005. “Tahanan” berpengaruh ala Belanda

Penulis : Muhammad Rasyid Angkotasan
Tema : Water

==========================================================================================================================================================

Dimana-mana, seseorang yang disebut tahanan disinyalir pernah melakukan sebuah perbuatan yang merugikan bangsanya. Namun, sangat unik kiranya apabila seorang atau mungkin beberapa orang tahanan menjadi bermanfaat bahkan berperan besar bagi kemajuan negaranya.

image001

Negara mana saja yang memiliki tahanan berpres tasi tersebut? Mari kita tengok peta sejarah dunia. Saya akan mengajak pembaca untuk berteduh sejenak di wilayah Brazil. Sebuah penjara di Brazil, Santa Rita do Sapucai, memiliki inovasi memberdayakan para tahanannya untuk bisa menghasilkan listrik. Di penjara tersebut disediakan sepeda untuk dikayuh oleh para tahanan. Dari sepeda yang dikayuh inilah listrik dihasilkan untuk mensuplai kebutuhan listrik di kota itu. Yang unik, setiap tahanan yang mengayuh sepedanya selama 16 jam sehari, akan dikurangi masa tahanannya. Hakim di kota Santa Rita, Jose Henrique Mallman, mengatakan ide yang ia gulirkan tersebut terinspirasi dari kompensasi hukuman yang diganti dengan aktivitas lainnya. Lagi pula dengan kegiatan tersebut tahanan menjadi sehat juga. Dari pihak penjara sendiri berencana menambah sepeda tersebut, karena dengan jumlah yang cukup, secara teori, mampu mensuplai listrik satu kota.

Wah inspiratif ya!. Namun, pembaca akan lebih berdecak kagum ketika kita mengintip peta sejarah negara Belanda. Masih tentang seputar tahanan. Belanda punya cerita unik dari kisah tawanannya yang berhasil membangun sebuah kota nan cantik dar tanah yang terkena bencana yang kini namanya telah tersohor ke seluruh negeri.

Desa damai tanpa polusi

image003

Berawal dari datangnya banjir besar St Elizabeth pada tahun 1170 yang menimpa Belanda. Banyak wilayah porak poranda, salah satunya desa di kotamadya Steenwi jkerland. Desa itu sendiri didirikan dan dikembangkan kembali pada 1230 ketika tahanan Mediterania datang untuk menetap di sini. Tahanan ini seolah menemukan rumah yang diberdayakan untuk tempat tinggal mereka. Mereka membangun dengan detail sebuah desa yang awalnya carut marut tersapu banjir dan badai. Ditempat inilah kemudian berangsur dibangun rumah rumah unik nan sederhana. Banyak rumah-rumah dibangun di atas pulau-pulau kecil, dicapai melalui sebuah jembatan tinggi. Penduduk desa menggunakan perahu kecil dengan suara motor yang pelan yang dikenal sebagai kapal berbisik, dan jembatan kayu yang digunakan untuk menghubungkan.

image005

Desa Giethoorn, Kotamadya Steenwijkerland, sekitar 5 km Barat Daya Steenwijk, Provinsi Overijssel, Belanda, adalah desa unik yang seolah-olah terapung di atas air. Menurut sejumlah sumber, pada tahun 1170 terjadi banjir besar di St. Elisabeth sehingga menggenangi sebuah desa dan tidak dapat dikeringkan karena secara geografis letak daratan Belanda memang lebih rendah dari permukaan laut. Akhirnya, mereka membuat kanal sepanjang 7,5 Km dengan kedalaman 1 Meter sehingga membentuk pulau – pulau kecil yang saling terhubung dengan jembatan. Hebatnya, semua pekerjaan itu dilakukan oleh para tahanan. Ya kelompok tahanan yang diberdayakan.

image006

Desa tersebut disebut “Geytenhorn”, yang artinya tanduk kambing, karena saat itu ditemukan banyak tanduk kambing liar ya ng tewas akibat banjir tersebut. Sekarang desa tersebut disebut desa Giethoorn, yaitu sebuah desa yang seolah – olah terapung. Desa ini juga bebas polusi karena tidak ada kendaraan bermotor. Bahkan desa tersebut kerap disebut “Venesia dari Belanda” Transportasi utama di Desa Giethoorn adalah perahu dan kini sudah ada sepeda. Perahu yang digunkan bernama Perahu Berbisik atau Whisper Boat karena bebas dari kebisingan.

Tak dapat dimungkiri bahwa Belanda memang contoh negara yang selalu kuat dalam menghadapi tantangan, bahkan seberat badai sekalipun. Negara tulip ini memiliki tanah yang memang memanggil generasinya untuk berbenah dan menunjukkan pada dunia. Alam pertanian yang luar biasa nikmat dan tanah subur tempat hunian penuh pesona tumbuh di negeri Belanda. Kekayaan tanah Belanda yang sedemikian unik dan kreatif ini menjadi inspirasi negara lain untuk tumbuh dan berkembang. “tidak ada yang tidak mungkin” tanah negeri Belanda telah membuktikannya. Ada pelangi di desa Giethorn setelah amukan badai yang membuat semua orang sepakat tidak ada lagi yang tersisa. Dengan bantuan beberapa tahanan Mediteranian, Belanda bisa membuat kota cantik di tanah bekas banjir.

Pada tahun 1958, Desa Giethoorn makin terkenal karena seorang sutradara film, Bert Haanstra membuat film komedi, Fanfare di situ. Alhasil, wisatawan yang berlibur ke Belanda selalu menyempatkan diri mengunjungi desa tersebut.

Memberdayakan Tahanan Indonesia? Boleh juga

Indonesia bisa mencontoh kekayaan tanah Belanda. Jika boleh dibandingkan, kekayaan tanah Indonesia rasanya lebih dari cukup untuk membuat negeri Indonesia menjadi kaya dan berkualitas yang tentunya didukung sumber daya manusia yang kreatif. Menyoal tahanan Belanda yang secara tidak sengaja diberdayakan, Indonesia tampaknya bisa meniru kreasi ini. lumayan, tahanan Indonesia banyak jumlahnya dan tentunya memiliki pemikiran cemerlang untuk membuat negeri ini lebih baik tentunya.
(keterangan: seluruh foto dalam artikel ini diambil di situs google yang diakses pada tanggal 26 Maret 2015)