitu : elemen tanah). Selain mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia di bidang perkebunan dan pertambangan, Belanda berkepentingan untuk membangun sarana transportasi darat yang menghubungkan antar daerah di Indonesia. Ini pun inovasi. Hingga kini, kita masih bisa menyaksikan kekokohan jembatan buatan Belanda, meliuk-liuknya rel kereta api serta jalan raya yang dulu disebut sebagai Post Weg (Jalan Raya Pos).

Salah satu Post Weg yang sering saya lewati adalah jalan yang menghubungkan Bogor dan Cianjur. Di peta jaman dulu, jalan ini disebut Weg Sindanglaya. Berhubung kini jalan tersebut terkenal sebagai Jalan Raya Puncak, maka saya menyebutnya Poentjak Weg. Konon, jalan ini pernah dilewati oleh pasukan Mataram saat menyerang VOC di Batavia sekira tahun 1628. Pada saat itu, kondisi Jalan Raya Puncak masih susah dilalui kendaraan. Jalan menanjak mengharuskan pengendara mengganti kuda setelah menempuh 10 km perjalanan. Bahkan di beberapa titik tertentu, kuda harus dibantu oleh kerbau untuk bisa menarik kereta. Hingga kemudian Gubernur Jendral Herman Willem Daendels memperbaiki Jalan Raya Puncak pada tahun 1808. Rute Batavia – Cipanas sekira 80 km yang sebelumnya ditempuh dalam waktu 8 hari perjalanan menggunakan kereta kuda dipersingkat menjadi 10 jam. Sejak saat itu, kawasan Puncak yang semula berwujud hutan, disulap menjadi perkebunan dan tempat peristirahatan. Benar, sebuah peradaban tidak terlepas dari inovasi.

Sumber :

http://hwc2015.nvo.or.id/tulisan-peserta/

www.poentjakweg.com
www.wikipedia.org