725. Matahari itu di Keukonhof

Penulis : Rilnia Metha Sofia
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Ada sebuah lukisan yang tergantung di jendela. Lukisan itu adalah paduan warna yang tertuang dalam sehelai kain nilon tua. Lukisan itu tak pernah hidup, meskipun sudah berumur lama. Bahkan debu tipis sudah menempel lekat di permukaannya. Meskipun begitu, ia dapat menceritakan kehidupan yang tertuang di dalamnya. Suatu hamparan tulip yang mengelilingi kolam kecil dengan air sebening embun. Lukisan itu, adalah lukisan keukonhof. Meski lukisan itu tak pernah hidup. Ada satu hal di baliknya yang membuat keukonhof di dalamnya selintas seperti nyata. Tepat di balik lukisan itu, tergantung sebuah lampu pijar bening dengan sinar keemasan yang mulai dinyalakan setiap hari menjelang magribh. Seolah, ada matahari senja di dalamnya yang mulai hidup setiap kali senja dalam kehidupan nyata mulai tiba.

Pijaran lampu itu, seperti pijaran matahari di Keukonhhof dalam dunia yang sesungguhnya. Matahari yang membuat seluruh tulip di tanah Belanda bisa tumbuh dengan baik. Matahari, yang dapat membuat setiap mata menyaksikan kekayaan warna tulip di seluruh tanah Keukonhof. Matahari itu yang kini menjadi salah satu bentuk kasih sayang tak terbatas Tuhan saat bahan bakar fosil dunia terus-menerus terkuras, saat biofuel pun dianggap tidak cukup banyak untuk menggantikan. Belanda sendiri mengonsumsi 18 juta liter minyak fosil per hari dengan berbagai efeknya terhadap polusi udara dan pemanasan global.

Matahari itu, dia adalah bola api yang sama dengan bola api yang sedari dulu kala mengubah air dan karbondioksida pada daun-daun menjadi bahan makanan setiap mahluk hidup di bumi, juga secara tidak langsung menjadi asal seluruh minyak bumi.

Pengeran Belanda, pada seminar di Dresden pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa, “Dengan bantuan matahari, kita dapat mengatasi masalah energi yang kita miliki.” Kini matahari pun telah menjadi salah satu inovasi Belanda sebagai sumber energi baru dalam bentuk minyak, yakni “solar fuel”. Teknologi ini adalah salah satu bentuk pembelajaran dari tumbuhan (entahlah, mungkin mereka belajar dari tuli-tulip di Keukonhof), juga dari cyanobacteria.

Solar fuel, adalah salah satu bentuk produk ilmu dan teknologi di mana energi matahari dapat ditangkap dan disimpan dalam bentuk ikatan kimia dalam bentuk hidrogen, methane, ataupun methanol. Molekul itulah yang disebut sebagai solar fuel yang tidak hanya dapat digunakan sebagai bahan bakar transportasi dan generator listrik, namun juga akan bermanfaat dalam mengatasi masalah pemanasan global ke depannya. Konsep ini bekerja seperti halnya fotosintesis alami pada tulip. Dengan bantuan sinar matahari, jika pada tulip, karbondioksida dan air diubah menjadi karbohidrat sederhana, pada solar fuel, karbondioksida yang saat ini menjadi masalah dunia dapat diubah menjadi minyak.

Ada tiga pendekatan yang digunakan pada konsep produksi solar fuel, yakni: pendekatan fotosintesis alami, fotosintesis artifisial, dan thermokimia. Sebagian besar tumbuhan, memiliki efisiensi fotosintesis yang sangat minim dalam konversi energi matahari menjadi energi kimiawi, laju konversinya kurang dari 1%. Pada cyanobacteria ataupun alga sedikit lebih baik, yakni 5-10%. Sementara pada fotosintesis artifisial, laju konversinya dapat mencapai 18 sampai 20%. Meskipun demikian, pendekatan produksi solar fuel dengan fotosintesis alami dapat menjadi harapan, tentunya dengan bantuan rekayasa genetika.

image002
Gambar 1. Fotosintesis: Proses alami untuk menghasilkan solar fuel1

Pendekatan pertama yang digunakan untuk menghasilkan solar fuel adalah dengan fotosintesis alami. Pada proses ini, beberapa organisme yang dapat melakukan fotosintesis dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak. Untuk menghindari dampak buruk pada ekosistem, organisme yang digunakan dalam teknologi ini adalah mikroorganisme yang berkembang pada air kotor. Dengan demikian, hal ini tidak akan berkompetisi dengan organisme lain yang menjadi mahluk produsen di bumi.

Pada fotosintesis artifisial, produksi solar fuel akan memanfaatkan alat yang diciptakan bekerja seperti tumbuhan. Semacam daun artifisial, yang mengubah langsung energi matahari menjadi minyak.

Pendekatan termokimia sendiri, memanfaatkan energi panas dari matahari untuk memanaskan reaktan sampai dalam suhu yang sangat tinggi sehingga menghasilkan karbon monoksida dan hidrogen yang digunakan untuk memproduksi minyak.

Entah, apapun pendekatan yang digunakan, pada hakikatnya pemanfaatan energi matahari sebagai solar fuel, mengembalikan keadaan alami bumi yang menjadikan matahari sebagai salah satu sumber energi terbesarnya. Berbagai dampak buruk pemanasan globat saat ini seperti perubahan iklim, distribusi penyakit, peningkatan suhu bumi, berkurangnya kekayaan hayati bumi, tenggelamnya begitu banyak pulau-pulau kecil diharapkan dapat segera dihentikan. Di sisi lain, dunia tidak akan lagi kekurangan minyak dengan memanfaatkan produk buang yang saat ini menjadi masalah, “karbondioksida.”
*

“Saya masih ingat saat lukisan itu dipajang pertama kali, saat itu di dinding ruang tamu saat saya baru kelas lima SD. Saya sering bertanya-tanya sendiri, itu di mana? Apa hamparan tulip di dalam lukisan itu hanya semata-mata imajinasi pelukisnya saja? Dan pertanyaan itu berlalu begitu saja, sampai saya kuliah semester tiga saya jarang memperhatikannya. Saat itu, sang lukisan tua mulai rapuh dan telah dipindahkan ke jendela. Akhirnya, entah bagaimana, saya suka sekali saat melihat pijaran lampu menyala dari baliknya, hingga saya pun tersadar bahwa matahari kecil itu ternyata bersinar di Keukonhof.”

***
Sumber:
1BioSollar Cells. 2012. Solar Fuels and Artificial Photosynthesis. Available at www.biosolarcells.nl