733. Netherlands: Memanen Minyak Abad 21

Penulis : Eka Putri Amdela
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

“Clean water is the petroleum of 21st century”

Netherlands and Water

Secara geografis Belanda terletak di Benua Eropa bagian Barat, berbatasan dengan Belgia dan Jerman. Total luas wilayahnya ialah sekitar 41.543 km2. Total luas daratannya ialah sekitar 33.893 km2 sedangkan luas perairannya sekitar 7.650 km2 (CIA, 2015). Sekitar 20% dari wilayah daratan Belanda berada di bawah permukaan laut, 21% populasinya tinggal di daratan yang tidak lebih tinggi daripada permukaan laut. Kenyataan ini diadopsi menjadi nama “Netherlands” (bahasa Belanda, artinya negeri berdaratan rendah)1.

Belanda atau Netherlands dikenal juga dengan sebutan Holland. Penyebutan Netherlands dengan Holland serupa dengan penyebutan Indonesia dan Bali. Holland (Holland Utara dan Selatan) ialah dua dari dua belas provinsi yang ada di Belanda. Karena kekuatan maritim dan ekonominya pada abad ke-17, maka sebutan Holland lebih populer dibandingkan dengan Netherlands sehingga jika ada kata “Holland”, bisa merujuk pada Belanda atau Netherland secara utuh2.

Berbicara soal air, semenjak zaman batu hingga zaman android hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari air. Dulu manusia cenderung bermukim di tempat-tempat dimana air mudah diakses. Hingga sekarang pun kita memiliki kecenderungan yang demikian. Manusia bermukin di sepanjang pinggir sungai, mengitari danau atau di sepanjang garis pantai. Karena itu jugalah Thales, Filsuf Yunani yang dinobatkan sebagai “The First Scientist” berhipotesis bahwa air adalah kausa pertama dalam alam semesta3.

Selain dikenal dengan negeri Kincir Angin, Belanda juga mendapat sebutan sebagai “Selokan Eropa” karena air sungai baru akan sampai di daratan Belanda setelah melewati berbagai macam sungai dari berbagai negara. Air yang sudah melalui perjalanan panjang ini tidak bisa dijamin kebersihannya, entah seperti apa sungai yang dilewatinya menjelang sampai ke daratan Belanda. Masuk akal juga, mengingat di Belanda tidak ada gunung yang berfungsi sebagai penyedia air bersih secara alami4.

Air tawar yang kotor dari aliran sungai, air asin yang mengepung daratan Belanda, serta daratan yang tidak terlalu tinggi membuat negara kecil ini hanya punya dua pilihan: inovasi atau mati. Jika tidak ada inovasi untuk bersahabat dengan air, mungkin Belanda sudah tenggelam sejak dulu.

Orang Belanda terus berpikir untuk membuat perbaikan demi perbaikan bagi kelangsungan hidup di negeri ini. Salah satu inovasi jangka panjang yang sudah dilakukan Belanda ialah inovasi dalam manajeman air. Dari kondisi inilah Belanda berubah menjadi master air.

Water Scarcity
Walaupun luas perairan di permukaan Bumi ialah dua per tiga dari total luas permukaan Bumi, namun tetap saja ada wilayah yang belum merdeka terhadap akses air bersih. Saat ini sebanyak 1 miliar jiwa manusia mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih, baik dalam kuantitas / jumlah maupun kualitas air. Kelangkaan air ini terjadi umumnya di negara berkembang, misalnya di Benua Afrika. Satu dari lima kematian anak dibawah umur 5 tahun disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan air bersih5.
Memanen Minyak di Abad ke-21

Trend air di masa depan bisa dibaca dengan baik oleh Belanda sehingga para scientist Belanda mendalami seluk beluk air tanpa ada kata puas. Improvement teknologi tentang air terus dilakukan hingga Belanda menjadi negara pengekspor air dan mengambil peran dalam upaya penyediaan air bersih di dunia. Dari upaya riset yang dilakukan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun inilah lahir para Water Experts untuk memanen minyak di abad ke-21, yaitu air bersih yang tak terhingga jumlahnya.

Effort Belanda dalam mengelola air dimulai dari tempat tinggal untuk membangun rumah. Rumah sulit dibangun jika tanah digenangi air. Dari sini, Belanda mengelola air untuk daratannya yang berada dibawah permukaan laut supaya tidak kebanjiran. Mungkin cara yang dilakukan Belanda bisa diadopsi untuk masalah banjir di Jakarta. Setelah itu, manajemen air di Belanda naik kelas menjadi penyediaan air bersih siap minum.

Di Belanda, tradisi untuk meningkatkan kualitas air minum sudah berumur 150 tahun. Awalnya air dinaikkan dari tanah di Amsterdam dengan harapan ada penyaringan dari pasir berkualitas baik dari gurun pasir di Amsterdam. Setelah filtrasi, pemurnian air ini dilanjutkan dengan ozonisasi dan absorbsi oleh karbon aktif tanpa chlorine hingga menjadi air keran yang siap untuk diminum4.

Belanda saat ini tidak hanya menjual air yang bisa diakses secara fisik yang ditransportasikan ke daratan, tetapi juga teknologi yang bisa diinvestasikan bagi negara-negara lain yang ingin mandiri dalam pengelolaan air bersih. Dari dedikasinya ini, reputasi Belanda diakui oleh spesialis air di Cina, Turki, Indonesia dan Meksiko5. Banyaknya inovasi yang dilakukan Belanda mengantarkan negeri kincir angin ini ke posisi 15 Negara Paling Inovatif di Dunia pada tahun 2014 versi Bloomberg6.

Teknologi yang digunakan Belanda untuk mengelola air bersih sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teknologi pemurnian air yang kita pelajari pada mata kuliah Water Management atau Bioremediasi yang diajarkan di kampus. Bedanya, kita tahu soal teori namun belum sampai pada aplikasi sekaliber Belanda. Belanda konsisten pada teknis yang kompatibel dengan kondisi alamnya, dan mendalaminya sampai bagian detail sehingga tidak sedikit inovasi muncul dari teknik dasar.

Teknik pemurnian air yang familiar misalnya teknologi membran. Teknologi membran yang diadopsi Belanda menggunakan filter berukuran 0,03 microm untuk menghasilkan air bersih. Teknologi ini ditanamkan mulai dari skala rumah tangga hingga industri6. Teknologi lain yang dikembangkan di Belanda terkait pemurnian air ialah bio-nanoteknologi. Bekerja sama dengan Delft University of Technology membuat sistem pemurnian air yang secara selektif menghilangkan kandungan pospat dari air untuk menghambat pertumbuhan mikrobia7.

Tidak ada keberhasilan dan reputasi yang bisa diraih secara instan sebagaimana membuat mi instan. Salah satu kunci keberhasilan yang menguatkan inovasi di Belanda ialah prioritas untuk melakukan inovasi. Di negeri kecil dengan populasi yang padat, perlindungan bagi lingkungan selalu menjadi prioritas. Pemerintah Belanda, pelaku bisnis dan akademisi menjadi pemerhati lingkungan dan pembuat kebijakan publik.

Limitations do not restrict our mind. Belajar dari Belanda, Indonesia juga bisa menjadi master dalam mengelola sumber daya alam. Faktor pertama yang harus ada ialah investasi dalam bidang pendidikan. Suatu negara harus punya Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan kreatif. Kemudian investasi dalam bidang teknologi, yang bisa dicapai jika kita punya SDM berkualitas dan ahli di bidangnya. Selanjutnya kita perlu dukungan dari lembaga pemerintah maupun NGO serta birokrasi yang bersahabat. Young, but mature!

Referensi:
CIA. 2015. The World Fact Book: Netherland.< https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/nl.html >. Diakses tanggal 27 April 2015.
1Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda. Diakses tanggal 27 April 2015.
2Holland. 2015. Holland: Netherlands vs. Holland. < http://www.holland.com/us/tourism/article/netherlands-vs-holland-1.htm >. Diakses tanggal 27 April 2015.
3Kusumohamidjojo, B. 2012. Filsafat Yunani Klasik, Relevansi untuk Abad XXI. Jalasutra, Yogyakarta. p.5.
4Holland: . Diakses tanggal 27 April 2014.
5The Water Project: For 1 Billion People. < http://thewaterproject.org/water_scarcity >. Diakses tanggal 27 April 2015.
6Bloomberg Rankings: Most Innovative in The World 2014 Countries. http://images.businessweek.com/bloomberg/pdfs/most_innovative_countries_2014_011714.pdf . Diakses tanggal 27 April 2015.
7Holland: Innovative Water Purification. < http://www.hollandtrade.com/media/news/?bstnum=4889 >. Diakses tanggal 27 April 2015.