014. YUK LIRIK TEKNOLOGI “PENYEMBUH” TANAH YANG TERKONTAMINASI ALA BELANDA!!!!

Penulis : LUNYKA ADELINA PERTIWI
Tema : Earth

==========================================================================================================================================================

Warga dunia mana yang tidak mengenal Belanda, sebuah negeri yang terkenal dengan rekam jejak budaya inovasi yang sangat luar biasa. Budaya inovasi di Belanda telah banyak memberikan sumbangsih bagi kehidupan umat manusia.

image001

Pada tahun 2014, kapabilitas dan hasil inovasi Belanda menempatkan negara ini di peringkat kelima setelah Swiss, Inggris, Swedia dan Finlandia pada Global Innovation Index, yang dipublikasikan oleh Cornell University, INSEAD dan World Intellectual Property Organization. Prestasi Belanda ini tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah yang amat sangat sadar terhadap aspek apa saja perlu dibenahi di De Oranje.

Dan pemerintah Belanda juga tidak pernah mengabaikan bahwa negaranya sebagai sebuah wilayah dimuka bumi selalu akan berkaitan dengan empat elemen penting air, api, udara, dan tanah. Elemen terakhir ini sangat krusial bagi semua aktivitas sehari-hari warga Belanda. Sustainable development pun menjadi pertimbangan penting mengapa kesuburan dan kualitas tanah sangat diperhatikan oleh pemerintah. Bahkan, pemerintah Belanda melalui Kementrian Infrastruktur dan Lingkungan-nya merumuskan segudang hukum dan regulasi komprehensif terkait tanah, beberapa diantaranya Soil Protection Act (Wet bodembescherming- Wbb) dan Environmetal Protection Act (Wet milieubeheer-Wm). Soil Protection Act ini menjelaskan aturan terkait pencegahan kontaminasi tanah sedangkan Environmental Protection Act menjelaskan aturan terkait keharusan adanya izin yang dikeluarkan bagi pihak-pihak tertentu, contohnya, perusahaan, yang ingin melakukan aktivitas eksplorasi di atas tanah, seperti pendirian bangunan dan semacamnya. Kemudian Soil Remediation Circular 2009 muncul sebagai suplemen bagi Soil Protection Act dimana menjelaskan guidelines mengenai zat-zat yang dianggap berbahaya bagi tanah, kriteria remediation dan fokus tujuan dari remediation itu sendiri. Suplemen hukum ini juga sebagai bentuk penajaman dari Soil Remediation (interem) Act 1983 yang menjelaskan bahwa tanah harus dipulihkan sampai tanah itu bersih sesuai ambang batas tertentu.

image002

Mungkin saat kita bicara regulasi yang mengatur elemen tanah, kita terheran-heran, apa sebetulnya soil remediation itu sendiri? Dari sisi ini pula tulisan ini akan mengulas mengenai inovasi Belanda dalam mengembangkan teknologi soil remediation yang sangat berguna bagi peningkatan kualitas tanah di Belanda.

Pertama-tama, soil remediation secara sederhana dapat didefinisikan strategi koletif terkait pemulihan dan pemurnian tanah. Salah satu peristiwa penting yang memunculkan ide soil remediation di Belanda adalah polusi tanah di pemukiman di wilayah Lekkerkerk, dekat Rotterdam pada tahun 1980. Pada awalnya soil remediation di Belanda menggunakan berbagai pendekatan dari teknik sipil, teknik agrikultur dan geologi seperti excavation (penggalian), isolation (isolasi), groundwater extraction (ekstrasi air tanah) atau installation of sheet pile-walls (instalasi dinding penahan tanah/turap). Akan tetapi kesemua teknik ini dianggap terlalu mahal, memakan waktu lama serta membutuhkan proses isolasi dan kontrol yang ketat di site-site tertentu.

Sebagai alternatif terhadap masalah ini, Belanda akhirnya mengembangkan sebuah inovasi yaitu teknik “(energy) cost-effective in-situ soil remediation. In situ soil remediation adalah pemindahan zat-zat berbahaya dari tanah tanpa memindahkan tanah itu sendiri sehingga aktivitas yang ada diatas tanah masih bisa berlangsung dan tidak ada evakuasi manusia besar-besaran. Dari sekian banyak inovasi in situ soil remediation, electro-bioreclamation adalah metode paling populer.

Teknik electro- bioreclamation sangat ampuh untuk membersihkan kandungan kerosin, klorin, petroleum diesel, minyak, percholoroethylene (PCE), dan PAH dalam tanah dan mampu menstimulus pertumbuhan mikro organisme baik dalam tanah.

image003

image004

Lebih detailnya, bagan diatas dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Tanah dipanaskan dengan alternating current/ gelombang elektrik AC (bolak-balik) dan dikombinasikan dengan proses ekstrasi uap air tanah. Perpaduan ini akan meningkatkan temperatur di tanah yang berguna untuk mengurangi kelembapan relatif di sumber air tanah dan meningkatkan konduktivitas hidrolik di tanah. Kondisi ini kemudian akan membuat zat-zat berbahaya dalam tanah seperti PCE akan mudah terlepas dari partikel tanah. Selain itu, konsentrasi PCE dalam air tanah juga naik sehingga partikel zat ini akan mudah terlepas (groundwater extraction). Selanjutnya, tekanan uap air dari komponen-komponen organik dalam tanah meningkat saat suhu tanah naik, bersamaan dengan itu, daya larut gas dalam air tanah turut menurun. Keseluruhan tahap ini dapat juga disebut efek physicochemical.

2. Di samping proses tersebut, ada pula efek biological degradation . Tahap ini membutuhkan donor elektron (sumber karbon), nutrients (nitrogen and phosphorus), dan penerima elektron. Naiknya temperatur tanah akan merstimulus asam humat dan fulvat yang akan larut di air tanah dan dapat menimbulkan reaksi layaknya donor elektron. Proses ini kemudian akan menyebakan reaksi enhanced reductive dechloranation (ERD). Pada akhirnya, secara berkala, atom chloride akan digantikan dengan atom hidrogen yang akan mereduksi zat-zat berbahaya yang terkandung dalam tanah. Untuk lahan plume, proses pemanasan tanah bukanlah suatu keharusan kerena menginstal elektoroda tidak dianjurkan di lahan ini.

3. Pada tahap terakhir tanah akan membentuk resistance dengan menghasilkan efek Joule. Saat semua zat-zat berbahaya sudah semakin berkurang maka temperatur tanah akan menurun.
Electro-bioreclamation sudah terbukti berhasil diimplementasikan untuk memperbaiki kualitas tanah di Zeist, yang terletak di propinsi Utrecht. Zeist ini pada awalnya adalah kawasan pabrik silver yang tanahnya sudah terkena polusi chlorinated solvents seperti percholoroethylene (PCE) pada tahun 1991. Bukan itu saja, karena adanya degradasi tanah, zat-zat lain seperti trichloroethylene (TCE), a- cis-1,2-dichloroehtylene (c-DCE), volatile organic compounds (VOC) dan vinyl chloride (VC) juga turut terdeteksi. Secara total, kontaminasi di daerah ini mencakup 3.500 m².

Pemerintah daerah setempat sempat menggunakan teknik penggalian (exvacating) tanah yang terkena polusi dan memasang instalasi sistem pump and treat akan tetapi setelah bertahun-tahun teknik ini tidak berhasil memberikan progres signifikan terhadap lenyapnya zat-zat berbahaya dalam tanah di daerah tersebut. Di tahun 1998 pemerintah daerah Utrecht meminta kontraktor untuk mencari solusi atas masalah ini dan dipilihlah teknik electro-bioreclamation. Dalam kurun 2,5 tahun saja zat VOC yang terangkat sekitar 80 kg. Proses pemulihan yang berlangsung 4,5 tahun akhirnya memberikan hasil memuaskan di area yang kini sudah menjadi pemukiman penduduk.

Keberhasilan Belanda dalam in-situ soil remediation menunjang pertumbuhan sektor bisnis yang memiliki spesialisasi dan “menjual” teknologi electro-bioreclamation ini. Bahkan, negara seperti Jepang juga tertarik membeli lisensi teknologi electro-bioreclamation dari beberapa perusahaan di Belanda agar dapat diterapkan untuk memperbaiki kualitas tanahnya. Sejumlah negara seperti Swedia juga ikut terinspirasi untuk menciptakan sekaligus mengembangkan inovasi teknologi in situ soil remediation berlandaskan konsep electro-bioreclamation ini.

Singkat kata, Nothing is impossible if we work with an innovative initiative, even to mend the contaminated soil. Teknologi electro-bioreclamation ini, tidak bisa dimungkirin, telah berkontribusi secara khusus bagi pemeliharaan tanah dan lingkungan secara umum.

REFERENSI:
Godschalk, Bass. Heat the soil and Pollutuion will disappear: Electro- Reclamation of VOC. 2005. Netherlands : Hak Milieutechniek BV.
Khan, Faisal., et. al. An Overview and analysis of site remediation technologies. Journal of Environment Management 71, 2004
Roosma, Anneke., et. al. Successful Combination of Remediation Techniques at a Former Silver Factory. 2006. Wiley Interscience.
Orberg, Maja. Innovative in situ remediation techniques in the Netherlands: Opportunities and barriers to application in Sweden. 2007. Master’s Thesis at Lulea University of Technology.

http://www.environmental-expert.com/products/electro-bioreclamation-130974

http://www.hollandwater.com/en/about-us/about-holland-water-0

http://hollandsludgetechnology.com/woudenberg.html

http://www.iamexpat.nl/read-and-discuss/expat-page/news/netherlands-ranked-5th-2014-global-innovation-index

http://innovationsfromholland.com/about/