719. ”Pasrah” ala Belanda: Jangan Melawan Air, Hiduplah Bersamanya

Penulis : Agitha Binar Arshapinega
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda terletak di suatu delta, di mana tiga sungai terbesarnya: Rhine, Meuse dan Scheldt mengalir ke laut. Tanpa adanya tanggul dan coastal dune, dua pertiga negara itu akan langsung banjir. Kata banjir seolah tercantum di manapun mata saya menjelajahi tulisan sejarah Belanda. Sejarah negeri tersebut dibangun dari banjir serta respon terhadapnya. Pada tahun 1993 and 1995, permukaan sungai-sungai naik sehingga tanah pertanian tergenang. Saat itu, 250.000 orang dan sejuta ternak dievakuasi. Hal ini seolah mengingatkan saya pada yang terjadi di Indonesia. Hujan deras dan cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini begitu memprihatinkan. Seminggu lalu, 22 April 2015, hujan begitu lebat disertai angin terjadi di kantor saya di Yogyakarta. Begitu lebatnya, sampai penduduk bantaran Kali Code mengungsi karena debit air yang luar biasa tinggi membanjiri pemukiman. Tidak perlu menyebutkan deretan angka musibah banjir yang “membanjiri“ Jakarta, Semarang, dan lainnya saat musim hujan. Selalu terjadi pada musim hujan, namun selalu pula dikeluhkan dan diumpati. Banjir lagi dan lagi! Sama dengan Indonesia, banjir juga menjemukan Belanda. Bedanya, begitu banyak bencana yang berhubungan dengan air akhirnya menjadikan Belanda pasrah. Menyerah. Terpaksa berdamai dengan air.

Belanda tidak menjadi negara super dengan tiba-tiba. Sama seperti lainnya, ia harus memikirkan bagaimana mencegah terjadinya bencana banjir di masa depan tanpa mengurangi kebutuhan air penduduk. Dan di balik semua kekhawatiran dan ancaman, bagaimana Belanda di masa depan tetap menarik sebagai tempat hidup, bekerja, maupun berinvestasi? Belanda mengambil jalan tegas untuk hidup harmonis dengan air. Menerima keberadaannya, mengijinkan air lewat di tempatnya, dan tidak berusaha menghalangi. Belanda mencari solusi tanpa menghentikan yang secara alamiah terjadi di alam. Manusia yang menyesuaikan diri dengan alam, bukan sebaliknya.

Belanda memiliki hubungan istimewa dengan air. Ia sangat rentan terhadap ancaman air. Namun sejak berabad-abad, nenek moyangnya menjelajah dan hidup dari lautan. Saat ini, Belanda yang berdamai hidup dengan air justru dikenal luas dunia karena berhasil menaklukan musuh bebuyutannya itu. Menyerah, namun malah dikenal karena mengalahkannya? Ya. Belanda terkenal dalam hal water engineering dan telah membantu berbagai negara menghadapi bencana. Pasca badai Katrina, para ahlinya ditempatkan di New Orleans, Amerika, untuk menanggulangi hal yang sama di masa depan. Bukan itu saja, Pangeran William Alexander dari Belanda pun adalah seorang ahli water management! Saat ini, air juga telah menjadi bagian hidup yang menggembirakan seperti rekreasi. Belanda telah membuat kanal untuk perhubungan, irigasi, dan pembuangan air. Kanal Amsterdam yang terkenal adalah hasil perencanaan tata kota agar warga bisa tetap hidup, namun juga menjadi alternatif jalan darat. Leiden dan Delft juga didesain dengan transportasi kanal. Saat ini, tidak hanya bis kanal, namun restoran terapung dan rumah terapung juga melengkapinya. Amsterdam dibuat dengan kanal dengan concentric circles menghadap IJ Bay pada abad 17. Tiga kanal didesain dengan sedemikian rupa untuk residential development, sedangkan yang keempat untuk pertahanan serta pengaturan air. Waterways ini saling dihubungkan dengan radiating canals, membentuk kipas. Java-eiland di Amsterdam adalah tempat untuk melihat teknologi kanal termutakhir. Belanda berhasil hidup berdampingan dengan musuh besarnya, air. Sungai-sungai yang membawa ancaman banjir, dibuatkan tempat untuk mengalir secara alami. Contohnya adalah program pemerintah melalui Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan, yaitu Room for the River, yang disetujui tahun 2007. Program yang menelan biaya $2,8 milyar ini mewakili revolusi pemikiran tradisional yang tadinya melawan sungai karena dinilai biang masalah. Sungai secara alami justru diberi ruang lebih untuk menjadi pelindung. Aliran banjir yang begitu deras akan selalu terjadi, karena alasan inilah, harus dibuat pengaturan volume agar tidak bermasalah. Ruang untuk sungai sengaja diciptakan untuk melindungi penduduk. Cabang sungai Rhine saat ini dapat menampung kapasitas arus 16.000 kubik meter per detik tanpa meluap. Gagasan utamanya adalah mengembalikan banjir ke sungai secara alami. Dengan memperbesar aliran banjir dan merelokasi penduduk dari daerah rawan banjir, Room for the River membuat aliran banjir mengalir dengan lebih aman. Hal ini juga membuat sistem penyimpanan air alami yang mendukung biodiversitas, rekreasi, dan meningkatkan aspek estetika. Negosiasi dengan penduduk agar menjual lahan mereka untuk proyek ini dan kemudian pindah juga laik dipuji karena pemerintah tidak melakukan pemaksaan, sehingga opini masyarakat dihargai secara sensitif. Saat ini, harmoni yang tercipta dari berdamai dengan air justru membawa kemasyuran nama Belanda.

Menurut pendapat saya, yang begitu mengagumkan dari Belanda bukanlah manajemen airnya. Hal itu hanyalah suatu implikasi, suatu efek. Yang paling mengagumkan dan patut dipelajari, utamanya oleh bangsa kita, adalah keputusan besar untuk pasrah. Untuk menerima “keterpaksaan“ hidup harmonis dengan musuh besar manusia, yaitu alam. Hubungan alam dan manusia bagaikan musuh bebuyutan, padahal manusia berada dalam kenyataan: hidup di dalamnya. Lucu bukan? Manusia tiada henti merusak alam untuk hidup, sedangkan alam selalu menemukan cara untuk “mengganggu” hidup manusia dengan banjir dan beragam bencana. Manusia mengumpati alam, mengumpati banjir, air. Alam tidak akan pernah berhenti, karena ia punya aturannya sendiri. Dan manusia tidak punya pilihan lain, selain tentunya berpindah alam. Ups! Bukankah ini waktu untuk berpikir sejenak dan merenungkannya?

Belajarlah untuk mengenali alam dan hidup bersamanya. Memang mengganggu, namun kita butuhkan. Kepentingan manusia tidak berada di atas segalanya. Hiruk pikuk kesibukan manusia tidak lantas menjustifikasi keacuhan pada tempat tinggalnya, yaitu alam. Banjir dan genangan air saat musim hujan, bukan perkara politik menyalahkan siapa pejabat yang berkuasa dan betapa bodohnya ia mengelola banjir. Segala yang terjadi di alam akan terjadi atas aturannya sendiri. Kita tidak punya pilihan lain selain mengalah! Kita berarti kita semua, bukan satu orang saja!
Pertanyaan besarnya adalah, cukup beranikah kita seperti Belanda, pasrah dan menyerah untuk tidak melawan alam, melainkan mencari cara hidup harmonis dan berdampingan bersamanya? Seperti apa bentuk “kepasrahan” ala Indonesia, nantinya? Apakah harus menunggu kepasrahan tersebut terjadi, setelah datangnya bencana?

Referensi :
Dutch Water Program Room for the River, (http://waterandthedutch.com/wp-content/uploads/2013/08/Room-for-the-River.pdf)
History of the canals in Holland, (http://www.holland.com/us/tourism/interests/water-and-the-dutch/history-of-the-canals-in-holland.htm)
It’s Settled: No Country Does Water Management Better Than the Netherlands, Rachel Keeton, (http://nextcity.org/daily/entry/best-country-water-management-the-netherlands).
Room for the River Programme, (http://www.ruimtevoorderivier.nl/english/room-for-the-river-programme/)
The Dutch Solution to Floods: Live With Water, Don’t Fight It, Tracy McVeigh, (http://www.theguardian.com/environment/2014/feb/16/flooding-netherlands)
The Netherland is The Best Protected Delta in the World, (http://www.government.nl/issues/water-management)
The Netherlands & Water, (http://www.iamexpat.nl/expat-page/the-netherlands/the-dutch-and-water-in-the-netherlands)
Water and the Dutch, (http://www.holland.com/us/tourism/interests/water-and-the-dutch.htm)
Water Management in the Netherlands, Rijkswaterstaat Ministry of Infrastructure and Environment, (https://www.rijkswaterstaat.nl/en/images/Water%20Management%20in%20the%20Netherlands_tcm224-303503.pdf)