724. #BelandaMahGituNegaranya!

Penulis : Donny Fajar Ramadhan
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Sejak lomba menulis ini digelar hingga akhirnya akan ditutup pada hari ini, sudah banyak sekali artikel yang telah di-submit di laman hwc2015.nvo.or.id. Sangat menarik sekali memerhatikannya satu per satu. Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa Belanda, negara yang luasnya masih kalah dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat ini sangat unggul dengan berbagai inovasi yang telah diciptakan. Sehingga betul-betul #BelandaMahGituNegaranya. Kemudian saya bertanya, lantas untuk apa mengikuti kompetisi ini toh sudah bejibun gitu orang memaparkan temuan menarik atau bahkan pengalamannya seputar tema yang yang diangkat pada tahun ini. Sejurus kemudian terbesit dalam benak, tahun ini nih yang bakal jadi juara, kalau-kalau gak informatif pisan tulisannya plus sesuai dengan tema, ya paling ulasannya menarik sehingga nikmat untuk diresapi.

Pikiran pesimis seperti itupun ditepis layaknya Taufik Hidayat menangkis smash dari Lin Dan yang akhirnya mengharumkan nama bangsa. Saya mulai dari bertanya, inovasi yang telah tertuang oleh para peserta lainnya baik dari api, air, tanah, dan udara yang ada kemudian akan diapakan? Dibiarkan begitu sajakah menumpuk? Seharusnya inilah yang menjadi pertanyaan fundamental dan perlu dijawab oleh kita semua setelah men-submit. Bahwa ada related-nya antara tema esay yang berbunyi ‘Inovasi Belanda pada empat elemen kehidupan’ dengan kata yang selalu hinggap dalam dada kiri kita. Tahu? Ya: Indonesia. Saya percaya bahwa panitia lomba telah menyiapkan suatu hal yang kasat mata dibalik penyelenggaraan HWC 2015. Masak temanya kayak yang ngebangga-banggain Belanda doang karena kerennya inovasi-inovasi mereka? gumaman dalam hati. Kemudian tertutupi gumamam tersebut oleh suatu kepercayaan tadi, Bukan, Indonesia sedang dalam banyak masalah hari ini. Belanda yang jaraknya ribuan mil di Eropa sana punya segudang inspirasi yang bisa kita gunakan dan lewat kompetisi inilah tarekatnya.

Ya, setalah palu diketuk tiga kali tanda kompetisi ini berakhir, langkah selanjutnya yang perlu dan harus segera dikerjakan bersama adalah bagaimana kemudian inspirasi inovasi yang bejibun tadi itu dapat teraplikatifkan dalam kehidupan kita di tanah air tercinta ini. Bahkan tak tanggung-tanggung, beberapa peserta dengan baik hati sudah ada yang memberikan tips n trick singkatnya. Misalnya dalam penanggulangan bencana banjir yang saban tahun menyapa ibukota, Jakarta. Dalam kesempatan ini saya hanya ingin lebih mengajak kepada para peserta HWC 2015 untuk bisa mewujudakan mimpi tersirat dari panitia tersebut. Tapi kan nanti bakal susah ini itu bla bla bla, pikiran saya melayang ke horornya mengejawantahkan suatu ide namun tak banyak yang mendukung. Kebanyakan orang Indonesia seperti itu bukan? Takut untuk memulai karena tahu yang ada di depannya berat atau bahkan karena tak tahu sama sekali apa yang akan dihadapinya. Namun dibawah ini saya ingin bercerita sedikit.

Dalam kacamata perubahan sosial, dikenal ada dua macam perubahan. Suatu perubahan yang membutuhkan waktu yang lama dan diawali ataupun diikuti oleh sejumlah perubahan-perubahan kecil, disebut dengan evolusi atau perubahan yang lambat. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya usaha dari masyarakat untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru seiring dengan terjadinya perkembangan dimasyarakat secara luas. Sedangkan perubahan yang cepat mengacu pada adanya perubahan sosial yang berkaitan dengan sendi-sendi pokok kehidupan dimasyarakat seperti institusi sosial, perubahan seperti itu disebut dengan revolusi. Kecepatan perubahan revolusi bersifat relatif karena pada dasarnya revolusi dapat memakan waktu yang lama.

Evolusi contohnya kayak ngajarin anak balita bisa ngomong. Perlu bertahun-tahun kan yang perlu ditempuh. Kalau revolusi gampang banget contohnya waktu tragedi Mei 98 dimana Presiden Soeharto mundur dari jabatannya selaku Presiden RI.

Nah, untuk menerapkan ide tiga ratusan banyaknya itu yang kita perlukan adalah dengan jalan mengambil keduanya. Hal yang sederhana bisa kita utamakan terlebih dahulu, sedang yang sedikit kompleks, kita musti mendiskusikannya lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait. Pemerintah misalnya. Berkolaborasilah, maka kemudahan demi kemudahan akan kita raih.
Masih sulit. Ini nih ada kawan kita yang memaparkan bagaimana karakteristik orang Belanda. Baca, pahami, jadikan ispirasi yuk!
- “Straightforward”: mereka tidak sungkan-sungkan mengatakan opininya.
- Kritis akan keadaan sekitar: cenderung suka komplain.
- Suka membantu: apalagi untuk pelajar. Mereka tidak ragu untuk membantu kita, pelajar internasional untuk beradaptasi disini.
- Cenderung tertutup (tidak ekstrovert): kecuali jika kita sudah kenal dekat dengan mereka. Jangan salah artikan jika mereka terkesan tidak ramah dengan kita
- Individualistis: berbeda dengan budaya Indonesia yang cenderung ’keroyokan’.
- Optimis dan pekerja keras: selalu mengutamakan persaingan
- Tepat waktu: perlu diperhatikan karena budaya indonesia yang cenderung “lelet”. Mereka sangat menghargai waktu. Patut diperhatikan jika membuat janji dengan orang Belanda.
- Sangat teratur: agenda selalu ada di tangan. Janji selalu ditepati.
- “Work hard play hard”: mereka sangat mengutamakan waktu luang saat weekend.
- Menghargai orang lain: hormat terhadap orang lain, respektif terhadap pekerjaan orang lain.

Fokuslah pada kenyataan yang begitu indah di masa depan bahwa Indonesia bisa layaknya kanal-kanal indah Amsterdam, universitasya sekeren Leiden, atau sebagainya. Sehingga bayang-bayang kerumekan itu, akan terkalahkan dengan sendirinya. Kemudian betapa bangganya bila semua mimpi besar tersebut datang dari peserta dalam kompetisi HWC 2015? Inilah salah satu jalan amal saleh kita dan bukti kita pada bangsa. Ingatlah Every thousand step start with single step, right? Mari kita rapatkan barisan agar inspirasi-inspirasi ini tidak menguap layaknya kamper.

Salam Hangat,
Donny

Sumber:

http://sosbud.kompasiana.com/2014/11/28/teori-perubahan-sosial-693964.html

https://ppirotterdam.wordpress.com/living-in-rotterdam/budaya-masyarakat-belanda/