764. Manajemen Resources di Belanda

Penulis : Siti Rahayu
Tema : Air, Water
=========================================================================================================================================================

Negara Belanda memiliki beberapa julukan antara lain negara dam, negara kincir angin, negara kanal, negara tulip, dan negara yang terkenal dengan sepatu kayunya. Memiliki luas wilayah 41. 526 km2 (lebih kecil dengan luas wilayah Indonesia) dimana 20% wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Kota-kota yang memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut yaitu Amsterdam, Rotterdam, dan Zeeland. Elevasi daratan terendah di negara ini berada di Rotterdam dengan ketinggian 6.76 meter (22.2 feet) berada di daerah Nieuwerkerk aan den Ijssel (bendungan terakhir yang dibangun di provinsi Zuid Holland). Daerah tertinggi berada di Vaalserberg provinsi Limburg dengan ketinggian 321 meter di atas permukaan laut.

Negara ini memiliki 21% populasi berada di bawah permukaan laut dan 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan air laut. Belanda memiliki 12 kawasan administrasi yang disebut provinsi(Gremeente) yakni Groningen, Friesland, Drenthe, Overijssel, Utrech, Flevoland, Gelderland, Noord-Holland, Zuid Holland, Noord Brabant, Zeeland, dan Limburg. Friesland terkenal dengan ternak sapi Fries, Utrech dengan pusat transportasi stasiun terbesar di Belanda, Rotterdam kota Pelabuhan, Zuid Holland dengan bendungan Ijssel, dan Groningen dengan natural gasnya.
Rotterdam merupakan kota dengan elevasi tanah terendah di Netherland. Air laut yang akan mengalir ke daratan polder dipompa menggunakan pompa pendorong dan untuk menanggulangi banjir dibuatlah tanggul (Dam). Pengaturan volume air di Kota Rotterdam menggunakan Maeslantkering yang memiliki sistem buka tutup air menggunakan kanal. Sistem ini dikendalikan oleh BOS (Beslis en Ondersreunend system) yand dikerjakan secara otomatis oleh komputer jika ketinggian air melebihi batas normal.

Negara dengan empat musim memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri. Kerugiannya yakni pertanian tidak dapat dioptimalkan secara effektif. Belanda telah mengubah kelemahan tersebut dengan menjadikan added value terendiri bagi pendapatan negaranya. Sistem pertanian berkembang pesat saat musim panas dengan irigasi dari sungai rhein yang melawati Utrech dan bermuara di Leiden membentuk delta yang luas. Dengan sistem irigasi yang unggul Beanda mampu melakukan ekspor bunga lili dan tulip terbesar di dunia, pengekspor daging terbesar di dunia dengan keju susu terbaik di dunia.

Irigasi yang stabil disertai iklim sederhana dimana di saat musim panas terasa dingin disebabkan angina barat daya menjadikan bunga tulip tumbuh subur dan bermekaran di negara ini terutama di Anna Paulowna di Noord Holland. Namun jika belum puas anda dapat menggunjungi Keukenhof (Kebun dapur) yang terletak di Lisse, Holland selatan. Penanaman bunga tulip dilakukan secara manual yang dimulai pada tahun 1949 oleh calon walikota Lisse dan dalam waktu 50 tahun kota ini menjadi kota bunga tulip terbesar di dunia. Bunga Tulip bisa tumbuh di bawah suhu 160 C dan Belanda memiliki Keukonhof dimana semula merupakan areal pertanian untuk keperluan dapur seperti tomat,sayur-sayuran dan obat-obatan berubah menjadi kebun tulip. Hal tersebut mematahkan penelitian yang dilakukan oleh payet dkk (2006) bahwa negara-negara yang mengalami perubahan iklim dengan empat musim berpotensial memiliki pendapatan yang ekspor yang rendah namun kenyataannya di FloraHolland pendapatan ekspor tulip setiap tahunnya mencapai 45.000 milyar (NewYork Times, 2014).

Pada tahun 2008 Belanda telah menyetujui energy policy dalam International Energy Agency (IEA) berisi penguatan energi terbarukan di Uni Eropa setelah Denmark dan Jerman melalui Dutch Polder model. Kesepakatan ini membahas mengenai peran Belanda dalam menyumbangkan energi listrik sekitar 16% yang dibutuhkan oleh Uni Eropa di tahun 2020. Hal ini mengindikasikan Belanda memang mampu melakukan inovasi di bidang air dan angin dalam mengelola keterbatasan sumber daya energi di negara tersebut. Menurut Statistik Netherland 8% sumber energi listrik diperoleh dengan pemanfaatan tenaga angin. Pemanfaatan energi angin dapat dikembangkan lagi namun keadaan alam tidak memungkinkan jika dilakukan di daratan. Inovasi angin berkelanjutan di Belanda dapat dilakukan dengan memanfaatkan angina laut. Penggunaan angin sebagai sumber energi listrik dipelopori oleh Chris Westra pada tahun 1970-an dan energy ini merupakan penyumbang energi terbesar ke-3 setelah Biomass dan sun and water. Pengunaan angin sebagai sumber energi listrik di Indonesia masih belum maksimal dikarenakan berbagai kendala seperti sumber daya manusia dan biaya instalasi.

Energi angin baru mampu men-supplai 12% dari energi nasional yang diperlukan. Negara kita mempunyai potensial angin laut dan angin gunung yang jauh lebih baik dari negara-negara Eropa. Kekayaan air yang melimpah dimana 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan masih belum menjadi potensi optimal dalam mensukseskan sumber energi terbarukan (Renewable energy). Bila dibandingkan dengan negara Belanda kita jauh lebih unggul dalam manajemen energi disebabkan tersedianya sumber daya alam.

Perbedaan yang dapat dibuat antara Belanda dan Indonesia dalam bidang energi yakni sebuah mentalitas unggul yang dimiliki oleh penduduk bangsa tersebut. Menurut Heppy Trenggono dalam bukunya yang berjudul Menjadi bangsa yang Unggul, Indonesia saat ini berada di titik nadir keterpurukan yang dahsyat. Gizi buruk dan buta huruf masih banyak ditemukan di wilayah ibu kota dan pelosok-pelosok nusantara, banyaknya pengganguran. Belajar kepada bangsa lain tidak dipermasalahkan, kekurangan ditempatkan sebagai tantangan yang dapat menjadi kelebihan menjadi developed country.
Belanda dapat menjadi referensi negara inovasi teknologi di bidang energi yang hebat dan layak untuk disanjung. Namun jangan lupa dengan lumbung kita sendiri. Ibarat kata Indonesia dan kita seperti Tikus mati dalam lumbung padi. Banyak pun sumber alam dan sumber manusia yang tersedia, namun jika tidak memiliki mentalitas unggul untuk maju dan berinovasi, negara ini hanya bisa melihat ke depan dengan pembenaran sekarang.

Referensi
Aswathanarayana. 2001. Water Resources Management and the Environment, A.A. Balkena, Amsterdam.
David Pimented, Michele Whitecraft, Zachary R. Scott, Leisin Zhao, Patricia Sarkiewiez, Timothy J. Scott, Jennifer Philips, Daniel Szimak, Gurpreet Singh, Daniela O. Gonzales, Tun Lin Moe. 2010. Human Ecol Journal: Will Limited Land, Water, and Energy Control Human Population Numbers in the Future? Vol. 38:599-611.
Elis Hastuti. Pengelolaan Ekosistem Pusat Pertumbuhan Kawasan Perbatasan Nunukan Sebatik. Jurnal Pemukiman Vol.2 No.3 Desember 2007. Pusat Litbang Pemukiman.
Rolph Payet and Wills Agricole. 2006. A Journal of the Human Environment: Climate Change in the Seychelles: Implications for Water and Coral Reefs. Vol. 35(4): 182-189
Miguel A. Marino and Slobodan P. Simonovic. 2001. Integrated Water resources management. UK: IAHS Press.
Paul F State. 2008. A brief History of the Netherlands. New York: An Imprint of Infobase.

http://fahmizhrblog.blogspot.com/2012/05/negara-belanda-di-tinjau-dari-segi.html

https://iqbalpermanaputra.wordpress.com/2013/01/31/ibukota-yang-nyaris-teng-gelam-3/

http://www.nesoindonesia.or.id/info-praktis/kompetiblog/live-blogging-pemenang-kompetiblog/darmawisata-ke-binnenhof-dan-maeslantkering

http://sumatracyber.blogspot.com/2013/09/3-kota-yang-dulunya-laut-disulap-jadi.html

http://100gambarbunga.blogspot.com/2014/05/menanam-bunga-tulip-di-Indonesia.html

http://www.nytimes.com/2014/12/17/world/europe/dutch-flower-auction-long-industrys-heart-is-facing-competition-.html?_r=0

http://www.eia.gov/countries/country-data.cfm?fips=nl

https://kompetiblog2013.wordpress.com/tag/kincir-angin/

http://www.geoenergi.co/read/wind/1243/potensi-tenaga-angin-indonesia-cukup-untuk-penuhi-kebutuhan-listrik/#.VT5B_9KqqZA