721. Pemanfaatan energi dari lautan

Penulis : ELVINA RAHMATIKA
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Kebutuhan listrik suatu Negara akan terus bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduknya. Kita tidak bisa terus menggantungkan pada hasil bahan bakar fosil yang semakin menipis. Dan alut adalah satu-satunya sumber yang menyediakan sumber energy tak terbatas selama bumi masih ada. Selain menajdi sumber pangan, laut juga merupakan sumber daya energy yang signifikan. Laut mampu menjadi jawaban terakhir ketika dunia mengalami krisis energy. bahkan, laut dapat mengahsilkan energy listrik empat kali lipat daripada bahan bakar fosil. Sehingga tidak mengherankan apabila banak Negara maju yang berlomba-lomba memanfaatkan potensi energy ini. Tak terkecuali Belanda.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Belanda lihai dalam ‘menghalau’ air laut agar tidak ‘menenggelamkan’ penduduknya. Hal ini dikarenakan Negara yang selama tiga setengah abad menjajah Indonesia ini didominasi air laut sebesar 20%. Ini artinya, Belanda mempunyai bakat alam untuk mengelola potensi lautnya menjadi sumber energy.

Bumi yang diliputi lautan sebesar 70% menjadikanya sebagai wadah terbesar dalam menerap panas. Sedangkan energy dihasilkan dari panas matahari yang menghangatkan bagian permukaan laut dibanding bagian dalamnya. Selain itu juga karena adanya perbedaan suhu yang dapat dikonvensi. Ciri-ciri bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik. Energi yang dihasilkan dari air laut memiliki keunggulan seperti ramah lingkungan dan tidak membutuhkan banyak dana. Dari beberapa percobaan sederhana, dua liter air laut sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan lanjutan dengan menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt mampu menghasilkan 9,2-11,8 volt.

Secara sederhana, air laut yang mengandung garam masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan. Kapasitas baterai dan aki mempengaruhi besarna arus dan tekanan yang dihasilkan. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut semakin besar, maka arus atau tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Sehingga apabila percobaan dilakukan di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Kesimpulan yang didapat adalah: lautan merupakan baterai raksasa.

Pemanfaatan energi dari lautan memberi harapan bagi kepentingan konservasi energi dan ekologi mengingat populasi manusia yang bertambah secara eksponensial. Masyarakat perlu listrik, ketersediaan udara dan air yang bersih serta tanah yang berproduktifitas. Bagaimanapun, membangun pembangkit listrik dengan bahan bakar minyak, harga jual listriknya tetap akan mahal. Tentu berbeda jika pembangkitnya menggunakan tenaga air laut, harga jual listrik relatif akan sama atau menjadi murah dan yang jelas pasti ‘berkelanjutan’

Energi lewat pembangkit listik tenaga laut juga memiliki hambatan dan tantangan secara ekologi terutama ekonomi, namun justru lebih bersih dari kemungkinan pencemaran dan dampak lingkungan lainnya. Kemampuan dan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan untuk diterapkan dan dimanfaatkan. Bahkan, jika dibandingkan dengan tenaga angin maupun tenaga matahari, hingga kini, kedua sistem tersebut masih memiliki peluang merusak alam. Apalagi jika pembangkit masih terkait dengan tenaga yang diambil dari nuklir maupun minyak bumi, bahan pemicu peningkatan panas bumi.
Hambatan secara ekologi akibat pembangkit listrik dari teknologi termodinamika dan mekanika laut ini dapat diatasi dengan pemilihan lokasi instalasi yang tepat disertai retype model alat instalasi. Sedangkan tantangan ekonomi hanya terletak pada mahalnya biaya pembangunan dalam skala besar, sebenarnya setelah beroperasi persoalan tinggal bagaimana mereduksi biaya dari proses ekstraksinya. Para ahli dunia memprediksikan biaya untuk pembangkit listrik laut akan menurun seiring dengan berkembangnya teknologi dan akan segera mendapatkan keuntungan pasar. Sekali dibangun, instalasi energi listrik laut akan memiliki biaya operasi dan perawatan yang rendah karena bahan baku utama yang digunakan bukan bahan bakar fosil namun air laut dan ini tersedia gratis selama bumi masih ada.